SURABAYA, INFONews.ID — Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menerima Fatima Al-Fihriya Award 2026 atas kiprahnya dalam kepemimpinan perempuan dan pemberdayaan sosial. Penganugerahan berlangsung di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jumat (6/11/2026), malam.
Penghargaan itu diberikan kepada tokoh perempuan yang memiliki kontribusi nyata di bidang pendidikan, kemanusiaan, dan pemberdayaan masyarakat. Edisi keenam tahun 2026 diselenggarakan di Indonesia melalui kolaborasi Asosiasi Profesor Muslimat NU, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Programme MED 21, Association de Soutien au Programme MED 21, dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Selain Khofifah, empat tokoh perempuan lain juga menerima penghargaan yang sama, yakni Sinta Nuriyah Wahid (Ibu Negara RI periode 1999–2001 sekaligus Wantimpres), mantan Presiden Singapura Halimah Yacob, Bassima Hakkaoui dari Maroko, dan Neziha Labidi dari Tunisia.
Khofifah menyatakan rasa syukur dan mendedikasikan penghargaan tersebut kepada para perempuan serta relawan yang selama ini mengabdi kepada masyarakat.
“Saya bersyukur dan merasa terhormat atas penghargaan yang dianugerahkan kepada saya. Kehormatan ini saya dedikasikan kepada para perempuan Jawa Timur dan Indonesia, kader Muslimat NU, kader organisasi wanita lainnya, juga para relawan sosial,” ujarnya usai menerima anugerah.
Ia mengajak seluruh pihak meneladani Fatima al-Fihriya, tokoh perempuan yang lebih dari seribu tahun lalu mewakafkan hartanya untuk mendirikan Masjid al-Qarawiyyin di Fez, Maroko. Masjid itu kemudian berkembang menjadi pusat keilmuan dan salah satu universitas tertua di dunia.
“Kepedulian beliau berangkat dari kebutuhan masyarakat di sekitarnya. Manfaatnya kemudian dirasakan para pencari ilmu jauh melampaui masa hidup beliau. Di situlah saya melihat makna kepemimpinan perempuan. Ketika mendapat amanah, kita memiliki kesempatan untuk membuka jalan bagi perempuan lain agar dapat belajar, mandiri, dan ikut menentukan keputusan yang memengaruhi kehidupan mereka,” kata Khofifah.
Pengalaman panjang bersama Muslimat NU, menurutnya, mengajarkan pentingnya kepemimpinan yang dekat dengan masyarakat. Para kader mengenal keluarga yang mereka dampingi, memahami kesulitan akses kesehatan, kebutuhan pendidikan anak, hingga pemberdayaan ekonomi.
“Kepercayaan warga tumbuh karena para kader hadir dan mendengarkan. Dari merekalah saya belajar bahwa mendengar dengan sungguh-sungguh merupakan bagian penting dari memimpin,” tegasnya.
Prinsip itu terus ia bawa dalam berbagai amanah, mulai dari anggota DPR RI, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Menteri Sosial, hingga Gubernur Jawa Timur. Di Jawa Timur, pemberdayaan perempuan digalakkan antara lain melalui program Kewirausahaan Inklusif Produktif Perempuan Tangguh Mandiri Jawa Timur Sejahtera (KIP Putri Jawara) yang memberikan bantuan modal usaha kepada perempuan yang menghadapi keterbatasan ekonomi, termasuk mereka yang menjadi tulang punggung keluarga.
Khofifah menekankan perlunya melibatkan perempuan sejak tahap perencanaan program agar kebijakan lebih tepat sasaran. Ia juga menggarisbawahi pentingnya kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, dan organisasi masyarakat, serta prinsip No One Left Behind—tidak seorang pun boleh tertinggal, termasuk perempuan penyandang disabilitas dan mereka yang tinggal di wilayah terpencil.
“Tidak cukup hanya mengandalkan laporan perangkat daerah. Apakah program sudah berjalan dan jangkauan layanan sudah dirasakan masyarakat atau belum?” ujarnya.
Perwakilan lembaga pemberi penghargaan dari Forum Azzahra for Moroccan Women sekaligus Ketua Asosiasi Program Mediterania 21 dari Tunisia, Muhammad Al Arabi bin Athiyyah, mengapresiasi dukungan Gubernur Khofifah yang memfasilitasi penyelenggaraan The Sixth Fatima Al-Fihriya Awards 2026 di Indonesia.
“Terima kasih kepada Ibu Khofifah yang telah memberikan fasilitas untuk mengadakan The Sixth Fatima Al-Fihriya Awards 2026. Semoga ini menjadi penyemangat bagi seluruh perempuan di dunia,” kata Muhammad.
Sinta Nuriyah Wahid dianugerahi atas dedikasinya dalam advokasi kemanusiaan dan kesetaraan gender. Halimah Yacob menerima penghargaan atas kiprahnya dalam kepemimpinan perempuan, keadilan sosial, dan tata kelola. Bassima Hakkaoui diapresiasi atas kontribusinya dalam pemberdayaan perempuan dan kebijakan sosial, sedangkan Neziha Labidi atas pengabdiannya di bidang hak perempuan dan anak serta pembangunan keluarga.
Acara dihadiri antara lain Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifatul Choiri Fauzi, Wakil Menteri Luar Negeri RI Anis Matta, Ketua Asosiasi Profesor Muslimat NU Amany Lubis, jajaran Forkopimda Jawa Timur, serta para kepala perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. (*)
Editor : Tudji Martudji