SURABAYA, iNFONews.ID - Masalah kesehatan mental remaja dinilai semakin mengkhawatirkan dan membutuhkan perhatian serius dari dunia pendidikan. Universitas Airlangga menilai sekolah perlu mengubah pendekatan kesejahteraan siswa agar tidak berhenti sebagai program seremonial semata.
Dosen Fakultas Psikologi UNAIR, Dr Wiwin Hendriani SPsi MSi, mengatakan tantangan kesehatan mental remaja di Asia Tenggara semakin kompleks akibat tingginya stigma, terbatasnya akses layanan psikologis, hingga maraknya kasus perundungan.
Baca juga: Jadwal dan Syarat Mandiri Prestasi UNAIR 2026, Cek Peluang Lolosnya!
Ketua Program Studi Magister Psikologi UNAIR itu menyebut persoalan kesehatan mental tidak lagi bisa dipandang sebagai isu tambahan di lingkungan pendidikan.
“Kesejahteraan dalam pendidikan bukan isu sampingan. Di Asia Tenggara, tantangannya bukan hanya prevalensi gangguan mental, tetapi juga visibilitas dan akses bantuan yang masih rendah akibat stigma,” kata Wiwin, Minggu (11/5).
Ia memaparkan, satu dari tujuh remaja di dunia mengalami gangguan mental. Sementara kawasan Asia Pasifik menampung sekitar 60 persen populasi remaja global. Bahkan, bunuh diri kini masuk dalam lima besar penyebab kematian remaja dunia.
Baca juga: Bahaya Nanoplastik, Ecoton Ungkap Temuan Mengejutkan
Menurut Wiwin, banyak program well being di sekolah gagal bertahan karena hanya dianggap sebagai kegiatan tambahan atau sekadar proyek jangka pendek. Program semacam itu umumnya bergantung pada individu tertentu tanpa terintegrasi dalam budaya sekolah sehari-hari.
“Kita harus berhenti melihat kesehatan mental sebagai intervensi yang terpisah. Pendekatannya harus menjadi bagian dari ekosistem sekolah, mulai ruang kelas hingga kebijakan lembaga,” ujarnya.
Ia menilai sekolah perlu membangun sistem kesejahteraan yang terukur, adaptif, dan sesuai dengan kondisi lingkungan masing-masing. Konsistensi penerapan dinilai menjadi faktor penting agar program kesehatan mental benar-benar berdampak bagi siswa.
Baca juga: Dosen UNAIR Berbagi Resep Penguatan Literasi Keuangan bagi UMKM Pasca-Bencana
Wiwin berharap para pendidik dan pengambil kebijakan mulai merancang sekolah yang tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga menjadi ruang aman bagi perkembangan mental dan emosional peserta didik.
Menurut dia, kesehatan mental yang terjaga akan berpengaruh langsung terhadap kemampuan belajar, relasi sosial, hingga masa depan remaja dalam jangka panjang.
Editor : Alim Kusuma