Senin, 17 Agu 2026 17:38 WIB

Cinema Visit Film Istimewa Ditutup di Surabaya, Bawa Pesan tentang Kemanusiaan

Salah satu adegan dalam film "Istimewa".
Salah satu adegan dalam film "Istimewa".

INFONEWS.ID - Surabaya menjadi kota terakhir dalam rangkaian cinema visit film “Istimewa” di Pulau Jawa. Bertempat di XXI Pakuwon Mall Surabaya, Sabtu (15/8), para pemain film Istimewa, Yanni Melwani, Prija Iska (Priijay), dan Rein, hadir langsung menyapa penonton.

Kehadiran para pemain sekaligus menutup perjalanan cinema visit film Istimewa yang sebelumnya menyambangi sejumlah kota, yakni Bandung, Semarang, Solo, dan Yogyakarta.

Perjalanan tersebut menjadi pengalaman tersendiri bagi para pemain. Dari satu kota ke kota lainnya, mereka bertemu langsung dengan penonton yang telah menyaksikan kisah lima anak di Rumah Istimewa.

Film ini mengangkat cerita tentang keluarga, penerimaan, persahabatan, dan kasih sayang. Respons penonton di setiap kota pun beragam dan emosional.

Di Surabaya, pertemuan dengan penonton menjadi penutup rangkaian cinema visit Istimewa di Pulau Jawa sebelum film tersebut melanjutkan perjalanan ke berbagai wilayah Indonesia.

Bagi para pemain, kesempatan melihat secara langsung respons penonton menjadi salah satu pengalaman penting dalam perjalanan film Istimewa menuju layar lebar.

Yanni Melwani mengatakan, cinema visit menjadi kesempatan bagi para pemain untuk mengetahui secara langsung bagaimana cerita Istimewa diterima masyarakat.

“Setiap kota punya respons yang berbeda, tapi yang paling membahagiakan adalah ketika penonton bisa ikut merasakan cerita dan kemudian melihat teman-teman Istimewa dengan cara yang lebih dekat. Semoga rasa yang dibawa dari bioskop bisa terus mereka bawa setelah film selesai,” ujar Yanni Melwani.

Sementara itu, Prija Iska atau Priijay berharap perjalanan film Istimewa tidak berhenti setelah rangkaian cinema visit di Pulau Jawa berakhir.

“Buat saya, perjalanan film ini bukan hanya tentang datang ke satu kota, bertemu penonton, lalu selesai. Yang lebih penting adalah apa yang penonton bawa pulang setelah melihat filmnya. Semoga semakin banyak orang yang terbuka untuk melihat seseorang bukan dari keterbatasannya, tetapi dari dirinya sebagai manusia,” kata Priijay.

Hal senada disampaikan Rein. Menurutnya, respons penonton menjadi bagian penting dari perjalanan film Istimewa dalam menyampaikan pesan tentang penerimaan.

“Senang bisa melihat sendiri bagaimana penonton merespons film ini. Semoga Istimewa bisa membuat kita lebih terbuka dan tidak cepat memberikan label kepada orang lain, karena setiap orang punya cerita dan keistimewaannya sendiri,” ujar Rein.

Produser film Istimewa, Abdullah Mansuri atau yang dikenal sebagai Pak Mansuri dan Ayah Mans, menilai perjalanan cinema visit dari satu kota ke kota lainnya menunjukkan bahwa pesan yang dibawa film dapat diterima masyarakat dengan latar belakang berbeda.

“Kami sangat bersyukur bisa membawa Istimewa bertemu langsung dengan penonton di banyak kota. Dari perjalanan ini saya melihat bahwa pesan film ini sebenarnya universal. Kita semua punya perbedaan, punya kekurangan, dan punya cerita masing-masing. Tapi yang ingin saya ingatkan adalah jangan sampai kekurangan menjadi cara kita mendefinisikan seseorang,” ujar Ayah Mans.

Menurutnya, film Istimewa tidak hanya berbicara tentang teman-teman disabilitas. Pesan yang ingin disampaikan jauh lebih luas, yakni mengajak masyarakat untuk belajar menerima orang lain sekaligus menerima dirinya sendiri.

“Kalau kita sudah bisa melihat teman-teman Istimewa dengan lebih terbuka, saya berharap kita juga bisa melihat diri sendiri dengan cara yang sama. Tidak ada manusia yang sempurna. Kita semua punya sesuatu yang mungkin kita anggap sebagai kekurangan, tapi justru itu yang menjadi bagian dari cerita dan membuat kita berbeda. Jadi saya percaya, setiap orang punya keistimewaannya masing-masing,” lanjut Ayah Mans.

Penutupan cinema visit film Istimewa di Surabaya bukan menjadi akhir dari pesan yang dibawa film tersebut. Perjalanan itu menjadi satu titik sebelum Istimewa kembali menyapa penonton di berbagai wilayah Indonesia.

Dari Bandung hingga Surabaya, pertemuan dengan penonton menunjukkan bahwa sebuah film dapat menjadi lebih dari sekadar cerita ketika penonton menemukan bagian dari dirinya di dalamnya.

Istimewa hadir untuk mengingatkan bahwa melihat seseorang hanya dari keterbatasannya berarti melewatkan begitu banyak hal yang membuatnya menjadi manusia.(yan)

Editor : Alim Kusuma