BANDUNG, INFONEWS - Ketahanan atau resiliensi keluarga yang memiliki anak berkebutuhan khusus (ABK) tidak hanya bergantung pada kekuatan keluarga dalam menghadapi berbagai tantangan. Dukungan dari lingkungan sosial juga menjadi bagian penting agar keluarga tidak merasa berjalan sendirian.
Pendidik Sekolah Cikal Bandung sekaligus Koordinator Pendidikan Inklusi Cikal Bandung, Dea Novitasari, mengatakan keluarga dengan ABK masih kerap berhadapan dengan komentar, tatapan, hingga penilaian dari lingkungan yang belum memahami kondisi anak.
Situasi seperti itu dapat membuat keluarga merasa lelah secara sosial dan memilih menarik diri. Karena itu, masyarakat perlu membangun lingkungan yang lebih inklusif dengan memahami, mendengarkan, dan memberi ruang bagi keluarga maupun anak untuk berpartisipasi.
“Membangun resiliensi di tengah masyarakat memang bukan hal yang mudah bagi keluarga yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Sampai saat ini masih ada keluarga yang menghadapi komentar, tatapan, atau bahkan penilaian dari orang-orang yang belum memahami kondisi anak mereka,” ujar Dea.
Menurut dia, keluarga tidak seharusnya dipaksa menghadapi tekanan tersebut seorang diri. Resiliensi justru lebih mungkin tumbuh ketika keluarga mendapatkan lingkungan yang mampu memberikan dukungan.
“Namun, resiliensi tidak berarti keluarga harus menghadapi semuanya sendirian. Resiliensi justru tumbuh ketika keluarga memiliki lingkungan yang mau memahami, mendengar, dan berjalan bersama mereka,” lanjutnya.
Menerima Setiap Anak Memiliki Perjalanan Berbeda
Dea menjelaskan, salah satu langkah penting dalam membangun resiliensi keluarga adalah menerima bahwa setiap anak memiliki proses tumbuh dan berkembang yang berbeda.
Penerimaan itu berlaku bukan hanya bagi anak berkebutuhan khusus, tetapi juga bagi saudara kandung yang tidak memiliki kebutuhan khusus. Dari pemahaman tersebut, keluarga dapat lebih fokus pada kebutuhan dan perkembangan masing-masing anak tanpa terus membandingkannya dengan anak lain.
“Yang sering saya lihat, keluarga mulai membangun resiliensi adalah dengan menerima bahwa perjalanan setiap anak berbeda. Mereka belajar lebih memahami kebutuhan anak, fokus pada proses perkembangannya, dan tidak lagi terlalu terpaku pada penilaian orang lain,” kata Dea.
Keluarga juga dapat memperkuat dukungan dengan membangun komunikasi bersama sekolah serta bergabung dengan komunitas yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan dan tumbuh kembang anak berkebutuhan khusus.
“ Mereka juga mulai berani membangun komunikasi dengan sekolah, mencari komunitas yang saling mendukung, dan berbagi pengalaman dengan keluarga lain yang memiliki perjalanan serupa,” imbuhnya.
Tiga Peran Masyarakat
Di sisi lain, masyarakat memiliki peran yang tidak kalah penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung keluarga dengan ABK.
Dea menyebut setidaknya ada tiga hal sederhana yang dapat dilakukan masyarakat, yakni tidak menghakimi, bersedia mendengarkan, dan memberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam lingkungan sosial.
Menurut dia, sikap tersebut dapat memberikan dampak besar bagi keluarga yang selama ini mungkin merasa dinilai atau tidak sepenuhnya diterima oleh lingkungan.
“Semakin banyak orang yang memahami bahwa setiap anak belajar dengan cara yang berbeda, semakin mudah keluarga merasa diterima,” ujarnya.
Dukungan juga tidak selalu harus diwujudkan melalui tindakan besar. Kesediaan untuk mendengarkan tanpa memberikan penilaian, misalnya, sudah dapat menjadi bentuk dukungan sosial bagi keluarga.
“Terkadang dukungan yang sederhana, seperti tidak menghakimi, mau mendengarkan, atau memberikan kesempatan kepada anak untuk berpartisipasi dalam lingkungan sosial, sudah menjadi bentuk dukungan yang sangat berarti,” tegas Dea.
Membangun Masyarakat yang Inklusif
Bagi Dea, menciptakan lingkungan inklusif merupakan tanggung jawab bersama. Keluarga, sekolah, komunitas, dan masyarakat perlu membangun hubungan yang memungkinkan anak berkebutuhan khusus tetap memiliki ruang untuk tumbuh sesuai dengan potensinya.
Lingkungan yang suportif juga membantu keluarga menghadapi perjalanan pengasuhan tanpa merasa dikucilkan atau dianggap berbeda.
“Karena pada akhirnya, membangun resiliensi bukan hanya tugas keluarga. Ini adalah proses yang dilakukan bersama,” kata Dea.
Ia menambahkan, kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat dapat menciptakan kondisi yang lebih positif bagi perkembangan anak.
“Ketika keluarga, sekolah, dan masyarakat saling mendukung, keluarga tidak lagi merasa berjalan sendiri, dan anak pun memiliki kesempatan yang lebih besar untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensinya,” pungkasnya.
Editor : Alim Kusuma