SLEMAN, INFONews.ID - Komunitas Banyu Bening menggelar Prosesi Kenduri Air Hujan di Joglo Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Tempursari, Sleman, Yogyakarta, Selasa (9/9/2025).
Sejak pagi, rangkaian acara berjalan khidmat mulai dari Bregodo, prosesi pengambilan air hujan, tarian Riris Mangenjali, doa bersama, wulu wetu berarti "bulu keluar" atau "hasil bumi" dalam bahasa Jawa, yang merujuk pada hasil panen atau hasil bumi berupa umbi-umbian dan buah-buahan yang di kirab keliling kampung hingga di bagikan dengan mengambil keberkahan yang di panennya.
Setelah itu dilanjutkan sarasehan Ngopi (Ngobrol Inspirasi) bersama para narasumber dari kalangan pemerintah, akademisi, pegiat lingkungan, dan komunitas. Diantaranya, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara adalah Gusti Raden Ajeng Nurastuti Wijareni, yang juga putri bungsu dari Sri Sultan Hamengkubuwono X dan GKR Hemas.
Disambung oleh, Dr. Lilik Kurniawan, S.T., M.T., (Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan-Deputi Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial. Selanjutnya, paparan dari Maryadi, S.T., M.Si. (Kepala BBWS Serayu Opak). Dan, Prof. Dr. Ir. Eko Teguh Paripurno, M. T. (Guru Besar Fakultas Teknologi Mineral dan Energi Bidang Ilmu Managemen Kebencanaan Geologi); Dr. Daru Setyorini, M.Si.. (Direktur Eksekutif Ecoton).
Kamaludin (Founder Jaka Tarub), Drs. Pangarso Suryotomo, M.M.B. (Direktur Kesiapsiagaan BNPB); Dr. Ir. WIRATNO, M.Sc., IPU (Tokoh Konservasi). Juga, Dr. Suyud Warno Utomo, M.Sc. (Dosen Universitas Indonesia Manager PPSML SIL UI). Rangkaian acaranya dipandu oleh moderator Wasingatu Zakiyah (Direktur Caksana Institute, tim TA RAD PD DIY).
"Tujuan kegiatan ini adalah mengingatkan kembali bahwa air hujan merupakan sumber kehidupan, serta mengajak masyarakat untuk lebih peduli dan bijak dalam melestarikan air," ujar Sri Wahyuningsih, S.Ag, Founder Sekolah Air Hujan Banyu.
Prosesi ini bukan sekadar tradisi, tetapi juga sarat makna edukasi dan motivasi. Agar kesadaran menjaga lingkungan tumbuh dalam perilaku dan kehidupan sehari-hari.
"Alam bukan warisan dari nenek moyang kita, tapi titipan untuk anak cucu kita bersama. Lestarikan dan jaga air untuk kita bersama," ujar GKR Bendara, Gusti Raden Ajeng Nurastuti Wijareni.
Mengucap rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berperan serta berkontribusi dalam menyukseskan acara ini. Harapannya, semoga semangat dari Kenduri Air Hujan dapat menjadi dorongan nyata bagi semua pihak untuk melestarikan air sebagai titipan berharga.
"Mari bersama bergerak menjaga alam demi kehidupan yang berkelanjutan. "Ngombe Banyu Udan ben Ora Edan", kalimat tersebut menjadi pegangan untuk turut melestarikan air dan kehidupan untuk tetap terjaga. (Kontributor: HAoF Nasywa Syafikah Tazkya)
Editor : Tudji Martudji