“IA TAHU apa itu pahlawan ketika melihatnya. Sedikit sekali karakter di luar sana beterbangan seperti itu, menyelamatkan wanita tua seperti bibi. Dan, Tuhan tahu, anak seperti Henry perlu pahlawan. Orang berani yang rela berkorban, contoh bagi kita semua.”
Dialog itu diucapkan Bibi May, bibi Peter Parker, yang baru saja ditolong Spiderman. Itu terjadi setelah Peter Parker memutuskan membuang kostum laba-labanya dan “berhenti” menjadi si pengayun sawang dalam Spiderman 2.
Baca juga: Ketika Sesal Kemudian Bukannya Tidak Berguna
Bibi May lalu melanjutkan, “Bibi yakin, ada pahlawan dalam diri kita masing-masing. Yang membawa kita tetap jujur, memberi kita kekuatan, membuat kita berhati mulia, dan akhirnya memungkinkan kita meninggal dengan terhormat.
Meski, kadang kita harus merelakan hal yang paling kita inginkan, termasuk impian kita. Spiderman melakukan itu untuk Henry dan Henry mau tahu kemana ia pergi. Henry membutuhkan Spiderman.”
Sampai sekuel kedua Spiderman, mungkin sampai satu sekuel berikutnya, ucapan Bibi May itu bisa jadi masih relevan. Dalam trilogi si pengayun sawang versi Tobey Maguire, sosok Spiderman memang persis seperti yang digambarkan Bibi May, “Orang berani yang rela berkorban, bahkan rela melepas hal yang paling dia inginkan, demi menolong orang lain.”
Penonton tahu, Peter sejak kecil sangat mencintai Mary Jane. Penonton juga diyakinkan bahwa Peter berotak encer dan potensial menjadi ilmuwan sukses. Toh, dia merelakan semua itu demi perannya sebagai Spiderman.
Sebuah dongeng kepahlawanan ideal, bahwa dunia ini punya banyak “orang baik” dan mereka akan selalu menang. Dongeng pahlawan tanpa pamrih yang diyakini perlu untuk konsumsi anak-anak seusia Henry.
Tapi, setelah tiga jilid Spiderman versi Tobey Maguire itu, sosok pahlawan yang digambarkan Bibi May sebagai “orang berani yang rela berkorban meski harus merelakan impian” seolah menghilang.
Para pahlawan super yang beraksi di bioskop setelah itu lebih dekat dengan gumaman Tony Stark dalam Iron Man 3, “Kita menciptakan iblis kita sendiri.”
Lihat saja tiga jilid awal Iron Man yang telah beredar. Semua penjahat yang harus dihadapi si baju besi dalam trilogi Iron Man adalah sosok yang berkaitan erat dengan sang jagoan.
Penjahat Iron Man pertama, Obadiah Stane, adalah petinggi Stark Enterprise yang “memanfaatkan” penemuan sang pahlawan super untuk menciptakan baju besi yang lebih besar, dan meneror warga kota.
Dalam Iron Man 2, sang penjahat super, Ivan Vanco adalah anak Anton Vanco. Anton adalah tandem Howard Stark, ayah Tony Stark sang Iron Man, saat menciptakan reaktor yang melambungkan Stark Enterprise.
Baca juga: Kritik di Tangan Kritikus, Fans, Hater, dan Oposan
Namun, reaktor itu diambil Howard. Anton pun jatuh miskin, kecanduan alkohol, bahkan akhirnya meninggal akibat minuman keras. Itu membakar dendam Ivan, yang lantas menjadikannya penjahat super.
Dalam Iron Man 3, sang penjahat super, Aldrick Killian juga sosok yang terobsesi dendam kepada si Baju Besi. Karena dendam itu, ia menjelma menjadi penjahat super yang memporak-porandakan Stark Enterprise, bahkan hampir menewaskan presiden.
Hero lain yang lahir di bawah bendera Marvel bisa dibilang juga muncul dengan gambaran serupa. Para penjahat Hulk, misalnya, berkaitan erat dengan si raksasa hijau. Bahkan, seperti Iron Man pertama, penjahat dalam Hulk 2 juga “meminjam” rahasia si raksasa hijau untuk menjadi super villain yang harus di atasi yang superhero.
Bahkan, si pengayun sawang pun akhirnya dilahirkan ulang dengan gambaran kurang lebih sama dalam dua jilid Amazing Spiderman. Lihat betapa penjahat super yang dihadapi si pengayun sawang dalam dua film itu adalah mereka yang terkait erat dengan penemuan ayah Peter Parker.
Dalam Amazing Spiderman, ayah Peter digambarkan sebagai ilmuwan yang memungkinkan Peter, hanya Peter, menjadi Spiderman. Tapi, penemuan ayah Peter itu pula yang melahirkan Lizard Man, manusia kadal lawan spiderman dalam Amazing Spiderman jilid I dan si manusia listrik Electro dalam Amazing Spiderman jilid II.
Lihat, justru sang superhero-lah yang melahirkan penjahat super yang mengancam keselamatan banyak orang. Lihat betapa, dalam dongeng-dongeng pahlawan super itu, sang pahlawan sendiri yang membidani kelahiran para penjahat yang harus mereka hadapi.
Baca juga: Bila Proses Diabaikan, Harus KPK-kah yang Menjelaskan Hasil?
Anak saya bahkan punya ungkapan yang lebih tajam, “Kok kesannya dunia ini akan aman-aman saja andai para superhero itu tidak ada ya.”
Jadinya, aksi kepahlawanan para superhero itu terkesan sekadar “membersihkan” sampah yang mereka sebarkan sendiri. Mereka yang menyebarkan sampah, banyak sekali sampah hingga mengancam warga, lalu mereka beraksi membersihkannya (mungkin setelah telanjur jatuh korban).
Siapa penjahat siapa pahlawan jadi tidak jelas. Itu, tentu, jauh dari gambaran palawan sebagai “orang berani yang rela berkorban” seperti yang digambarkan Bibi May.
Dan, kalau mengacu Bibi May, masih bisakah para pahlawan super “masa kini” disebut sosok yang dibutuhkan Henry dan anak-anak sebayanya? Jangan-jangan, gambaran pahlawan sebagai sosok berani yang rela berkorban, apalagi sampai rela melepas impian, memang tidak lagi diminati sekarang?
Penulis: Soeparli D. Atmadji
Mantan Wartawan
Pengamat dan Penyuka Film
Editor : Alim Kusuma