Sabtu, 31 Jan 2026 03:03 WIB

UNNES Gelar Kajian Fenomena Sosial di Sekolah Air Hujan Yogyakarta

Mahasiswa UNNES berkunjung ke Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Yogyakarta (IN/PHOTO: Nurfadila)
Mahasiswa UNNES berkunjung ke Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Yogyakarta (IN/PHOTO: Nurfadila)

YOGYAKARTA, INFONews.ID - Sebanyak 91 mahasiswa dan empat dosen dari Program Studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (PIPS) Universitas Negeri Semarang (UNNES) melakukan kunjungan akademik ke Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan bagian dari agenda Kajian Fenomena Sosial I yang digelar FISIP UNNES, Rabu (15/10/2025).

 

Diawali sambutan tuan rumah, yang juga pendiri Sekolah Air Hujan, Sri Wahyuningsih, disampaikan bahwa Sekolah Air Hujan adalah memperkenalkan konsep “Sekolah dari rakyat untuk rakyat”, yang berfokus pada edukasi dan praktik pemanfaatan air hujan sebagai sumber kehidupan serta simbol kearifan lokal masyarakat. 

 

Sementara, perwakilan dosen pendamping menyampaikan apresiasi terhadap penerimaan yang hangat dari komunitas Banyu Bening. Sambil menyebut bahwa egiatan ini sejalan dengan visi UNNES sebagai “Kampus Konservasi”, yang berkomitmen menjaga kelestarian lingkungan melalui pembelajaran dan praktik sosial. 

 

“Kami ingin mahasiswa belajar langsung dari masyarakat yang berhasil mempraktikkan konservasi air dengan cara sederhana namun bermakna,” ujar dosen pendamping Fredy Hermanto, S.Pd., M.Pd.

 

Tak lupa, lagu Indonesia Raya dinyanyikan bersama, kemudian pembacaan doa, dilanjutkan paparan singkat mengenai praktik pengelolaan air hujan oleh pihak Banyu Bening. 

 

Dalam sesi diskusi tersebut, mahasiswa diajak memahami bagaimana masyarakat dapat mengubah persepsi terhadap air hujan—yang kerap dianggap kotor atau berbahaya—menjadi sumber air layak konsumsi dan simbol keberkahan.

 

Setelah paparan, dilanjutkan sesi tanya jawab interaktif. Beberapa mahasiswa terlihat aktif mengajukan pertanyaan seputar proses penjernihan air hujan, keamanan konsumsi air hujan hingga jangka panjang, serta pandangan masyarakat sekitar terhadap praktik tersebut. 

 

Pihak Sekolah Air Hujan menjelaskan bahwa keberhasilan pemanfaatan air hujan tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada perubahan cara pandang masyarakat terhadap alam dan lingkungan.

 

“Air hujan bisa menjadi berkah bila kita memperlakukannya dengan benar. Semua kembali pada niat, pengetahuan, dan kebiasaan masyarakat,” terang Kepala Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Kamaludin.

 

Sebagai penutup kegiatan, mahasiswa mengikuti sesi uji coba terapi air hujan yang menjadi ciri khas Sekolah Air Hujan Banyu Bening. Semua peserta diajak secara langsung melihat proses penampungan, penyaringan, hingga pengujian kualitas air hujan menggunakan metode sederhana berbasis kearifan lokal. 

 

Mahasiswa juga berkesempatan mencicipi air hujan yang telah diolah serta melakukan simulasi penggunaan air hujan untuk kebutuhan harian, seperti mencuci tangan, berkumur, dan menyiram tanaman.

 

Beberapa mahasiswa mengaku terkesan dengan hasilnya, karena air hujan yang telah melalui proses pengolahan terasa jernih dan segar, berbeda dari anggapan umum selama ini. Melalui praktik tersebut, mereka belajar bahwa pelestarian lingkungan bisa dimulai dari langkah kecil dan sederhana di sekitar kita.

 

Kegiatan ditutup dengan foto bersama dan seruan “Salam Air Hujan — Berkah, Berkah, Berkah!” menggema di area Sekolah Air Hujan. 

 

Melalui kunjungan ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya memperoleh wawasan ilmiah, tetapi juga pengalaman sosial dan ekologis yang menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya menjaga sumber daya air secara berkelanjutan. (Kontributor: Ainaya Nurfadila)

Editor : Tudji Martudji