SURABAYA, iNFONews.ID - Tren kosmetik tahan lama (waterproof) di kalangan Gen Z kini menghadapi tantangan serius dari sisi kesehatan.
Tim peneliti mahasiswa Biologi UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya bersama ECOTON mengungkap keberadaan mikroplastik jenis Polyethylene (PE) yang menyelinap dalam produk lipstik harian.
Temuan ini menjadi bagian dari rangkaian riset mendalam yang menyasar ekosistem di sekitar manusia.
Selain kosmetik, tim peneliti mendeteksi keberadaan partikel plastik serupa pada tanaman padi, amfibi, capung, hingga kotoran kelelawar.
Koordinator Magang ECOTON, Prigi Arisandi, menyebut riset ini sebagai sistem peringatan dini (early warning system) bagi publik.
Selama ini, perhatian dunia hanya tertuju pada plastik di biota laut yang dikonsumsi manusia. Padahal, makhluk di sekitar kita pun sudah terpapar.
"Anak biologi punya peran unik sebagai penyambung lidah alam. Mereka mampu membaca kondisi capung, kelelawar, hingga tanaman, lalu menyampaikan kabar buruk bahwa semua itu kini telah terkontaminasi plastik," ujar Prigi dalam seminar di Kampus Gunung Anyar, Kamis (12/3).
Data penelitian menunjukkan empat dari lima sampel kosmetik bibir mengandung mikroplastik dengan kepadatan mencapai 112 partikel per sampel. Ukurannya sangat kecil, antara 0,02 hingga 1,03 mm, dalam bentuk serat (fiber) dan fragmen.
Kallista Maharani, anggota tim peneliti, menjelaskan bahwa plastik tersebut tidak hanya berasal dari formula kimia produk, tetapi juga luruh dari kemasannya.
Partikel seperti nylon (polyamide) dan PTFE sengaja ditambahkan untuk memberikan efek kilau (glitter) dan ketahanan air.
"Kosmetik bibir itu produk yang menempel terus (leave-on). Risiko partikel plastik ini tertelan secara tidak sengaja sangat besar bagi penggunanya," kata Kallista.
Senada dengan itu, Sekretaris Prodi Biologi UINSA, Atiqoh Zummah, M.Sc., memperingatkan bahwa penggunaan polyethylene adalah trik industri untuk menciptakan lapisan yang sulit meresap ke kulit.
"Ini yang membuat klaim 'tahan lama' muncul, padahal sebenarnya itu adalah lapisan polimer plastik yang berbahaya bagi tubuh," tegasnya.
Pencemaran ini juga nyata di sektor pangan. Peneliti menemukan 79 partikel mikroplastik pada permukaan daun padi.
Keberadaan serat sintetis yang diduga berasal dari polusi udara ini mengancam ketahanan pangan karena dapat mengganggu proses fotosintesis dan menurunkan hasil panen.
Di sisi lain, satwa liar kini mulai menunjukkan gejala sebagai "gudang" plastik melalui berbagai temuan yang mengkhawatirkan.
Fenomena ini terlihat jelas pada katak dan kodok yang mengandung hingga 9,25 partikel mikroplastik per gram, sebuah angka yang menjadi indikator kuat buruknya kualitas air tawar saat ini.
Ancaman serupa merambah ke gua-gua di Lamongan, di mana 100% sampel kotoran (guano) kelelawar dinyatakan positif plastik.
Kondisi tersebut memicu risiko rantai polusi baru karena guano yang sering dimanfaatkan sebagai pupuk organik berpotensi membawa partikel plastik kembali ke lahan pertanian.
Tak berhenti di situ, capung di kawasan tambak Surabaya pun ikut terdampak dengan dominasi mikroplastik jenis fiber, yang mencerminkan betapa tingginya tingkat polusi udara serta air hujan yang telah mengepung habitat mereka.
Tim peneliti mendesak masyarakat, terutama generasi muda, untuk lebih selektif dalam memilih merek kosmetik dan mulai meminimalkan penggunaan plastik sekali pakai guna menekan laju paparan polutan mikroskopis ini.
Editor : Alim Kusuma