SURABAYA, iNFONews.ID – Suasana di Kantor DPW PKS Jawa Timur pada Minggu (1/3/2026) terasa berbeda. Bukan keriuhan politik yang menyeruak, melainkan lantunan ayat suci yang menyejukkan.
Sebanyak 38 perwakilan DPD PKS kabupaten/kota se-Jawa Timur berkumpul untuk satu tujuan: menjadi yang terbaik dalam Musabaqah Hifzhil Qur’an (MHQ) tingkat wilayah.
Baca juga: Raih Dua Penghargaan Bergengsi, PKS Jatim Buktikan Komitmen Kaderisasi dan Ekonomi Kerakyatan
Ajang ini bukan sekadar kompetisi memperebutkan tiket ke tingkat nasional, melainkan sebuah manifestasi spiritualitas di tengah dinamika partai.
Sekretaris DPW PKS Jawa Timur, Muhamad Syadid, dalam sambutannya menegaskan bahwa agenda ini memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Alumnus Al-Azhar Kairo yang akrab disapa Mas Syadid ini menyebutnya sebagai "Pesta Langit".
"Njenengan semua adalah bintang utama hari ini. Sejak berangkat dari daerah, para malaikat sudah mengepakkan sayapnya mengawal para penghafal Al-Qur’an," ujar Syadid dengan penuh takzim.
Lebih dari sekadar mengejar trofi, Syadid mengingatkan para peserta akan tanggung jawab sosial pasca-lomba. Ia menekankan bahwa kedekatan dengan Al-Qur'an harus berbanding lurus dengan pelayanan kepada masyarakat melalui akhlak yang mulia.
Ketua Panitia Ramadan DPW PKS Jatim, Darmidi, menjelaskan bahwa MHQ ini merupakan hasil seleksi ketat di 38 daerah. Hal ini menunjukkan bahwa pembinaan spiritual di internal PKS Jatim dilakukan secara sistematis dan konsisten.
"Hari ini kita membuktikan bahwa Jawa Timur memiliki potensi besar para huffazh dari kalangan kader. Ini bisa menjadi gerakan besar pembinaan Al-Qur’an ke depan," ungkap Darmidi.
Baca juga: Bagus Prasetia Ditetapkan Sebagai Ketua DPW PKS Jatim Periode 2025–2030, Gantikan Irwan Setiawan
Di tengah ratusan peserta, muncul satu sosok yang membuat ruangan mendadak hening dan penuh haru. Beliau adalah Harianto (57), peserta asal Kota Madiun. Meski kehilangan indra penglihatan sejak lahir, keterbatasan tersebut tidak menghalanginya menjaga cahaya Al-Qur'an di dalam dada.
Saat ini, Harianto telah menghafal 11 juz. Alasan di balik keputusannya menghafal Al-Qur’an pun sangat menyentuh hati.
"Kalau orang yang bisa melihat cukup bawa satu mushaf kecil, bisa dikantongi. Kalau saya, satu juz satu buku braille tebal. Kalau 30 juz bisa satu becak. Maka saya pikir, lebih baik dimasukkan ke kepala saja supaya ringan dibawa," tutur Harianto
Metode Hafalan: Ia mengandalkan mushaf braille dan mendengarkan murotal secara berulang-ulang. Baginya, menghafal Al-Qur'an adalah bentuk syukur, bukan sekadar untuk mengejar gelar juara.
Keteguhan Harianto memicu haru, termasuk bagi tim penguji. Komari, penguji dari Biro Al-Qur’an BKAP DPW PKS Jatim, mengaku sangat terkesan dengan kualitas bacaan Harianto.
"Bacaan beliau sangat bagus dan hafalannya kuat. Ini pelajaran besar bagi kita semua. Kalau beliau yang memiliki keterbatasan saja bisa menghafal 11 juz, apa alasan kita yang sehat untuk tidak dekat dengan Al-Qur’an?" pungkas Komari.
Kini, di sela kesibukannya mengajar Al-Qur’an di Madiun dan memanfaatkan teknologi berbasis suara, Harianto terus berikhtiar menyelesaikan hafalan hingga 30 juz.
Sosoknya menjadi simbol bahwa di MHQ PKS Jatim tahun ini, kemenangan sejati adalah kemenangan hati yang terpaut pada Al-Qur'an.
Editor : Alim Kusuma