Senin, 15 Jun 2026 20:23 WIB

Ubaya dan BPOM RI Perkuat Hilirisasi Riset Obat dan Pangan

Ubaya dan BPOM RI menandatangani MoU untuk memperkuat hilirisasi riset obat, pangan, dan suplemen kesehatan menuju pasar. INPhoto/Humas Ubaya
Ubaya dan BPOM RI menandatangani MoU untuk memperkuat hilirisasi riset obat, pangan, dan suplemen kesehatan menuju pasar. INPhoto/Humas Ubaya

SURABAYA, INFONEWS.ID - Universitas Surabaya (Ubaya) memperkuat langkah hilirisasi riset melalui kerja sama strategis dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI). Kolaborasi ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Rektor Ubaya Dr. Benny Lianto dan Kepala BPOM RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., di Kampus Ubaya Tenggilis, Senin (15/6/2026).

Kesepakatan itu menjadi landasan pengembangan kerja sama di bidang obat dan makanan selama lima tahun ke depan. Program kolaborasi akan melibatkan berbagai fakultas dan unit di lingkungan Ubaya bersama BPOM RI serta Balai Besar POM Surabaya.

Rektor Ubaya, Benny Lianto, menilai kemitraan tersebut menjadi langkah penting untuk menghubungkan hasil penelitian kampus dengan kebutuhan industri dan masyarakat.

"Riset-riset hebat tidak boleh berhenti pada laporan penelitian atau artikel ilmiah. Hasil riset harus diarahkan menuju hilirisasi, menjadi produk yang diadopsi industri, masuk ke pasar, dan memberikan manfaat nyata bagi kesehatan serta kesejahteraan masyarakat," ujarnya.

Menurut Benny, kerja sama dengan BPOM menjadi bagian dari transformasi Ubaya menuju entrepreneur university yang tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga inovasi yang memiliki dampak ekonomi dan sosial.

Kolaborasi itu merupakan kelanjutan hubungan yang telah terjalin sebelumnya melalui Pusat Unggulan Iptek Produk Pangan dan Suplemen Kesehatan untuk Kondisi Degeneratif (PUI Pasdeg) Ubaya bersama Balai Besar POM Surabaya.

Sejumlah kegiatan juga telah dilakukan kedua institusi, mulai dari studi ekskursi, kerja praktik mahasiswa, kunjungan akademik, hingga kuliah tamu.

Usai penandatanganan MoU, Kepala BPOM RI Taruna Ikrar memberikan kuliah tamu kepada ratusan mahasiswa Fakultas Farmasi, Fakultas Kedokteran, dan Fakultas Teknobiologi.

Dalam paparannya yang berjudul Dari Penelitian ke Pasar: Peran BPOM dalam Mendukung Hilirisasi Inovasi Produk Pangan, Suplemen Kesehatan, Kosmetik, Obat Bahan Alam, dan Obat yang Aman, Bermutu, dan Bermanfaat bagi Masyarakat, Taruna menekankan pentingnya hilirisasi di tengah tantangan global.

"Saat ini hanya sekitar 6 persen bahan baku obat yang dapat diproduksi di dalam negeri, padahal Indonesia memiliki populasi terbesar keempat di dunia. Di tengah dinamika geopolitik global, hilirisasi menjadi semakin penting. Kita memiliki modal besar berupa biodiversitas terbesar kedua di dunia," katanya.

Taruna menjelaskan, proses membawa hasil riset ke pasar membutuhkan dukungan ekosistem yang melibatkan akademisi, industri, dan pemerintah. Karena itu, BPOM berupaya menghadirkan regulasi yang mampu menjaga kualitas produk sekaligus mendorong inovasi.

Ia memperkenalkan konsep kolaborasi ABG (Academia, Business, Government) sebagai model pengembangan riset yang terintegrasi dari laboratorium hingga tahap komersialisasi.

"Perguruan tinggi menghasilkan riset dan inovasi. Industri membantu mengembangkan serta mengomersialkan hasil penelitian. Pemerintah melalui BPOM memastikan produk yang dihasilkan memenuhi standar keamanan, mutu, dan manfaat sebelum hadir di masyarakat," ujarnya.

Melalui kerja sama tersebut, Ubaya berharap semakin banyak hasil penelitian di bidang pangan, suplemen kesehatan, kosmetik, obat bahan alam, dan farmasi yang mampu menembus pasar serta memberi nilai tambah bagi perekonomian nasional.

Editor : Alim Kusuma