SURABAYA, iNFONews.ID - Memasuki kuartal kedua 2026, wajah dunia maya kian sesak. Banyak merek lahir lalu hilang dalam semalam karena gagal membaca arah angin.
Menanggapi fenomena ini, Zarnuzi Fustatul yang akrab disapa Mas Zar bersama Ali Masduki dari Rumah Literasi Digital (RLD), membedah strategi brand era digital yang mampu bertahan lama di tengah gempuran algoritma yang terus berubah.
Baca juga: Ngabuburit Kreatif, Nunggu Bukber Sambil Belajar Bikin Chunky Bag
Bagi Mas Zar, yang populer dengan julukan "Dosen Sosmed", kesalahan fatal banyak pelaku usaha adalah terobsesi pada kecepatan tanpa arah. Padahal, fondasi utama di dunia digital adalah kelenturan dalam merespons pasar.
“Di dunia digital, pemenangnya bukan siapa yang paling kencang berlari, tapi siapa yang paling mampu menyesuaikan diri dengan keadaan,” tutur Mas Zar di Surabaya, Minggu (12/4/2026).
Pakar branding asal Sidoarjo ini menilai, cara sebuah merek berbicara kepada audiens harus berubah. Ia menyarankan agar pelaku usaha beralih dari sekadar membagikan informasi produk ke arah narasi yang lebih "bernyawa".
Hubungan emosional, menurutnya, jauh lebih mahal harganya ketimbang sekadar angka penayangan (views) yang tinggi.
"Konten itu bukan soal seberapa ramai komentar, tapi seberapa dalam keterikatan audiens dengan pesan yang disampaikan," tambahnya.
Senada dengan hal tersebut, Ali Masduki dari RLD melihat teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) dan analisis data seharusnya sudah menjadi alat kerja harian, bukan lagi sekadar tren. Baginya, data adalah penunjuk arah agar langkah bisnis tidak meleset.
Baca juga: Senjakala Profesi dan Filosofi ‘Iki Zamanmu’ di Kursi Mini Bus
“Tanpa data, pemilik merek hanya menebak-nebak di tengah kegelapan digital. Data membuat strategi kita punya dasar kuat, bukan sekadar asumsi,” jelas Ali.
Selain urusan teknis, Ali yang juga seorang jurnalis senior ini mendorong pelaku usaha untuk berani keluar dari zona nyaman melalui kolaborasi.
Menurutnya, di zaman sekarang, maju sendirian hanya akan mempersempit ruang gerak. Menggandeng kreator konten atau komunitas lokal justru akan memperkuat nilai yang sudah ada.
Ali juga mengingatkan bahwa identitas visual dan gaya komunikasi yang konsisten adalah identitas yang tidak boleh dikorbankan. Di tengah banjir informasi, karakter yang kuat membuat sebuah nama lebih mudah melekat di benak konsumen.
Baca juga: Kamera di Tangan, Logika di Kepala: Melawan Hoaks Lewat Lensa
"Merek yang tangguh itu bukan yang paling sering lewat di beranda, tapi yang paling membekas di ingatan," tegas alumnus Fikom Unitomo tersebut.
Sebagai penutup, keduanya sepakat bahwa ketakutan untuk bereksperimen adalah hambatan terbesar. Memanfaatkan fitur siaran langsung hingga video pendek memang berisiko gagal, namun diam di tempat jauh lebih berbahaya bagi keberlangsungan bisnis.
“Kegagalan itu bagian dari proses. Yang mengkhawatirkan adalah ketika sebuah merek tidak pernah berani mencoba hal baru sama sekali,” pungkasnya.
Editor : Alim Kusuma