Keren! Kampung di Gresik Terapkan Kurban Tanpa Kantong Plastik

Warga Kampung SIBA KLASIK Gresik menerapkan pembagian daging kurban tanpa plastik dengan memakai wadah guna ulang. INPhoto/Toni
Warga Kampung SIBA KLASIK Gresik menerapkan pembagian daging kurban tanpa plastik dengan memakai wadah guna ulang. INPhoto/Toni

GRESIK, iNFONews.ID - Warga RT 02/RW 05 Kampung SIBA KLASIK, Kelurahan Sidokumpul, Kabupaten Gresik, menggelar penyembelihan hewan kurban dengan konsep minim sampah saat Idul Adha tahun ini. Pembagian daging dilakukan tanpa kantong plastik sekali pakai dan diganti memakai wadah milik warga.

Sejak pagi, suasana kampung dipenuhi aktivitas warga yang membawa ember, rantang, baskom hingga kotak makanan dari rumah masing-masing. Panitia sebelumnya telah mendata wadah milik penerima agar proses distribusi berjalan lebih tertib.

Ketua RT 02, Saifudin Efendi, mengatakan pengurangan penggunaan plastik menjadi kesepakatan bersama warga sejak rapat persiapan kurban digelar.

Menurut pria yang akrab disapa Ipung tersebut, sampah plastik selalu menjadi persoalan usai pembagian daging kurban setiap tahun.

“Biasanya setelah pembagian daging banyak sampah plastik berserakan. Tahun ini warga sepakat memakai wadah guna ulang supaya lingkungan tetap bersih,” katanya, Rabu (27/5/2026).

Panitia sengaja tidak menyediakan kantong plastik di lokasi penyembelihan. Warga yang menerima daging diwajibkan membawa tempat sendiri sesuai data yang sudah dicatat sebelumnya.

Selain mengurangi sampah plastik, panitia juga melakukan pemilahan limbah organik dan nonorganik selama proses penyembelihan berlangsung. Limbah seperti daun, sisa pakan ternak, dan bagian organik lain dipisahkan untuk diolah menjadi kompos.

Ketua Takmir Langgar Maslakul Inayah, Ahmad Efendi, menyebut konsep tersebut lahir dari kesadaran warga menjaga kebersihan lingkungan tanpa mengurangi makna ibadah kurban.

“Kami ingin pelaksanaan kurban tetap berjalan nyaman sekaligus menjaga lingkungan kampung tetap bersih,” ujarnya.

Pelaksanaan kurban tanpa kantong plastik juga melibatkan berbagai unsur warga. Remaja musala membantu pengangkutan limbah organik, kelompok ibu-ibu membersihkan area pembagian daging, sedangkan karang taruna mengatur alur antrean warga.

Sistem pembagian dibuat bergiliran agar tidak terjadi penumpukan antrean di sekitar musala. Peralatan yang digunakan selama penyembelihan langsung dicuci agar dapat dipakai kembali.

Warga mengaku pola pembagian tanpa plastik membuat lingkungan kampung terlihat lebih rapi dibanding tahun sebelumnya. Tidak tampak tumpukan kantong plastik di selokan maupun pinggir jalan.

Salah satu warga, Nur Aini, menilai penggunaan wadah pribadi membuat pembagian daging lebih praktis.

“Sekarang lebih bersih karena warga sudah membawa tempat sendiri dari rumah,” katanya.

Ke depan, warga Kampung SIBA KLASIK berencana mempertahankan konsep kurban minim sampah tersebut. Pengolahan limbah organik juga akan dikembangkan menjadi pupuk kompos untuk kebutuhan tanaman di lingkungan kampung.

Editor : Alim Kusuma