ITS Surabaya Buka Diskusi Film Pesta Babi saat Nobar Banyak Dibubarkan

Reporter : Eric Setyo Pambudi
Dosen Studi Pembangunan ITS Khairun Nisa SIP MA saat menjelaskan relevansi mata kuliah Kajian Agraria dengan substansi film Pesta Babi. INPhoto/Humas ITS

SURABAYA, iNFONews.ID - Di tengah polemik pembubaran pemutaran film dokumenter Pesta Babi di sejumlah daerah, Institut Teknologi Sepuluh Nopember memilih membuka ruang diskusi akademik bagi mahasiswa.

Lewat kegiatan bedah film yang digelar Departemen Studi Pembangunan ITS pada Rabu (13/5/2026), kampus tersebut mengajak mahasiswa mengkaji isu konflik agraria dan pembangunan di Papua yang diangkat dalam film dokumenter tersebut.

Baca juga: Film Pesta Babi, Ruang Kritik dan Kedewasaan Demokrasi

Forum yang diinisiasi Himpunan Mahasiswa Studi Pembangunan (HIMADEV) itu menghadirkan jurnalis senior Harian Kompas, Ambrosius Harto Manumoyoso, serta dosen Studi Pembangunan ITS, Khairun Nisa.

Diskusi berlangsung di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap film Pesta Babi yang memuat persoalan sosial dan kebijakan pembangunan di Papua.

Dosen Studi Pembangunan ITS, Khairun Nisa, mengatakan perguruan tinggi perlu memberi ruang bagi mahasiswa untuk menguji gagasan secara kritis dan multidimensional.

“Setiap kebijakan publik pasti memiliki dampak yang berbeda bagi masyarakat. Karena itu mahasiswa perlu belajar melihat persoalan tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga sosial, budaya, dan keadilan,” ujar Icha, sapaan akrabnya.

Menurutnya, pendekatan pembangunan semestinya melibatkan partisipasi masyarakat melalui proses bottom-up agar kebijakan yang dihasilkan lebih adil dan tidak mengabaikan kelompok tertentu.

Baca juga: Doktor ITS Ciptakan Model Ergo-Safety, Solusi Baru Tekan Kecelakaan Kerja

Ia juga mengingatkan pentingnya penerapan nilai keadilan sosial dalam kebijakan strategis nasional sebagaimana diamanatkan dalam Pancasila dan Pasal 33 UUD 1945.

Sementara itu, Ambrosius Harto Manumoyoso menilai film dokumenter memiliki kekuatan membentuk kesadaran publik terhadap suatu isu.

“Film dokumenter menghadirkan realitas di lapangan. Dari situ publik diajak berpikir dan menentukan sikap terhadap persoalan sosial yang terjadi,” kata Ambro.

Menurutnya, unsur provokatif dalam karya dokumenter merupakan hal wajar selama mendorong lahirnya diskusi sehat dan pertukaran gagasan.

Baca juga: Doktor ITS Kembangkan AI Pendeteksi Jalan Rusak

Ambro juga menegaskan kampus harus tetap menjadi ruang aman bagi kebebasan berpikir dan dialektika akademik.

“Ketika ruang diskusi dibatasi, kualitas akademik ikut terancam,” ujarnya.

Melalui kegiatan tersebut, ITS menegaskan komitmennya menjaga kebebasan akademik sekaligus membangun nalar kritis mahasiswa dalam membaca dinamika pembangunan dan kebijakan publik di Indonesia.

Editor : Alim Kusuma

Photo
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru