KEDIRI, iNFONews.ID – Kerusakan lingkungan tidak hanya menjadi persoalan ekologis, tetapi juga dipandang sebagai pelanggaran terhadap tujuan utama syariat Islam atau maqashid syariah. Gagasan tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional bertajuk "Eksploitasi Lingkungan sebagai Bentuk Pelanggaran Maqashid Al-Syariah" yang digelar Himpunan Mahasiswa Program Studi Hukum Keluarga Islam (HMPS HKI) Fakultas Syariah Institut Agama Islam Fakih Asy’ari (IAIFA) Kediri, Jumat (12/6/2026).
Sebanyak 120 peserta menghadiri kegiatan yang juga diikuti perwakilan organisasi mahasiswa dari berbagai kampus, termasuk Badan Eksekutif Mahasiswa IAI Hasanuddin Kediri. Seminar menghadirkan Dekan Fakultas Syariah IAIFA, Dr. Miftahul Arif, M.HI., dan pegiat lingkungan dari ECOTON, Alaika Rahmatullah.
Baca juga: Strategi Raksha Loka Jakarta Tekan Timbulan Sampah Acara Massal
Dalam paparannya, Miftahul Arif menilai krisis lingkungan yang terjadi saat ini berakar pada menurunnya kesadaran spiritual manusia terhadap alam. Menurutnya, manusia kerap menempatkan diri sebagai pusat kehidupan sehingga memandang alam hanya sebagai objek eksploitasi.
"Kerusakan lingkungan sejatinya berawal dari krisis spiritual. Ketika alam kehilangan nilai sakralnya, manusia merasa bebas menguasai dan mengeksploitasinya," ujarnya.
Ia menjelaskan, Islam memandang pelestarian lingkungan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari tujuan syariat. Karena itu, menjaga alam menjadi syarat penting untuk melindungi kehidupan manusia dan keberlangsungan generasi mendatang.
Miftahul mengutip pandangan cendekiawan Muslim Mustofa Abu Sway yang memasukkan Hifdhul Bi'ah atau menjaga lingkungan sebagai salah satu tujuan Islam.
"Tanpa lingkungan yang lestari, perlindungan terhadap agama, jiwa, keturunan, dan tujuan syariat lainnya tidak akan terwujud," katanya.
Menurut dia, rendahnya kepedulian masyarakat terhadap lingkungan dipengaruhi kebiasaan yang diwariskan secara turun-temurun serta minimnya edukasi. Karena itu, konsep Fiqhul Bi'ah atau fikih lingkungan perlu diperkenalkan lebih luas, terutama kepada generasi muda dan kalangan pesantren.
Ia berharap pendidikan lingkungan dapat menjadi bagian dari pembelajaran santri, tidak hanya terbatas pada aspek ibadah.
"Santri perlu memahami bagaimana memperlakukan lingkungan melalui kebiasaan sederhana, seperti membuang sampah pada tempatnya dan mengurangi penggunaan plastik," ucapnya.
Baca juga: Penelitian Pelajar Surabaya Temukan Mikroplastik di Kali Tebu
Sementara itu, Alaika Rahmatullah memaparkan kondisi darurat sampah plastik yang dihadapi Indonesia. Ia menyebut produksi sampah plastik nasional mencapai sekitar 8 juta ton per tahun, namun hanya sebagian kecil yang berhasil dikelola secara optimal.
Alaika juga mengingatkan prediksi United Nations Environment Programme (UNEP) yang menyebut jumlah sampah plastik di lautan berpotensi melampaui populasi ikan pada 2050 jika tidak ada perubahan signifikan dalam pengelolaan limbah.
Menurutnya, pola lama pengelolaan sampah yang hanya berorientasi pada pengumpulan, pengangkutan, dan pembuangan sudah tidak relevan.
"Permasalahan sampah harus diselesaikan langsung dari sumbernya. Masyarakat perlu mulai memilah dan mengurangi sampah sejak dari rumah," ujarnya.
Diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai pertanyaan dari peserta. Banyak mahasiswa mengaku baru memahami keterkaitan antara pengelolaan sampah, kesehatan lingkungan, dan ajaran agama setelah mengikuti seminar tersebut.
Baca juga: Kali Tebu Surabaya Dipenuhi Popok, Relawan Angkat 2,4 Ton Sampah
Salah satunya Halim, mahasiswa semester akhir IAIFA asal Jambi. Ia menilai materi mengenai bank sampah dan pengelolaan limbah memberikan perspektif baru yang belum pernah diperoleh selama masa kuliahnya.
"Saya jadi memahami pentingnya pengelolaan sampah yang terstruktur. Konsep bank sampah sangat menarik karena bisa diterapkan di lingkungan kampus maupun pesantren," katanya.
Dari forum tersebut muncul gagasan kolaborasi lanjutan antara IAIFA, Pondok Pesantren Darussalam, dan ECOTON untuk membangun sistem pengelolaan sampah mandiri. ECOTON menyatakan siap memberikan pendampingan, mulai dari edukasi pemilahan sampah hingga pembentukan bank sampah yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.
Melalui sinergi antara akademisi dan pegiat lingkungan, seminar tersebut diharapkan menjadi langkah awal lahirnya gerakan nyata pelestarian lingkungan berbasis nilai-nilai Islam di lingkungan kampus dan pesantren.
Editor : Alim Kusuma