Selasa, 21 Apr 2026 15:52 WIB

Doktor ITS Ciptakan Model Ergo-Safety, Solusi Baru Tekan Kecelakaan Kerja

Dr Ryan Pramanda Isni ST MT ketika melakukan pengambilan data untuk penelitiannya di area konstruksi Gedung Tower 3 ITS. INPhoto/Humas ITS
Dr Ryan Pramanda Isni ST MT ketika melakukan pengambilan data untuk penelitiannya di area konstruksi Gedung Tower 3 ITS. INPhoto/Humas ITS

SURABAYA, iNFONews.ID - Angka kecelakaan kerja pada proyek gedung tinggi di Indonesia masih berada di zona merah. Masalah kronis tersebut mendorong Dr. Ryan Pramanda Isni, ST., MT., lulusan program doktoral Departemen Teknik Sistem dan Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), melahirkan inovasi model ergo-safety. 

Temuan ini menggeser paradigma lama yang terpaku pada prosedur birokrasi, beralih ke perlindungan nyata terhadap kondisi fisik serta mental buruh bangunan guna memperkuat sistem K3 konstruksi.

Selama ini, standar keselamatan kerja di lapangan kerap terjebak pada aspek administratif semata. Ryan melihat ada celah besar yang luput dari pantauan: faktor manusia. 

"Sistem keselamatan yang ada cenderung kaku pada sisi manajemen. Praktik K3 sering melupakan kondisi fisik dan mental pekerja, padahal manusia adalah penentu utama di lapangan," ungkap dosen Universitas Samudra, Aceh tersebut.

Guna menutup celah itu, Ryan memadukan dua paradigma canggih, yakni Human Interface System (HIS) dan Human Factor Analysis Classification System (HFACS). 

Pendekatan ini memungkinkan perusahaan mengidentifikasi pola kecelakaan melalui interaksi antara pekerja dengan lingkungan tugas mereka.

Riset ini tidak main-main. Ryan menggandeng 28 pakar konstruksi untuk membedah kondisi lapangan yang melibatkan 277 pekerja.

Gunungan data tersebut kemudian diolah menggunakan metode Bayesian Belief Network (BBN) lewat perangkat Rstudio. Hasilnya adalah sebuah peta risiko yang mampu memprediksi probabilitas kecelakaan secara akurat.

Temuan Ryan cukup mengejutkan bagi industri konstruksi konvensional. Kelelahan fisik dan tekanan psikologis muncul sebagai variabel paling berbahaya. Saat stamina pekerja merosot atau mental mereka tertekan, risiko kecelakaan meningkat drastis.

"Hasil analisis menunjukkan bahwa perusahaan harus mulai menyusun strategi K3 yang lebih terencana. Faktor kelelahan pekerja tidak bisa lagi dianggap remeh jika ingin mengejar target nol kecelakaan," tegas pria asal Langsa ini.

Selain faktor internal manusia, Ryan mengkritik prosedur keselamatan yang berbelit. Menurutnya, regulasi yang terlalu rumit justru sering menjadi bumerang karena sulit diterapkan oleh pekerja di garis depan. 

Ia berargumen bahwa efektivitas alat pelindung diri secanggih apa pun akan sia-sia jika sistem penggunaannya menyiksa atau membingungkan pemakainya.

Melalui model ergonomi tersebut, Ryan berharap standar keselamatan konstruksi di tanah air naik kelas. 

Langkah ini sekaligus mendukung target global Sustainable Development Goals (SDGs) poin ketiga terkait kehidupan sehat dan sejahtera. 

Inovasi dari kampus ITS ini diproyeksikan menjadi kompas baru bagi pengembang gedung dalam menciptakan lingkungan kerja yang lebih manusiawi sekaligus produktif.

 

Editor : Alim Kusuma