Jumat, 30 Jan 2026 16:30 WIB

BMKG Keluarkan Peringatan Siklon, DPRD Jatim Minta EWS Dioptimalkan

Badai siklon diperkirakan melintasi wilayah Pulau Jawa. INPhoto: Ilustrasi/ChatGptImages
Badai siklon diperkirakan melintasi wilayah Pulau Jawa. INPhoto: Ilustrasi/ChatGptImages

SURABAYA, iNFONews.ID – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Timur meminta Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama pemerintah kabupaten/kota meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi badai siklon yang diperkirakan melintasi wilayah Pulau Jawa. 

Langkah ini dinilai penting untuk meminimalkan risiko bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem.

Wakil Ketua DPRD Jawa Timur, Blegur Prijanggono, mengatakan peringatan dini yang telah disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) harus dijadikan dasar penguatan mitigasi, bukan malah menimbulkan kepanikan di masyarakat. Hal tersebut disampaikannya di Surabaya, Senin (5/1/2026).

Menurut Blegur, perubahan iklim global menyebabkan pola cuaca semakin tidak menentu dan berpotensi memicu berbagai bencana alam. 

Oleh karena itu, pemerintah daerah dituntut lebih sigap dan terukur dalam mengambil langkah antisipasi.

“Kondisi tersebut menuntut pemerintah daerah lebih siap menghadapi potensi cuaca ekstrem, termasuk badai siklon, hujan lebat, angin kencang, serta risiko banjir dan longsor,” ujar Blegur.

Sekretaris DPD Partai Golkar Jawa Timur itu menekankan pentingnya sinergi antara Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan pemerintah kabupaten/kota. 

Ia menilai pemetaan wilayah rawan bencana harus diperbarui secara berkala agar langkah mitigasi dapat dilakukan lebih tepat sasaran.

Selain itu, Blegur mendorong agar informasi cuaca dan peringatan dini dari BMKG disosialisasikan secara masif hingga ke tingkat desa. 

Menurutnya, pemahaman masyarakat menjadi faktor kunci dalam mengurangi dampak bencana.

Salah satu instrumen penting dalam mitigasi bencana, lanjut Blegur, adalah Early Warning System (EWS). 

Ia meminta Pemprov Jatim memastikan seluruh perangkat EWS yang ada di berbagai daerah berfungsi secara optimal dan terawat dengan baik.

“Sistem tersebut harus dipastikan berfungsi dengan baik sebagai bagian dari upaya mitigasi risiko bencana,” tegasnya.

Blegur juga mencontohkan praktik di sejumlah negara maju yang mampu menekan korban jiwa dan kerugian material berkat sistem peringatan dini yang kuat serta koordinasi lintas sektor yang solid.

“Dengan kesiapan dan peringatan dini yang baik, dampak bencana dapat diminimalkan,” pungkasnya.

 

Editor : Alim Kusuma