SURABAYA, INFONews.ID - Di tengah gemerlap lampu kota yang tak pernah padam dan derau kendaraan yang tiada henti, Surabaya menyimpan paru-paru kehidupan yang kini semakin berharga. Taman-taman dan hutan kota yang tersebar di seluruh sudut Kota Pahlawan bukan sekadar hamparan hijau yang memanjakan mata, melainkan garda terdepan dalam menjaga keseimbangan ekosistem perkotaan yang kian rapuh.
Senin malam, 27 Oktober 2025, Hotel Regantris yang berdiri megah di Jalan DR. Soetomo Surabaya menjadi saksi bisu sebuah komitmen. Dalam acara Sosialisasi Pemanfaatan Hutan Kota Untuk Kesejahteraan Masyarakat Majemuk Di Perkotaan, suara-suara harapan bergema tentang pentingnya melestarikan ruang hijau yang telah menjadi benteng terakhir kota melawan polusi.
Fuad Benardi, Anggota Komisi C DPRD Jawa Timur, hadir bukan hanya sebagai wakil rakyat, tetapi juga sebagai putra yang peduli akan masa depan generasi mendatang. Di hadapan peserta sosialisasi yang turut dihadiri Bram Azzaino, Aktivis Senior Lingkungan Hidup Tunas Hijau, ia menyampaikan pesan yang sederhana namun menohok, keberadaan taman dan hutan kota telah melampaui fungsi keindahan visual.
Jauh dari sorotan lampu sorot, pohon-pohon di hutan kota bekerja tanpa lelah. Setiap helai daun menjadi filter alami yang menyerap partikel polusi, gas beracun, dan karbon dioksida yang mengepung atmosfer perkotaan. Dalam proses fotosintesis yang berlangsung sepanjang hari, mereka menghasilkan oksigen segar, nafas kehidupan bagi jutaan jiwa yang mendiami Surabaya.
Namun, peran hutan kota tidak berhenti di sana. Akar-akar pohon yang menembus dalam tanah menjadi jaringan penyerap air hujan yang mencegah banjir dan mengisi ulang cadangan air tanah. Di saat musim kemarau tiba, keberadaan mereka menjadi penjaga kestabilan air yang tersimpan di bawah permukaan bumi.
"Pentingnya fungsi taman-taman dan hutan di Kota Surabaya selain sebagai keindahan visual, keberadaan taman dan hutan Kota juga mempengaruhi kehidupan masyarakat sehari-hari. Diantaranya menjaga kualitas udara, sebagai serapan air tanah dan penyeimbang ekosistem perkotaan," ungkap Fuad dengan penuh keyakinan.
Dalam nada yang penuh kehangatan namun tegas, Fuad mengajak seluruh masyarakat untuk tidak hanya menjadi penikmat, tetapi juga pelindung ruang hijau yang telah ada. Ia mengingatkan bahwa kelestarian lingkungan bukanlah tanggung jawab pemerintah semata, melainkan komitmen bersama yang harus dimulai dari hal-hal sederhana.
"Mulai sekarang, bapak dan ibu sekalian biasakan hidup bersih dan disiplin. Dimulai dari yang kecil, contohnya sampah. Mulai pilah dan buang sampah secara disiplin. Jangan sampai nanti kalau banjir atau timbul penyakit karena sampah, yang disalahkan pemerintahnya, atau wakil rakyatnya," ujar Fuad lantas tersenyum.
Senyum itu menyiratkan keprihatinan sekaligus harapan. Sebab, di balik tumpukan sampah yang menggunung dan kebiasaan membuang limbah sembarangan, tersembunyi ancaman nyata terhadap kelestarian hutan kota yang telah berjuang menyaring polusi udara setiap hari.
Surabaya, dengan segala dinamika pembangunan dan urbanisasinya, kini berada di persimpangan jalan. Kota ini dapat terus tumbuh dengan gedung-gedung pencakar langit, namun tanpa ruang hijau yang memadai, kehidupan akan kehilangan keseimbangannya.
Fuad menyadari betul bahwa keputusan yang diambil hari ini akan menentukan kualitas hidup anak cucu di masa depan. Ia tidak ingin generasi mendatang mewarisi kota yang tandus, penuh asap, dan kehilangan daya dukung lingkungannya.
"Kelestarian lingkungan dan hutan kota perlu kita jaga, karena selain dampaknya untuk kita sekarang, dampak yang paling terasa nanti kepada anak dan cucu kita kedepan bapak ibu sekalian. Jika kita tidak jaga, maka anak dan cucu kita yang merasakan," cetus Ketua Karang Taruna Surabaya 2019-2024 itu.
Sebagai salah satu kader partai nasionalis, Fuad mengatakan bahwa menjaga kelestrian lingkungan merupakan tanggung jawab semua orang, terutama kader partai PDIP.
Lantas, Fuad bercerita pengalamannya saat mengunjungi kantor DPP PDIP beberapa waktu lalu. Saat itu ia bertemu salah satu staff DPP yang mengatakan jika Ketua DPP PDIP, Megawati Soekarno Putri merupakan seorang pecinta tanaman.
"Sampai-sampai itu, Ibu Mega berpesan kepada para staf di Kantor DPP PDIP ada 3 tanaman yang tidak boleh sampai kering bahkan mati. Kalau tanaman itu sampai mati beliau bakalan menghukum para staf yang diamanahi," ujar Fuad bercerita.
Artinya, sambung Fuad, untuk mengajarkan rasa tanggung jawab, disiplin, mencintai dan merawat sesama mahluk hidup, Megawati Soekarno Putri memberikan tugas seperti itu kepada para staf kantor DPP PDIP.
"Kalau dipikir-pikir, artinya dalam sekali. Sejalan dengan ideologi partai yang nasionalis, kita dapat memetik nilai yang mendalam dari merawat tumbuhan, lingkungan dan sesama dari cerita tersebut," ulasnya.
Acara di Hotel Regantris pada Senin malam itu bukan sekadar seremonial. Ia adalah panggilan untuk bertindak, pengingat bahwa masa depan Surabaya ada di tangan setiap warganya. Kehadiran Bram Azzaino, seorang aktivis lingkungan yang telah lama berjuang untuk kelestarian alam, memperkuat pesan bahwa gerakan pelestarian lingkungan membutuhkan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan aktivis.
Tunas Hijau, organisasi lingkungan yang telah puluhan tahun mengawal pendidikan lingkungan hidup di Surabaya, terus menggugah kesadaran generasi muda untuk peduli terhadap alam. Melalui berbagai program seperti penanaman pohon, edukasi hidroponik, dan kampanye konservasi air, mereka menanamkan nilai-nilai cinta lingkungan sejak dini.
Ketika malam semakin larut dan acara sosialisasi perlahan berakhir, pesan Fuad Benardi tetap menggema. Ia bukan hanya berbicara tentang taman dan hutan kota, tetapi tentang tanggung jawab moral setiap generasi untuk merawat bumi yang dipijak.
Surabaya, dengan segala pencapaian dan tantangannya, kini memiliki pilihan, melanjutkan pembangunan yang mengabaikan keseimbangan ekologi, atau membangun kota yang berkelanjutan dengan menjadikan ruang hijau sebagai investasi jangka panjang.
Taman-taman dan hutan kota yang tersebar di Surabaya adalah warisan. Bukan warisan dari masa lalu, tetapi warisan untuk masa depan. Dan warisan itu hanya akan bermakna jika dijaga, dirawat, dan dilestarikan oleh tangan-tangan yang penuh cinta dan tanggung jawab. (*)
Editor : Tudji Martudji