Penghayat Kepercayaan Gelar Kirab Budaya Peringati Hari Lahir 13 Juli di Surabaya

Reporter : Ali Masduki
Komunitas Penghayat Kepercayaan menggelar kirab budaya di Surabaya untuk memperingati Hari Penghayat Kepercayaan 13 Juli sekaligus menutup Bulan Suro. INPhoto/Kopi

SURABAYA, INFONEWS.ID - Komunitas Arek-arek Nusantara bersama Komunitas Pemuda Independent (KOPI) dan Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI) Surabaya akan menggelar kirab budaya untuk memperingati Hari Kelahiran Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa pada 13 Juli 2026. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi penutup Bulan Suci Suro 1960 Tahun Jawa Saka.

Rangkaian acara akan dipusatkan di kawasan Alas Nusantara, Kampung Jurang Indah, Surabaya, dan melibatkan komunitas penghayat kepercayaan, tokoh masyarakat, organisasi kebudayaan, pelajar, hingga orang tua siswa.

Selain peringatan hari besar penghayat kepercayaan, kegiatan juga dirangkai dengan syukuran bagi pelajar yang diterima di SMA dan SMK Negeri Kota Surabaya melalui jalur afirmasi bagi anak buruh dan keluarga kurang mampu.

Sekjen Arek Arek Nusantara, SA Saputra menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen organisasi kebudayaan dan pendidikan untuk menjaga nilai-nilai luhur warisan leluhur sekaligus melestarikan budaya Nusantara.

Kirab budaya akan dilanjutkan dengan doa bersama, hening sembahyang, pembacaan mantra, tembang Jawa, serta penyampaian pesan dari tokoh masyarakat, perwakilan buruh, orang tua siswa, pelajar, tokoh penghayat, dan pemuda.

Ketua Arek-arek Nusantara, Ki Ageng Kinco atau Sungkono Ari Saputro, mengatakan kirab budaya menjadi simbol doa bersama agar masyarakat memperoleh keselamatan, kesehatan, serta keberkahan.

"Kirab budaya mengitari Kampung Jurang Indah menjadi simbol pengruwatan sekaligus doa agar masyarakat diberi kelancaran rezeki, kesehatan, dijauhkan dari mara bahaya, serta semakin memahami ajaran warisan leluhur melalui budi pekerti dan semangat Memayu Hayuning Bawana," ujarnya dalam keterangan pers.

Menurutnya, peringatan Hari Penghayat Kepercayaan juga menjadi momentum untuk menghidupkan kembali nilai-nilai spiritual dan budaya yang diwariskan leluhur.

Mereka juga menyinggung perjalanan panjang pengakuan terhadap Penghayat Kepercayaan di Indonesia. Dalam keterangan tersebut disebutkan bahwa perjuangan memperoleh pengakuan negara telah berlangsung sejak sebelum kemerdekaan Indonesia.

Sementara itu, Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 97/PUU-XIV/2016 yang dibacakan pada 7 November 2017 memberikan ruang bagi penghayat kepercayaan untuk mencantumkan status kepercayaan pada dokumen administrasi kependudukan.

Panitia menilai masih terdapat tantangan yang dihadapi komunitas penghayat dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari pendidikan, pelayanan administrasi, hingga kehidupan sosial.

Sepanjang Bulan Suro, komunitas penghayat rutin menggelar hening sembahyang, semedi, dan diskusi spiritual sebagai bagian dari laku ibadah. Kegiatan tahunan lainnya meliputi peringatan Hari Penghayat Kepercayaan setiap 13 Juli, Hari Kebangkitan Kaum Penghayat pada 7 November, serta peringatan Sumpah Pemuda setiap 28 Oktober.

Peringatan tahun ini mendapat dukungan sejumlah organisasi, di antaranya MLKI Surabaya, Arek-arek Nusantara, KOPI, Perserikatan Seni Nusantara (PESAN), ARTIS, Ikatan Warga Rusun (IWR), Wanadhara, Barisan Orang Tua Siswa (BOR), Barisan Pelajar Nusantara (BPN), KASBI Jawa Timur, dan Serikat Pekerja Nusantara (SPARTAN).

Editor : Alim Kusuma

Photo
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru