Sabtu, 23 Mei 2026 03:52 WIB

Tetaplah Lapar tapi Jangan Kelaparan

INPhoto/Ilustrasi Gemini
INPhoto/Ilustrasi Gemini

Oleh: Soeparli D. Atmadji
Mantan wartawan
Pengamat dan penyuka film

STAY HUNGRY, stay foolish. Pernah dengar kalimat itu? Dalam film The Menu, kalimat ‘tetaplah lapar tetaplah konyol’ tersebut muncul dalam dialog antara CEO sebuah surat kabar dengan pemimpin redaksi koran tersebut.

Saya tidak tahu apakah di kalangan wartawan dan media massa memang ada doktrin “tetaplah lapar” di era sekarang ini. 

Yang saya tahu, ungkapan “stay hungry, stay foolish” tersebut kali pertama muncul di halaman belakang majalah Whole World Catalog edisi Oktober 1974. Itu merupakan edisi terakhir majalah tersebut.

Ungkapan ini menjadi populer setelah dikutip bos Apple, Steve Jobs, saat berpidato dalam acara wisuda di Stanford University pada 2005. 

Dalam pidato tersebut, Jobs juga menyebut majalah Whole World Catalog ibarat “google di era belum ada internet”. 

Pada 2008, seorang penulis India, Rashmi Bansal, bahkan menulis buku dengan judul sama Stay Hungry, Stay Foolish dan menjadi salah satu buku terlaris di India.

Kita di Indonesia pasti akrab dengan puasa. Namun, ungkapan stay hungry, tetaplah lapar, dalam konteks ini sepertinya tidak ada hubungannya dengan puasa. 

Lapar di sini tidak ada hubungannya dengan perut dan makanan. Dalam konteks The Menu, nasehat tetaplah lapar tersebut maknanya berkaitan dengan wartawan dan berita. 

Menjaga tetap lapar di sini, dimaksudkan untuk mendongkrak semangat wartawan. Paling tidak, “lapar” berpotensi membuat kita termotivasi untuk terus berburu. Lapar berita membuat wartawan termotivasi terus berburu berita.

Meski begitu, perlu dijaga juga agar lapar ini tidak menjadi kelewatan, apalagi sampai menjadi kelaparan. Sebab, ketika lapar sudah masuk level kelaparan, akal sehat potensial tertutup dan pertimbangan logis amat mungkin memudar. 

Seorang yang kelaparan, misalnya, sangat mungkin tidak lagi peduli makanan di depannya bergizi atau tidak, higienis atau tidak. 

Bahkan, ketika tingkat kelaparan sudah memuncak, makanan beracun pun bisa jadi diembat juga.
Demikian pula, lapar berita bisa jadi baik untuk memotivasi wartawan mengejar berita. 

Namun, kalau lapar berita sudah menjadi kelaparan, wartawan mungkin tidak lagi mempertimbangkan berita itu punya nilai berita, bermanfaat, atau sudah cover booth side atau tidak, beritanya bergizi atau tidak.

Meski begitu, kalau yang kelaparan itu wartawan dalam mencari berita, kondisinya mungkin masih mending. Paling tidak, berita yang diburu wartawan terikat keharusan faktual, benar-benar terjadi dan bukan mengada-ada. 

 Jadi, kalaupun mereka mulai tidak lagi mempertimbangkan berita mereka bergizi atau tidak, mereka hanya akan menulis berita itu bila peristiwanya memang ada. Mereka tidak akan menulis berita bila kejadiannya tidak ada . 

Masalahnya, bagaimana bila yang lapar itu para kreator konten yang berburu “imbalan klik”? Namanya juga content creator, konten mereka sangat mungkin “settingan”, hasil kreasi, tidak harus faktual. 

Sekadar “lapar imbalan klik” saja amat mungkin membuat mereka tidak peduli konten yang mereka ciptakan bergizi atau tidak. 

Lalu, kalau mereka menjadi “kelaparan imbalan klik”, tidak mungkinkah  mereka bakal tidak peduli kalaupun konten yang mereka ciptakan tidak higienis, bahkan beracun, asal konten itu berpotensi mendulang banyak klik? Harapannya tentu tidak begitu. 

Harapannya, konten kreator masih punya hati nurani untuk menghasilkan karya-karya yang bergizi dan bermanfaat, bukan sekedar memburu klik ‘like, subscribe and share’.

Editor : Alim Kusuma