Dari Film The Menu

Fotografer Era Digital: Menolong atau Memotret, Melerai atau Merekam?

infonews.id
Kehadiran telepon pintar dan media sosial sering menarik kita ke situasi dilematis. INPhoto/Ilustrasi Gemini

Oleh: Soeparli D. Atmadji
Mantan Wartawan, Pengamat dan Penyuka Film

INI merupakan bayar janji saya kepada diri sendiri, yakni Kembali menulis tentang film. Tapi, saya ingatkan dulu, ini bukan review. Ini bukan resensi. Dulu, saya sering menulis resensi, tapi belakangan saya menghindarinya.

Baca juga: AI Campus iSTTS Meracik Formula Jurnalisme Cerdas Tanpa Kehilangan Integritas

Bukan apa-apa. Kasihan filmnya, juga kasihan yang baca. Jadi, mari kita ngomongin film dengan cara lain.

Kali ini, kita akan ngomongin The Menu. Bukan The Menu film Hollywood rilisan 2022 arahan Mark Mylod, yang dibintangi Anya Taylor-Joy dan Ralph Fiennes. 

The Menu yang kita omongin kali ini adalah film Hongkong yang dirilis 2016, disutradari Ben Fong, dibintangi Catherine Chau, Gregory Wong, Ng Man-tat, dan Kate Yeung. Meski judulnya The Menu, film ini sama sekali tidak berhubungan dengan makanan. Ia bicara media, berita, dan pemberita. 

Sebetulnya, ada tiga hal yang akan kita omongin dari film ini. Tulisan ini hanya akan membahas satu topik saja,  dua lainnya akan kita omongin dalam tulisan berikutnya.

Di awal film ini, ada adegan seorang fotografer membidik seorang anak yang sedang bermain di bawah scaffolding yang goyah setelah dihantam minibus. Sepertinya, tidak lama lagi scaffolding itu akan ambruk dan menimpa si bocah. 

Kita omongin adegan ini karena situasi tersebut bisa dibilang mewakili dilema moral etis klasik seorang fotografer. 

Ibarat buah simalakama, dimakan bapak mati, tidak dimakan ibu mati, begitulah situasi tersebut. 

Baca juga: Tips Jitu Lilik Hendarwati: Kuasai Media Sosial, Layani Masyarakat dengan Optimal

Bila si fotografer memilih terus membidik si bocah sampai scaffolding ambruk, sangat mungkin ia akan mendapatkan foto serial menarik sejak si bocah bermain, scaffolding goyah, hingga ambruk menimpa si bocah.

Dari sisi profesi, mendapatkan foto serial seperti itu, apalagi bila itu eksklusif, hanya dia yang punya, tentu bisa anggap prestasi, mungkin juga prestise. 

Masalahnya, jika dia memilih itu, si kecil sangat mungkin celaka, bahkan mungkin kehilangan nyawa.

Sebaliknya, bila dia memilih menghalau si bocah, membawanya ke tempat aman, si kecil akan selamat. Tapi, dia tidak akan mendapatkan foto serial eksklusif yang, sangat mungkin, bisa mendukung profesinya sebagai fotografer. 

Baca juga: AJI Surabaya Kecam Polisi Pukul dan Intimidasi Jurnalis Saat Meliput Demo Tolak Pengesahan UU TNI

Bukan pilihan mudah, tentu. Dulu, dilema moral etis seperti itu sering harus dihadapi seorang fotografer, khususnya fotografer berita, mungkin juga jurnalis pada umumnya. 

Saya bilang itu “dulu”. Sekarang, dilema moral etis seperti itu tidak lagi hanya dihadapi fotografer, jurnalis, atau penyandang profesi lain. Kini, kita semua, disadari atau tidak, sering dihadapkan pada dilema serupa. 

Kehadiran telepon pintar dan media sosial sering menarik kita ke situasi dilematis seperti itu. Saat berada di tempat kejadian kecelakaan, misalnya, pemilik telepon pintar, apalagi yang biasa main medsos, mungkin saja lebih memilih memotret dan mengunggahnya ke media sosial daripada menolong. 

Termasuk yang mana kita? Tentu, kita sendiri yang bisa menjawab. Jadi, mari kita bertanya kepada diri sendiri. Saat berada di lokasi kecelakaan, kita pilih menolong atau memotret? Saat melihat dua remaja berkelahi, kita memilih melerai atau merekam? 

Editor : Alim Kusuma

Photo
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru