Jumat, 03 Apr 2026 19:07 WIB

Kisah Petani Gula Aren penopang utama ekonomi masyarakat Desa Betèk Taman, Gading, Probolinggo

Gula Aren hasil produksi slah satu warga Desa Betèk Taman, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, yang menjadi penopang utama ekonomi.INPhoto/Ainul Yakin
Gula Aren hasil produksi slah satu warga Desa Betèk Taman, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, yang menjadi penopang utama ekonomi.INPhoto/Ainul Yakin

PROBOLINGGO, iNFONews.ID - Lereng Gunung Argopuro tidak hanya menyimpan pesona alam yang indah, tanahnya yang subur juga menjadi berkah bagi warganya.

Di lereng gunung Argopuro tanaman Pohon Aren juga tumbuh subur di hutan tepatnya Desa Betèk Taman, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo.

Pohon aren selain menghasilkan buah Kolang Kaling yang dijadikan makanan tambahan cendol, Masyarakat Desa Betèk Taman juga mengambil sari pohon aren dan menjadikannya Gula Aren dengan cara tradisional.

Gula Aren sejak lama menjadi penopang utama ekonomi masyarakat Desa Betèk Taman. Hampir setiap hari, warga mengiris pohon nira untuk mengambil la’ang (getah nira) yang kemudian diolah menjadi gula aren berkualitas.

Setiap pagi dan setiap sore, Haji Toyyib (salah satu warga Desa Betèk Taman) pergi ke hutan yang tak jauh dari rumahnya untuk mengambil nira atau air deresan dari pohon aren. Air tersebut merupakan bahan utama untuk pembuatan gula merah.

Profesi sebagai pengiris pohon nira sudah turun-temurun. “Kalau tidak ada la’ang (sebutan Getah pohon Nira), sulit sekali. Gula Aren ini yang menyekolahkan anak-anak, untuk makan, sampai kebutuhan rumah tangga,” ujar Haji Toyyib.

Setiap kali pengambilan, satu tangkai bisa menghasilkan hingga lima liter la’ang yang manis dan segar. Setelah mengambil nira, Haji Toyyib kembali ke rumah dan hasilnya akan diberikan Istrinya, ibu Rukmiati untuk diproduksi menjadi gula aren.

“Prosesnya mudah kok. Tanpa bahan pengawet dan bahan kimia lain yang berbahaya untuk kesehatan,” kata Rukmiati. Ia juga menyebutkan, prosesnya dari air nira yang dibawa dari hutan direbus beberapa jam hingga airnya keruh.

Rukmiyati mengatakan, proses merebusnya air nira dengan kayu bakar. Tujuannya agar hasilnya lebih berkualitas daripada merebus dengan gas elpiji.

Setelah keruh, lanjut ia, proses cetak. Proses cetaknya pun sederhana. Yakni dicetak dengan menggunakan bambu yang dipotong kecil. Setelahnya, gula aren mengeras dipasarkan dgn harga 15 ribu perkilo” urainya.

Namun, keberlangsungan gula aren kini menghadapi ancaman. Banyak pohon nira ditebang untuk dijadikan bahan baku tepung sagu. Selain itu, semakin sedikit generasi muda yang mau melanjutkan profesi sebagai petani pengiris nira. Pekerjaan yang menantang dan berisiko dianggap berat, sehingga regenerasi terancam terputus.

Meski gula Aren menjadi tulang punggung ekonomi, warga Betèk Taman juga menanam komoditas lain sebagai sambilan, seperti kopi, manggis, cengkeh, dan alpokat. Namun hasil dari kebun ini belum sebanding dengan peran vital gula kerè’an dalam menopang kebutuhan sehari-hari.

Masyarakat berharap ada perhatian lebih dari pemerintah dan pihak terkait, baik berupa perlindungan pohon nira maupun dukungan untuk menjaga regenerasi petani gula aren. Jika tidak, bukan hanya sumber ekonomi yang hilang, tetapi juga identitas lokal Betèk Taman yang telah diwariskan turun-temurun.

Editor : Alim Kusuma