Minggu, 28 Jun 2026 22:28 WIB

Bayam Merah Berpeluang Jadi Herbal Antianemia, Riset di Kediri Buka Peluang Usaha Warga

Pemberian materi oleh Prof. Dr. apt. Wiwied Ekasari, M.Si. INPhoto/Tim Peneliti
Pemberian materi oleh Prof. Dr. apt. Wiwied Ekasari, M.Si. INPhoto/Tim Peneliti

KEDIRI, INFONEWS.ID - Bayam merah yang selama ini identik sebagai sayuran rumahan mulai dikembangkan menjadi produk herbal antianemia. Melalui hasil riset yang diperkenalkan kepada masyarakat di Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri, tanaman tersebut diproyeksikan menjadi komoditas unggulan yang tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi warga.

Pengembangan tersebut diperkenalkan dalam kegiatan diseminasi hasil penelitian bertajuk Penguatan Ekonomi Berbasis Produk Unggulan Bayam Merah sebagai Herbal Antianemia yang digelar di Balai Desa Papar, Jumat (27/6/2026). Kegiatan diseminasi ini juga dibantu oleh 6 orang mahasiswa S1 dan 1 orang mahasiswa S3 Fakultas Farmasi Unair, serta 2 dosen Farmasi dari IIK Bhakti Wiyata Kediri.

Program itu merupakan bagian dari hilirisasi hasil penelitian skema Kerja Sama Penelitian Tahun 2025 Nomor 5395/B/UN3.LPPM/PT.01.03/2025. Melalui kegiatan tersebut, hasil penelitian diharapkan dapat diterapkan langsung oleh masyarakat sehingga memberikan manfaat nyata di bidang kesehatan maupun pemberdayaan ekonomi desa.

Kegiatan dihadiri unsur pemerintah kecamatan, pemerintah desa, kader PKK, tenaga kesehatan, pengurus BUMDes, serta warga yang ingin mengembangkan tanaman obat keluarga dan produk herbal berbasis potensi lokal.

Ketua Tim Penelitian, Prof. Dr. apt. Wiwied Ekasari, M.Si., mengatakan bayam merah dipilih karena mudah dibudidayakan dan memiliki kandungan zat besi, vitamin, mineral, serta antioksidan yang berpotensi membantu mencegah anemia.

"Sejumlah penelitian menunjukkan bayam merah mampu meningkatkan kadar hemoglobin dan jumlah sel darah merah. Tanaman ini berpotensi menjadi komoditas unggulan daerah karena selain menyehatkan juga memiliki nilai ekonomi apabila diolah menjadi produk siap jual," ujar Wiwied.

Selain memaparkan hasil penelitian, tim peneliti memberikan edukasi mengenai pemanfaatan tanaman obat keluarga (TOGA).

Materi tersebut disampaikan Dr. Neny Purwitasari, S Farm. MSc,, yang mengajak masyarakat memanfaatkan tanaman di sekitar rumah sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan keluarga.

Materi berikutnya disampaikan Dr. apt. Samirah, S.Si., Sp.FRS. Ia menjelaskan bayam merah dapat dimanfaatkan sebagai pangan fungsional untuk membantu mencegah anemia, terutama pada remaja putri, ibu hamil, dan kelompok rentan. Pemanfaatan tersebut juga dinilai mendukung upaya penurunan angka stunting.

Tidak hanya membahas manfaat kesehatan, peserta memperoleh pelatihan budidaya bayam merah mulai dari pemilihan benih, teknik pemeliharaan, hingga cara meningkatkan hasil panen.

Tim peneliti juga memperkenalkan berbagai produk olahan yang berpotensi memiliki nilai jual lebih tinggi, seperti teh herbal, serbuk instan, pangan fungsional, hingga produk kesehatan.

Diskusi berlangsung interaktif. Warga mengajukan berbagai pertanyaan mengenai teknik budidaya, pengolahan pascapanen, serta strategi pemasaran produk. Sebagian peserta mengaku baru mengetahui bahwa bayam merah memiliki prospek sebagai bahan baku industri herbal.

Melalui kegiatan tersebut, tim peneliti berharap masyarakat mampu membangun rantai usaha berbasis bayam merah secara berkelanjutan, mulai dari proses budidaya, pengolahan, hingga pemasaran. Dengan model tersebut, tanaman yang mudah ditemukan di pekarangan diharapkan mampu menjadi produk unggulan Desa Papar sekaligus menambah sumber pendapatan masyarakat.

Hasil evaluasi melalui post-test menunjukkan pemahaman peserta meningkat, baik mengenai manfaat bayam merah dalam membantu mencegah anemia maupun peluang usaha yang dapat dikembangkan dari tanaman tersebut.

Temuan itu menjadi indikator bahwa inovasi berbasis potensi lokal berpeluang memberikan manfaat ganda, yakni meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat sekaligus memperkuat perekonomian desa.

Editor : Alim Kusuma