SURABAYA, INFONEWS.ID - Perjuangan peserta Seleksi Mandiri Universitas Airlangga (UNAIR) 2026 datang dari berbagai daerah di Indonesia. Salah satunya Ayudhya Sekarwangi, peserta asal Nunukan, Kalimantan Utara, yang rela melepas statusnya sebagai mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di Semarang demi mengejar cita-cita kuliah di Program Studi Gizi UNAIR.
Bagi Ayudhya, keputusan tersebut bukan pilihan yang diambil secara mendadak. Setelah gagal lolos ke UNAIR pada tahun sebelumnya, ia tetap melanjutkan kuliah di Semarang. Namun sejak hari pertama menjadi mahasiswa, ia sudah bertekad mencoba kembali mengikuti seleksi masuk UNAIR.
Baca juga: Sincafest 2026 SMA Santo Carolus Surabaya Angkat Rona Nusantara, Panggung Siswa Penuh Warna
"Saya memang sudah berniat mencoba lagi tahun berikutnya. Persiapannya mulai saya cicil sejak sekitar enam bulan lalu, bahkan sejak masa orientasi mahasiswa," ujarnya usai mengikuti ujian Seleksi Mandiri UNAIR, Sabtu (27/6/2026).
Selama menjalani kuliah di Semarang, Ayudhya membagi waktu antara aktivitas perkuliahan dan persiapan menghadapi ujian. Ia mengikuti bimbingan belajar sekaligus rutin mengerjakan latihan soal agar peluang lolos semakin besar.
Ayudhya mengaku Program Studi Gizi UNAIR sudah menjadi target utamanya sejak lulus SMA. Reputasi kampus yang dikenal sebagai salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia menjadi alasan terbesar dirinya kembali mengikuti seleksi.
Selain kualitas pendidikan, faktor kedekatan Surabaya dengan kampung halamannya di Kalimantan Utara juga menjadi pertimbangan.
Baca juga: Kasus DBD Meningkat, Cuaca Ekstrem Jadi Pemicu Utama
"Kalau kuliah di Surabaya, pilihan transportasinya lebih banyak. Mau naik pesawat atau kapal juga lebih mudah untuk pulang ke rumah," katanya.
Perjalanan jauh dari Semarang menuju Surabaya terbayar setelah Ayudhya merasakan suasana ujian di kampus UNAIR. Ia mengaku mendapat kesan positif sejak tiba di lokasi.
Menurutnya, panitia memberikan pelayanan yang membuat peserta lebih nyaman sebelum menghadapi ujian, termasuk menyediakan roti dan teh sebagai sarapan.
Baca juga: Lulus SMA, Puluhan Siswa Santo Carolus Surabaya Raih Kampus Impian
"Saya benar-benar tidak menyangka. Sebelum ujian kami diberi roti dan diminta makan dulu. Jadi rasa gugupnya sedikit berkurang. Meski begitu, saat mengerjakan soal tetap menegangkan karena waktunya hanya 55 menit," tuturnya sambil tersenyum.
Ayudhya berharap perjuangan yang telah dipersiapkannya selama berbulan-bulan membuahkan hasil. Jika diterima di UNAIR, ia berencana langsung mengundurkan diri dari kampus sebelumnya dan memulai kehidupan baru sebagai mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat UNAIR.
Tak hanya ingin fokus kuliah, ia juga bertekad aktif mengikuti berbagai kompetisi dan bergabung dalam organisasi kemahasiswaan untuk mengembangkan kemampuan selama menempuh pendidikan di Surabaya.
Editor : Alim Kusuma