JAKARTA, iNFONews.ID - Hubungan India–Indonesia memasuki fase baru yang lebih strategis di tengah tekanan geopolitik global dan pergeseran tatanan dunia.
Satu tahun setelah Presiden Prabowo Subianto menjadi tamu utama Parade Hari Republik India, kedua negara kini bergerak melampaui simbol diplomatik menuju kerja sama konkret yang berdampak luas, baik bagi kawasan maupun Global Selatan.
Kunjungan bersejarah itu mencatatkan momen langka: untuk pertama kalinya kontingen Indonesia tampil dalam parade hari nasional di luar negeri.
Sebanyak 352 personel marching band Indonesia berbaris di Jalur Kartavya, New Delhi, mengulang resonansi sejarah ketika Presiden Soekarno menjadi tamu kehormatan pada Hari Republik India pertama, 75 tahun silam.
Sejak itu, relasi bilateral terus diperdalam. Indonesia resmi bergabung dengan BRICS pada Januari 2025, sementara India akan memegang kursi kepemimpinan BRICS pada 2026.
Presiden Prabowo dijadwalkan menghadiri KTT BRICS tahun ini, dengan tema besar pembangunan ketahanan, inovasi, kerja sama, dan keberlanjutan.
Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, menilai kemitraan kedua negara memiliki bobot global.
“Keputusan India dan Indonesia, sebagai negara terbesar dan keempat terbesar di dunia, membawa dampak luas bagi komunitas internasional, terutama Global Selatan,” ujarnya.
Sebagai negara non-blok yang sama-sama meyakini dunia multipolar, India dan Indonesia memosisikan diri sebagai penyeimbang kekuatan global.
Kerja sama yang lebih erat dinilai mampu mengurangi ketergantungan pada kekuatan eksternal sekaligus menjaga kedaulatan dan otonomi strategis masing-masing negara.
Di tengah perlambatan ekonomi dunia, kedua negara justru memilih jalur reformasi domestik. Indonesia meluncurkan Danantara sebagai sovereign wealth investment agency baru, menjalankan program Makanan Bergizi Gratis, serta menyiapkan Koperasi Merah Putih sebagai motor ekonomi desa.
Dalam setahun terakhir, Indonesia juga mencatat kemajuan signifikan dalam ketahanan pangan dan memperluas perjanjian perdagangan bebas.
India menunjukkan laju serupa. Pertumbuhan ekonominya melesat dari PDB US$1 triliun menjadi US$4 triliun hanya dalam satu dekade, dengan proyeksi menembus US$5 triliun dalam dua tahun ke depan.
India kini menjadi ekonomi terbesar keempat dunia dan diperkirakan menyalip Jerman pada 2028.
Transformasi tersebut ditopang reformasi struktural, ekspansi infrastruktur dan digital, serta pertumbuhan riset dan startup.
Pemerintah India juga membuka jalur baru energi nuklir melalui Undang-Undang SHANTI yang mendorong pengembangan reaktor modular kecil dan keterlibatan sektor swasta.
Kerja sama ekonomi bilateral pun menunjukkan arah progresif. India menjadi salah satu tujuan ekspor terbesar Indonesia, sementara Indonesia masuk jajaran mitra dagang utama India.
Kedua negara tengah mendorong revisi Perjanjian Perdagangan Barang ASEAN–India dan membuka peluang perjanjian perdagangan bilateral.
Kolaborasi meluas ke delapan sektor utama, mulai dari digital, kesehatan, energi, pertahanan, hingga budaya. Integrasi sistem pembayaran UPI–QRIS, produksi lokal farmasi India di Indonesia, serta kerja sama rumah sakit dan pendidikan menjadi agenda nyata yang ditargetkan berjalan pada 2026.
“Bersama-sama, India dan Indonesia dapat membentuk tatanan global yang berpusat pada manusia, planet, dan kemajuan,” kata Chakravorty.
Menuju visi India Maju 2047 dan Indonesia Emas 2045, kedua negara memposisikan diri sebagai mitra strategis yang saling menguatkan.
Di tengah badai geopolitik, gotong royong dua demokrasi besar Asia ini menjadi jangkar stabilitas baru bagi Global Selatan.
Editor : Alim Kusuma