JAKARTA, iNFONews.ID - Buah Indonesia semakin luas menjangkau pasar global. Di balik ekspor yang kini menembus 25 negara, perubahan juga terasa di tingkat desa, mulai dari pendapatan petani hingga peluang kerja bagi perempuan.
Dorongan tersebut datang dari kolaborasi DBS Foundation dan Java Fresh yang membangun rantai pasok lebih inklusif. Pendekatan tersebut membuka akses pasar bagi petani kecil sekaligus meningkatkan kualitas produk agar memenuhi standar ekspor.
Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar di sektor hortikultura. Nilai ekspor buah mencapai USD 389,9 juta pada 2020, tumbuh lebih dari 30 persen dibanding tahun sebelumnya. Namun, capaian tersebut belum sepenuhnya dirasakan petani di tingkat hulu yang masih menghadapi keterbatasan akses pasar dan distribusi.
Co-Founder & CEO Java Fresh, Margareta Astaman, menyebut tantangan utama bukan pada produksi, melainkan sistem yang menghubungkan petani dengan pasar.
“Kami ingin memastikan ketika buah Indonesia menembus pasar internasional, manfaat ekonominya juga kembali ke petani dan komunitasnya,” ujarnya.
Untuk menjawab persoalan tersebut, Java Fresh membangun fasilitas packing house di dekat sentra produksi. Langkah ini memangkas rantai distribusi, meningkatkan kualitas pascapanen, sekaligus membuka lapangan kerja baru di desa.
Dampaknya terasa langsung. Perempuan desa yang sebelumnya sulit mendapat pekerjaan kini memiliki penghasilan tetap. Salah satunya Ibu Edah dari Tasikmalaya yang berhasil menyekolahkan anaknya hingga jenjang S2 setelah bekerja di fasilitas tersebut.
“Sekarang kalau mau terus belajar dan bekerja, kesempatan itu datang,” katanya.
Cerita serupa datang dari Ibu Emin yang tetap produktif meski memiliki keterbatasan fisik, serta Ibu Nani yang masih aktif bekerja di usia senja. Bagi mereka, pekerjaan bukan sekadar penghasilan, tetapi jalan menuju kemandirian.
Penguatan sistem tersebut semakin berkembang setelah Java Fresh menerima dukungan dari DBS Foundation Grant Program. Pendanaan digunakan untuk riset dan pengembangan, termasuk teknologi penyimpanan yang mampu memperpanjang umur buah.
Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia, Mona Monika, melihat peran petani sebagai bagian penting dalam rantai pasok berkelanjutan.
“Ketika petani mendapat akses pasar, pendampingan, dan inovasi, mereka tidak hanya meningkatkan kesejahteraan, tetapi juga memperkuat ketahanan sistem pangan,” ujarnya.
Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah pengiriman manggis dengan teknologi controlled atmosphere hingga 29 hari ke Tiongkok. Metode tersebut menjaga kualitas buah selama perjalanan sekaligus menekan risiko kerugian.
Kini, Java Fresh memperluas operasional ke tiga wilayah baru dan memberdayakan ratusan petani serta puluhan pekerja perempuan. Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa akses pasar global dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan lokal.
Di balik angka ekspor, perubahan nyata terlihat dari kehidupan sehari-hari masyarakat desa. Rumah yang diperbaiki, pendidikan yang lebih tinggi, hingga peluang kerja yang lebih layak menjadi bukti bahwa rantai pasok yang adil mampu membawa dampak luas.
Buah Indonesia mungkin hanya terlihat sebagai komoditas di pasar global. Namun, di baliknya, ada kerja panjang yang menghubungkan desa dengan dunia dan membuka jalan bagi kehidupan yang lebih baik.
Editor : Alim Kusuma