Pilkades Sidoarjo Mei 2026 Akankah Gunakan Sistem Digital?

Reporter : Eric Setyo Pambudi
Surokim Abdus Salam (kanan) dan Rizza Ali Faizin (kiri). INPhoto/Eric

SIDOARJO, iNFONews.ID - Tradisi demokrasi desa di Kabupaten Sidoarjo sedang digoyang arus digitalisasi. Menjelang Pilkades serentak Mei 2026, desakan agar pemerintah daerah meninggalkan kotak suara kayu dan beralih ke sistem electronic voting (e-voting) kian kencang berhembus.

Sidoarjo, yang selama ini membanggakan statusnya sebagai penyangga utama Surabaya, kini merasa "tertantang" oleh kesuksesan Kabupaten Magetan. Daerah pegunungan tersebut justru sudah lebih dulu membuktikan keandalan e-voting pada hajatan desa tahun sebelumnya.

Baca juga: Hemat Anggaran, Pilkades Sidoarjo Didorong Gunakan Sistem E-Voting

Pengamat politik Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Surokim Abdus Salam, menyebut peralihan ini sebagai simbol kemajuan peradaban politik. Baginya, teknologi digital adalah jawaban telak atas tuntutan publik yang menginginkan hasil pemilu yang serba cepat dan akurat.

"Keunggulan e-voting ada pada kecepatan olah data. Ini menutup celah kecurangan yang sering muncul dalam proses manual," ujar Surokim, Rabu malam (1/4/2026).

Meski begitu, Surokim memberi catatan tebal. Migrasi ke dunia digital bukan tanpa risiko. Ia mewanti-wanti pemerintah agar tidak mengabaikan keamanan perangkat lunak. Jaminan perlindungan data dari serangan siber harus menjadi prioritas sebelum sistem ini dilepas ke bilik suara.

"Aspek safety adalah harga mati. Belajar dari pengalaman global, mengawal integritas data digital itu butuh ketelitian yang jauh lebih tinggi daripada menjaga kertas suara," tambahnya.

Baca juga: Tanpa Beban Jabatan Publik, Duet Bagus-Syadid Siap Pacu Mesin PKS Jatim

Gayung pun bersambut dari kursi parlemen. Ketua Komisi A DPRD Sidoarjo, Rizza Ali Faizin, menyatakan dukungannya secara terbuka. Politikus PKB yang akrab disapa Gus Rizza ini menilai e-voting adalah investasi yang jauh lebih efisien dan murah dalam jangka panjang.

Gus Rizza bahkan menyentil kapasitas daerahnya yang dianggap jauh lebih siap secara infrastruktur ketimbang daerah lain.

"Kalau Magetan saja bisa sukses, masa Sidoarjo tidak? Secara teknis dan mentalitas masyarakat metropolis, kita jauh lebih siap. Jangan sampai kita tertinggal dalam inovasi pelayanan publik," tegas tokoh yang juga Kasatkorwil Banser Jatim ini.

Baca juga: Achmad Amir Aslichin Berpasangan Dengan Edy Widodo, dari PDIP

Sebagai langkah awal, Gus Rizza mengusulkan agar desa-desa di kawasan perkotaan dijadikan pilot project. Desa dengan penetrasi internet stabil dan penduduk yang melek gawai bisa menjadi etalase pertama sebelum e-voting diterapkan secara massal di seluruh wilayah Sidoarjo.

Kini, bola panas ada di tangan eksekutif. Akankah Pilkades Mei 2026 menjadi sejarah baru bagi demokrasi digital di Kota Udang, atau sekadar tetap bertahan di cara lama?

Editor : Alim Kusuma

Photo
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru