Kali Tebu Surabaya Dipenuhi Popok, Relawan Angkat 2,4 Ton Sampah

Reporter : Ali Masduki
Relawan Ecoton dan Komunitas Tretan Kali Tebu (Tekat) mengangkat lebih dari 2,4 ton sampah yang sebagian besar berpotensi mencemari Selat Madura. INPhoto/Ecoton

SURABAYA, iNFONews.ID - Popok sekali pakai menjadi sampah paling banyak ditemukan di Kali Tebu, Surabaya. Dalam tiga hari pembersihan sungai, relawan Ecoton dan Komunitas Tretan Kali Tebu (Tekat) mengangkat lebih dari 2,4 ton sampah yang sebagian besar berpotensi mencemari Selat Madura.

Pemandangan mengejutkan muncul dari Kali Tebu, Surabaya. Sungai yang menjadi jalur aliran menuju Selat Madura itu dipenuhi popok sekali pakai dan sampah plastik rumah tangga.

Baca juga: Bahaya Nanoplastik, Ecoton Ungkap Temuan Mengejutkan

Selama tiga hari ekskavasi sampah, mulai Senin (11/5/2026) hingga Rabu (13/5/2026), Ecoton bersama Komunitas Tretan Kali Tebu (Tekat) mengangkat lebih dari 2,4 ton sampah dari aliran sungai tersebut.

Yang paling mencolok, hampir separuh sampah yang ditemukan berupa popok bekas.

“Sebanyak 45 persen dari total sampah yang diangkat merupakan popok sekali pakai,” kata Daru Setyorini, Rabu (13/5/2026).

Tim relawan juga melakukan brand audit terhadap sampah popok yang ditemukan di sungai. Hasilnya, merek Sweety menjadi yang paling banyak ditemukan dengan persentase 31 persen, disusul Mamypoko 24 persen.

Selain itu, ditemukan pula merek Momo sebesar 8 persen, popok dewasa 8 persen, merek lain 14 persen, serta 15 persen popok dalam kondisi rusak hingga tak terbaca.

Menurut Daru, persoalan sampah popok di sungai bukan lagi sekadar masalah kebersihan lingkungan. Limbah tersebut berpotensi mencemari ekosistem sungai hingga laut karena Kali Tebu menjadi salah satu jalur sampah menuju Selat Madura.

“Kondisi sungai menunjukkan pengelolaan sampah rumah tangga masih buruk. Warga masih membuang sampah langsung ke aliran sungai,” ujarnya.

Baca juga: Eri Cahyadi Perintahkan Sterilisasi TPS, Aktivitas Pemulung Ditertibkan

Ekskavasi dilakukan setelah pemasangan trash barrier permanen di Kali Tebu pada 10 Mei 2026. Penghalang sampah itu dipasang lewat program Mozaik atau Mission for Zero Plastic Leakage, kolaborasi Ecoton dan Pemkot Surabaya yang didukung UNDP serta Kementerian Koordinator Bidang Pangan.

Melalui alat tersebut, sampah yang hanyut akan tertahan sebelum masuk ke perairan laut.

Ecoton menilai penyelesaian masalah tak cukup hanya lewat aksi bersih sungai. Pemerintah, masyarakat, hingga produsen popok diminta ikut bertanggung jawab.

Daru menyebut produsen perlu menjalankan kebijakan Extended Producer Responsibility (EPR), yakni tanggung jawab pengelolaan limbah produk setelah digunakan konsumen.

Baca juga: Peringatan untuk Gen Z, Mikroplastik PE Mengintai di Balik Lipstik Tahan Lama

“Produsen harus ikut bertanggung jawab terhadap sampah popok yang mencemari sungai,” katanya.

Kali Tebu menerima aliran sampah dari sedikitnya enam kawasan padat penduduk, yakni Kapas Madya, Simokerto, Tanah Kali Kedinding, Sidotopo Wetan, Bulak Banteng, hingga Tambak Wedi.

Sementara itu, Koordinator Tekat, Amiruddin Muttaqin, mengajak warga menghentikan kebiasaan membuang sampah ke sungai.

“Kalau sungai terus dijadikan tempat sampah, pencemaran akan makin parah. Mari jaga Kali Tebu bersama-sama,” ujar Amir.

Editor : Alim Kusuma

Photo
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru