Mencari Peluang Usaha di Masa Pandemi Melalui Modernisasi Batik

INPhoto/Pool

INFONews.id I Mojokerto - Dengan diadakannya pelatihan membatik oleh Mahasiswa Universitas Dinamika melalui Program Holistik Pembinaan dan Pemberdayaan Desa (PHP2D), warga memiliki motivasi untuk menjadikan kampung Suratan RW 03, Kelurahan Kranggan, Kota Mojokerto sebagai Kampung Batik.

Seorang warga, Ririn Indrawati (43 tahun) mengaku dengan mengikuti pelatihan yang diselenggarakan Undika ini ia menjadi bisa beberapa teknik membatik.

“Sebelumnya bantuin Ibu saya, selanjutnya semoga bisa memproduksi sendiri. Karena sudah cukup menguasai teknik membatik,” kata Ririn saat diwawancarai usai pelatihan membatik, Sabtu (26/09).

Menurutnya pelatihan ini sangat berguna bagi masyarakat setempat. Selain bisa melestarikan budaya, warga Suratan RW 03 bisa memiliki aktivitas yang bernilai ekonomi.

Ririn sangat berterimakasih dengan program yang diberikan oleh mahasiswa Undika ini. Apalagi tujuannya menjadikan Desa Suratan menjadi Kampung Wisata Batik.

“Alhamdulillah memuaskan pelatihannya, terimakasih atas bantuannya, saya mewakili dari warga Suratan sangat berterimakasih,” kata dia.

Selain itu, Anisa Febrianti (21) juga berharap akan ada pelatihan membatik lagi dengan konsep alam. Agar kreativitas dan inovasi warga terus berkembang dan menghasilkan nilai ekonomi.

“Selama pelatihan ini saya sudah lebih banyak belajar lagi tentang batik tulisnya dan itu yang susah itu di batik tulis, nyantingnya ini yang susah sama pewarnaan,” kata dia.

Disamping itu, Ketua Pelaksana PHP2D Muhammad Wahyudi (20) sangat berterimakasih dengan antusias warga, baik ibu-ibu PKK, Karangtaruna, dan warga umum lainnya yang antusias mengikuti kegiatan pelatihan membatik tersebut.

“Hari ini (26/09) terakhir pelatihan membatik tulis atau canting, sebelumnya batik cap dan jumput. Dan banyak warga yang mengikuti dengan antusias,” kata Wahyudi.

Selanjutnya Mahasiswa Undika akan memberikan pelatihan manajemen produksi, keuangan, dan juga pemasaran. Sehingga tujuan awal untuk memodernisasi Desa Suratan menjadi Kampung Batik bisa tercapai.

Wahyudi menyampaikan ilmu entrepreneur yang akan diajarkan pada warga akan berbasis Teknologi Informasi. Jadi mengoptimalkan teknologi yang sudah semakin berkembang dan canggih, sehingga jangkauan dan pasarnya lebih luas.

“Mereka akan diajarkan cara membuat usaha baru, jadi memberdayakan Desa Suratan melalui budaya dan seni,” kata dia.

Meski terbilang lancar, Wahyudi mengakui terdapat beberapa kendala saat melakukan pelatihan. Apalagi masa pandemi Covid-19 ini kegiatan harus tetap menerapkan protokol kesehatan sesuai dengan anjuran pemerintah.

Ia menjelaskan pihaknya harus membatasi jumlah orang yang mengikuti pelatihan, tetap jaga jarak, menggunakan masker, dan menggunakan hand sanitizer secara berkala.

“Kami juga mengecek suhu peserta yang mengikuti pelatihan, jika suhunya mencapai 38, tidak diperkenan mengikuti pelatihan langsung. Tapi melalui pelatihan online,” kata dia.

Wahyudi berharap budaya dan seni bisa dimanfaatkan sebagai salah satu sumber ekonomi, sehingga kampung ini dikenal dengan Kampung Wisata Batik sekaligus ikon Kota Mojokerto.

Agar program ini berjalan sesuai dengan perencanaan, mahasiswa bersama kampus akan melakukan monitoring dan evaluasi setiap minggunya.

“Jika kurang maksimal kita akan membuat UMKM untuk dikerjakan warga setempat dan membuat website untuk pemasarannya, jadi kerjasama dengan generasi muda untuk mengoperasikan websitenya,” kata Wahyudi.

infonews.id tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Berita Terkait