Senin, 18 Mei 2026 11:46 WIB

Mengenal Gus Awis, Figur Muda yang Dinilai Layak Pimpin PBNU

Gus Awis dinilai menjadi figur regenerasi PBNU dengan kombinasi kapasitas pesantren, akademik internasional, dan produktivitas intelektual. INPhoto/Net
Gus Awis dinilai menjadi figur regenerasi PBNU dengan kombinasi kapasitas pesantren, akademik internasional, dan produktivitas intelektual. INPhoto/Net

SURABAYA, iNFONews.ID - Wacana pergantian kepemimpinan di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai menghangat menjelang muktamar mendatang. Di tengah perdebatan soal kemungkinan petahana kembali maju, muncul dorongan dari sejumlah kalangan agar NU memberi ruang lebih besar bagi regenerasi kepemimpinan.

Dorongan tersebut tidak lahir tanpa alasan. Memasuki abad kedua, NU menghadapi tantangan yang jauh berbeda dibanding era sebelumnya. Transformasi digital, penguatan ekonomi umat, hingga modernisasi tata kelola organisasi menjadi pekerjaan besar yang membutuhkan kepemimpinan adaptif sekaligus berakar kuat pada tradisi pesantren.

Dalam konteks itu, nama Dr. KH. M. Afifuddin Dimyathi, Lc., M.A. atau Gus Awis mulai banyak diperbincangkan sebagai salah satu figur muda potensial untuk memimpin PBNU.

Sosok asal Jombang, Jawa Timur, tersebut dikenal sebagai ulama muda dengan rekam jejak akademik kuat, produktif menulis kitab, dan aktif di lingkungan organisasi NU.

Perbincangan mengenai Gus Awis semakin menguat setelah kabar peluncuran kitab terbarunya, Kunūz al-Rahmān fī Durūs al-Qur’ān. Kitab dua jilid terbitan Dar al-Nibras itu dijadwalkan diluncurkan pada 24 Mei 2026 di Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang.

Lahir dari Tradisi Pesantren Kuat

Gus Awis tumbuh dalam lingkungan pesantren dengan tradisi keilmuan dan spiritual yang kuat. Ia merupakan putra KH Dimyathi Romly dan cucu KH Romly Tamim, tokoh kharismatik sekaligus mursyid besar Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah dari Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso, Peterongan, Jombang.

Pendidikan awalnya ditempuh di Pesantren Darul Ulum. Kemampuan hafalannya dikenal menonjol sejak muda. Di bawah bimbingan KH Mufid Mas’ud dari Pondok Pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta, ia menuntaskan hafalan 30 juz Al-Qur’an dalam waktu sekitar empat bulan.

Setelah itu, Gus Awis melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Studi magister dan doktoralnya ditempuh di Khartoum International Institute for Arabic Language, Sudan, dengan konsentrasi bahasa Arab dan studi Al-Qur’an.

Aktif di Akademik dan Organisasi

Selain mengasuh pesantren dan mengajar, Gus Awis juga aktif di berbagai kegiatan akademik. Ia pernah menjadi dosen serta anggota dewan senat di sejumlah perguruan tinggi Islam.

Di lingkungan PBNU, ia dipercaya menjadi salah satu Katib Syuriyah. Perannya tidak hanya terbatas pada organisasi, tetapi juga aktif mengisi seminar nasional maupun internasional dalam bidang tafsir, moderasi beragama, dan pengajaran bahasa Arab.

Kombinasi pengalaman pesantren, akademik, dan organisasi membuat namanya dinilai mewakili generasi baru ulama NU yang mampu bergerak di ruang tradisi sekaligus dunia modern.

Produktif Menulis Kitab Berbahasa Arab

Salah satu kekuatan utama Gus Awis terletak pada produktivitas intelektualnya. Ia konsisten melahirkan karya ilmiah berbahasa Arab dengan pendekatan akademik yang mendalam.

Beberapa karya pentingnya antara lain:

  1. Kunūz al-Rahmān fī Durūs al-Qur’ān
  2. Hidāyat al-Qur’ān fī Tafsīr al-Qur’ān bi al-Qur’ān
  3. Jam’u al-Abīr fī Kutub al-Tafsīr
  4. Mawārid al-Bayān fī ‘Ulūm al-Qur’ān‘Ilm al-Tafsīr: Uṣūluhu wa Manāhijuhu
  5. Ṣafā’ al-Lisān fī I‘rāb al-Qur’ān
  6. Al-Syāmil fī Balāghat al-Qur’ān
  7. Muhāḍarāt fī ‘Ilm al-Uslūb

Karya-karya tersebut membuat namanya tidak hanya dikenal di Indonesia, tetapi juga mendapat perhatian di dunia akademik Timur Tengah.

Regenerasi dan Masa Depan NU

Bagi sebagian warga NU, regenerasi bukan sekadar pergantian figur, melainkan upaya menjaga keberlanjutan organisasi agar tetap relevan menghadapi perubahan zaman.

NU membutuhkan pemimpin yang mampu menjaga tradisi ahlussunnah wal jamaah sekaligus memahami tantangan global, teknologi, dan ekonomi umat.

Dalam pandangan banyak kalangan, Gus Awis dinilai memenuhi kombinasi tersebut: kuat dalam tradisi pesantren, memiliki jaringan akademik internasional, produktif dalam literasi keislaman, dan berpengalaman di organisasi.

Muktamar NU mendatang pun diharapkan menjadi ruang musyawarah yang sehat dan independen, tanpa dominasi kepentingan politik praktis. Sebab, arah kepemimpinan PBNU ke depan akan sangat menentukan wajah NU dalam menghadapi abad keduanya.
 
 
 
 

Editor : Alim Kusuma