JAKARTA, iNFONews.ID - Bambang Soesatyo mengingatkan pemerintah agar tidak lengah meski Iran vs Israel memasuki fase gencatan senjata. Situasi tersebut belum menjamin stabilitas, sementara dampaknya sudah terasa hingga ke sektor ekonomi Indonesia.
Ketegangan di Timur Tengah memicu gangguan pasokan energi global. Jalur vital seperti Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dunia ikut terdampak. Harga minyak sempat menembus USD 95 per barel, diikuti kenaikan biaya pengiriman dan premi asuransi.
Kondisi itu berimbas langsung ke dalam negeri. Biaya logistik meningkat, tekanan inflasi menguat, dan nilai tukar rupiah ikut tertekan akibat sentimen global. Bank Indonesia mencatat fluktuasi kurs dalam beberapa pekan terakhir seiring meningkatnya ketidakpastian pasar.
Bamsoet menilai gencatan senjata tidak bisa dibaca sebagai akhir konflik.
“Gencatan senjata dalam perspektif geopolitik adalah jeda strategis. Masing-masing pihak memanfaatkannya untuk memperkuat posisi dan menyiapkan langkah berikutnya,” ujarnya di Jakarta, Kamis (9/4/2026).
Menurutnya, fase jeda justru kerap menjadi titik krusial. Aktivitas diplomasi di ruang publik sering berjalan bersamaan dengan konsolidasi kekuatan di balik layar, baik secara militer maupun ekonomi.
“Situasi yang tampak tenang bisa menipu. Ada proses penguatan posisi yang terus berlangsung,” kata dia.
Ia juga mengingatkan, konflik global tidak berhenti pada isu keamanan. Dampaknya merembet ke sektor perdagangan, terutama melalui kenaikan biaya logistik dan gangguan rantai pasok internasional.
Indonesia, sebagai bagian dari ekonomi global dan pemain di kawasan Indo-Pasifik, dinilai perlu memperkuat langkah antisipasi. Pemerintah didorong menjaga cadangan energi, memastikan distribusi tetap aman, serta meredam gejolak yang berpotensi menekan daya beli masyarakat.
“Indonesia harus menjaga kedaulatan ekonomi dan tidak terseret dalam pusaran kepentingan global. Diplomasi tetap dijalankan, tetapi kewaspadaan tidak boleh turun,” ujar Bamsoet.
Editor : Alim Kusuma