Kamis, 18 Jun 2026 10:28 WIB

Rupiah Melemah, Wisatawan Malaysia Dongkrak Ekonomi UMKM Indonesia

Pakar UNAIR menilai lonjakan wisatawan Malaysia akibat rupiah melemah menjadi peluang ekonomi dan diplomasi yang belum dimanfaatkan optimal. INPhoto: Ilustrasi/Gemini
Pakar UNAIR menilai lonjakan wisatawan Malaysia akibat rupiah melemah menjadi peluang ekonomi dan diplomasi yang belum dimanfaatkan optimal. INPhoto: Ilustrasi/Gemini

SURABAYA, INFONEWS.ID - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap Ringgit Malaysia memicu lonjakan kunjungan warga Malaysia ke berbagai daerah di Indonesia. Fenomena yang terlihat di Batam, Medan, hingga Bali itu tak hanya menggerakkan sektor pariwisata, tetapi juga membawa dampak langsung bagi pelaku usaha kecil dan ekonomi lokal.

Dosen Hubungan Internasional Universitas Airlangga (UNAIR), Sarah Anabarja, menilai meningkatnya aktivitas belanja dan wisata warga Malaysia merupakan konsekuensi dari perbedaan kekuatan ekonomi kedua negara. Saat rupiah terdepresiasi, daya beli masyarakat Malaysia di Indonesia meningkat karena keuntungan selisih kurs.

Menurut Sarah, kondisi tersebut mencerminkan ketimpangan daya ekonomi atau asymmetric economic power yang diperkuat oleh kedekatan geografis dan budaya antara Indonesia dan Malaysia.

“Ketika satu saluran melemah, misalnya investasi formal, saluran lain seperti konsumsi informal justru menguat sebagai mekanisme penyeimbang alami. Ini menunjukkan karakter sistem yang tangguh secara struktural,” ujarnya.

Ia menjelaskan hubungan Indonesia dan Malaysia selama ini ditopang jaringan yang kuat, mulai dari perdagangan lokal, sektor pariwisata, hingga hubungan keluarga di kawasan perbatasan. Karena itu, pelemahan rupiah hanya menjadi pemicu yang menghidupkan kembali interaksi ekonomi yang sudah lama terbentuk.

Dalam kajian Hubungan Internasional, kondisi tersebut dikenal sebagai complex interdependence atau saling ketergantungan yang kompleks. Ketika satu sektor mengalami perlambatan, sektor lain dapat mengambil peran untuk menjaga aktivitas ekonomi tetap berjalan.

Sarah menilai manfaat terbesar dari fenomena tersebut dirasakan langsung oleh masyarakat di tingkat akar rumput. Dana yang dibelanjakan wisatawan Malaysia mengalir ke pedagang pasar, pelaku UMKM kuliner, perhotelan, hingga pengemudi transportasi daring.

“Uang yang dibawa wisatawan asing masuk langsung ke pelaku ekonomi lokal. Dampaknya jauh lebih cepat dirasakan dibanding berbagai program yang sering kali berhenti di level atas,” katanya.

Meski demikian, ia mengingatkan pemerintah agar tidak melihat tren tersebut sebagai keuntungan sesaat. Hingga kini, wisata belanja lintas batas dinilai belum menjadi prioritas kebijakan sehingga peluang ekonomi yang muncul belum dikelola secara maksimal.

Sarah menilai koordinasi antarinstansi masih berjalan sendiri-sendiri. Akibatnya, Indonesia berisiko hanya dikenal sebagai tujuan wisata murah yang ditinggalkan ketika nilai tukar kembali stabil.

“Jika pemerintah tidak segera beralih dari pendekatan reaktif ke strategi yang lebih proaktif, kondisi ini hanya menjadi berkah musiman tanpa memberikan dampak struktural bagi perekonomian jangka panjang,” ujarnya.

Untuk memaksimalkan peluang tersebut, ia mendorong penguatan infrastruktur wisata belanja melalui kemudahan pembayaran digital lintas negara, optimalisasi penggunaan QRIS antarnegara, penyederhanaan akses visa, serta perlindungan yang lebih baik bagi konsumen asing.

Selain itu, tren kunjungan wisatawan Malaysia dapat dimanfaatkan sebagai instrumen diplomasi ekonomi untuk memperkuat citra Indonesia di tingkat regional. Langkah tersebut sekaligus membuka peluang kerja sama yang lebih luas bagi UMKM Indonesia agar mampu menembus pasar Malaysia secara berkelanjutan.

Editor : Alim Kusuma