Bahaya Nanoplastik, Ecoton Ungkap Temuan Mengejutkan

Reporter : Alim Kusuma
Ecoton temukan nanoplastik dalam darah dan sperma manusia, berpotensi picu gangguan kesehatan hingga risiko reproduksi. INPhoto/Ecoton

SURABAYA, iNFONews.ID - Partikel nanoplastik kini terdeteksi dalam tubuh manusia. Temuan terbaru Ecoton menunjukkan keberadaan mikro dan nanoplastik dalam darah hingga sperma, memunculkan ancaman serius bagi kesehatan publik.

Dalam riset yang melibatkan 30 perempuan dari berbagai daerah di Jawa Timur, tim peneliti menemukan rata-rata sembilan partikel mikroplastik dalam setiap 1 mililiter darah. Subjek terdiri dari pekerja sektor persampahan dan mahasiswa.

Baca juga: Peringatan untuk Gen Z, Mikroplastik PE Mengintai di Balik Lipstik Tahan Lama

Temuan tersebut memperkuat hasil studi awal pada Februari 2026 yang juga mendeteksi mikroplastik dalam sperma dan air ketuban ibu hamil. Dalam empat sampel sperma, ditemukan enam hingga tujuh partikel mikroplastik berukuran 1,5–7,9 mikrometer dengan jenis polimer polyethylene.

Dominasi material sintetis juga terlihat pada komposisi polimer. Polyester menyumbang 28 persen, diikuti Polyisobutylene 24 persen, Polyethylene 32 persen, serta PET 16 persen. Polyester sendiri merupakan bahan utama industri tekstil modern.

Peneliti awalnya meragukan kemungkinan plastik masuk ke dalam darah, mengingat ukuran sel darah merah berkisar 6–8 mikrometer. Namun, partikel dengan ukuran lebih kecil dari 5 mikrometer dinilai mampu menembus sistem peredaran darah.

Untuk memastikan ukuran partikel, tim Ecoton berkolaborasi dengan Scientific Imaging Centre Institut Teknologi Bandung menggunakan teknologi Scanning Electron Microscope (SEM) dengan ketelitian hingga skala nanometer.

“Hasil pengujian menunjukkan adanya nanoplastik berukuran 200–800 nanometer dalam darah dan sperma,” kata Rafika Aprilianti, Kepala Laboratorium Mikroplastik Ecoton. Ia menambahkan, bentuk partikel didominasi fiber dan fragmen.

Ukuran tersebut jauh lebih kecil dibanding diameter pembuluh kapiler manusia yang berkisar 5–10 mikrometer. Dengan dimensi itu, partikel plastik berpotensi mengalir bebas dalam sistem peredaran darah dan berinteraksi langsung dengan sel tubuh.

Dari sisi kesehatan, keberadaan nanoplastik memicu berbagai reaksi biologis. Interaksi dengan sel darah merah berisiko menyebabkan hemolisis atau pecahnya sel, yang dapat memicu penggumpalan darah dan meningkatkan risiko stroke serta penyakit kardiovaskular.

Pada sistem imun, sel darah putih berusaha menghancurkan partikel asing tersebut, tetapi gagal. Kondisi ini memicu pelepasan zat inflamasi secara terus-menerus yang dalam jangka panjang dapat melemahkan daya tahan tubuh.

Baca juga: Dosen UNAIR Berbagi Resep Penguatan Literasi Keuangan bagi UMKM Pasca-Bencana

Gangguan juga terjadi pada mekanisme pembekuan darah. Interaksi dengan trombosit dapat memicu pembentukan trombus atau gumpalan yang berpotensi menyumbat pembuluh koroner.

Di tingkat seluler, tubuh dipaksa bekerja lebih keras untuk mengeluarkan partikel tersebut. Proses ini mempercepat penuaan sel dan mengganggu pembentukan sel darah baru.

Peneliti juga menyoroti kontribusi limbah tekstil sebagai sumber utama kontaminasi. Serat sintetis dari pakaian yang terlepas saat pencucian maupun produksi industri diduga menjadi penyumbang terbesar mikroplastik dalam tubuh manusia.

“Polimer tekstil yang dominan dalam sampel menunjukkan apa yang kita pakai sehari-hari berpotensi masuk ke dalam tubuh,” ujar perwakilan tim peneliti.

Dampak paling serius terlihat pada sistem reproduksi. Paparan nanoplastik diduga memicu gangguan perkembangan sperma hingga penurunan kesuburan. Studi lanjutan bersama Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga menemukan mikroplastik dalam air ketuban yang berisiko mengganggu perkembangan janin.

Baca juga: Kampus di Surabaya Ini Sediakan Ragam Kegiatan dan Beasiswa untuk Mahasiswa

Partikel tersebut memicu respons inflamasi dan stres oksidatif, kondisi ketika sel tubuh mengalami kerusakan akibat radikal bebas. Dampaknya bisa meluas, mulai dari kerusakan sel hingga kematian sel secara bertahap.

Dokter anak asal Amerika Serikat, Philip J. Landrigan, dalam dokumenter The Plastic Detox menyebut paparan bahan kimia plastik pada ibu hamil dapat memengaruhi hingga tiga generasi sekaligus.

Sebagai langkah mitigasi, peneliti mendorong pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, terutama dalam konsumsi harian. Penggunaan wadah guna ulang dan pengurangan pakaian berbahan sintetis dinilai penting untuk menekan paparan.

Selain itu, konsumsi makanan antiinflamasi dan antioksidan, serta aktivitas fisik, disarankan untuk membantu tubuh menghadapi dampak paparan partikel tersebut.

Temuan ini menjadi peringatan bahwa polusi plastik tidak lagi berhenti di lingkungan. Partikel mikroskopis tersebut telah masuk ke dalam tubuh manusia, membawa risiko yang masih terus diteliti dampak jangka panjangnya.

Editor : Alim Kusuma

Photo
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru