Kamis, 19 Feb 2026 23:28 WIB

Gen Z Enggan Jadi Atasan, Ini Dampaknya ke Perusahaan 

Dr. Elsye Tandelilin. INPhoto/Dok Pribadi
Dr. Elsye Tandelilin. INPhoto/Dok Pribadi

SURABAYA, iNFONews.ID – Media sosial tengah ramai dengan fenomena Generasi Z yang menghindari posisi manajerial. Tidak hanya di Indonesia, berbagai riset membuktikan bahwa fenomena ini sedang bergejolak secara global. 

Di tengah pro dan kontra yang berlangsung, dosen Program Studi Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Surabaya (FBE Ubaya), Dr. Elsye Tandelilin menguraikan dampak fenomena ini terhadap perusahaan. 

“Dalam dunia manajemen, fenomena ini sering disebut sebagai “The Management Gap” atau “Conscious Uncoupling from Management”. Bagi Gen Z, menduduki sebuah jabatan manajerial bukanlah sebuah prestasi, melainkan beban yang tidak seimbang dengan imbalan yang diterima” jelas Elsye. 

Dalam aspek operasional jangka pendek, Elsye menyebut fenomena ini dapat menyebabkan kekosongan kepemimpinan serta peningkatan angka pengunduran diri karyawan (turnover) pada level middle manager. 

Lebih jauh, fenomena ini dapat memicu krisis suksesi kepemimpinan pada level atas dalam jangka panjang. Kondisi finansial perusahaan juga dapat terguncang karena membutuhkan biaya tambahan guna melakukan rekrutmen eksternal dan pelatihan. 

“Dapat terjadi penurunan inovasi organisasi akibat tidak adanya ‘jembatan’ yang menghubungkan visi strategis dan eksekusi teknis dalam perusahaan,” paparnya. 

Kualitas lingkungan kerja ikut mengalami degradasi karena ketergantungan yang tinggi terhadap manajer senior. Dalam jangka pendek, para manajer senior dapat mengalami burnout yang dapat berimbas terhadap fondasi manajerial yang rapuh apabila berlangsung dalam jangka panjang. 

Menghadapi fenomena ini, Elsye merekomendasikan pendekatan Individual Contributor (IC) untuk menciptakan kondisi yang imbang antara kontribusi dengan insentif yang diterima. 

“Jangan memaksa karyawan yang kompeten untuk menerima kenaikan jabatan hanya demi kenaikan gaji, namun hadirkan sistem kompensasi yang didasarkan atas kinerja, kontribusi, atau prestasi. Mengingat 

Gen Z sangat menghindari pekerjaan administrasi, lakukan otomatisasi dengan bantuan kemajuan teknologi,” tegas Kepala Laboratorium Manajemen Sumber Daya Manusia Prodi Manajemen Ubaya ini. 

Transformasi juga harus dilakukan pada level top management. Elsye menekankan pentingnya kepemimpinan yang empati yang dibentuk melalui pelatihan agar wajah manajemen dapat berubah dari pengawas menjadi fasilitator. 

Pemimpin yang terbuka dinilai dapat memancing potensi kreativitas dan inovasi yang dapat mendukung keberlangsungan perusahaan. 

“Ciptakan komunikasi dua arah karena Gen Z tidak hanya ingin diperintah, namun juga didengar. Mereka lebih termotivasi bila pendapat mereka dianggap relevan dan diterima pimpinan,” pungkasnya. 

Editor : Alim Kusuma