SURABAYA, iNFONews.ID - Visi besar Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dalam membangun kedaulatan bangsa kini memasuki babak baru melalui penguatan sektor STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).
Dalam beberapa dekade terakhir, dunia pendidikan dan industri memang tengah terpaku pada satu mantra tersebut: STEM.
Akan tetapi di ambang Indonesia Emas 2045, rumus matematika dan barisan kode komputer saja rupanya tidaklah cukup.
Bagi Presiden, teknologi bukanlah benda mati yang berdiri sendiri. Ini sejalan dengan pemikiran CEO Kawoong Innovation Hadi Wardoyo.
Komitmen Presiden Prabowo adalah memastikan bahwa lompatan teknologi Indonesia tetap memiliki ruh dan sentuhan kemanusiaan.
Mengapa Harus STEM yang Berjiwa?
Sementara dalam berbagai arahannya, Presiden Prabowo menekankan bahwa modernisasi tidak boleh mencabut akar budaya bangsa.
Tanpa integrasi seni dan budaya, kemajuan teknologi hanya akan menciptakan masyarakat yang mekanis dan kaku—seperti "mesin yang dingin". Presiden mendorong inovasi yang tetap menghargai nilai-nilai estetika dan kearifan lokal.
"Nah, untuk mendukung hal ini, maka dunia membutuhkan STEAM, sebuah evolusi pola pikir yang menyisipkan art (seni/humaniora) ke dalam inti teknologi," demikian ungkap CEO Kawoong Innovation Hadi Wardoyo, pemimpin sebuah lembaga peduli inovasi berbasis teknologi yang mewadahi para kreatif dan pencinta karya anak bangsa, Kamis (19/3/2026).
Hadi menambahkan, fokus pada STEM bukan berarti mengesampingkan humaniora. Justru, kolaborasi antara kecanggihan ilmu pasti dan kelembutan seni akan melahirkan inovator yang solutif bagi masalah sosial di Indonesia.
"Langkah Presiden Prabowo dalam menggagas ekosistem STEM yang inklusif ini adalah upaya nyata untuk memastikan Indonesia tidak tertinggal di era digital. Dengan memadukan efisiensi mesin dan kehangatan seni, Indonesia sedang bergerak menuju bangsa yang maju secara intelektual namun tetap kaya secara emosional," paparnya.
Hadi mengibaratkan inovasi tanpa sentuhan manusia hanyalah deru mesin.
"Maka, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, STEM adalah jembatan menuju Indonesia yang cerdas sekaligus beradab," ucap Hadi Wardoyo.
Bukan Sekadar Estetika, Tapi Kemanusiaan
Hadi kembali mengatakan, transisi dari STEM ke STEAM bukan sekadar penambahan satu huruf, melainkan evolusi pola pikir.
Elemen “art” (seni) yang diperjuangkan oleh Hadi Wardoyo, menjadi kepingan yang sangat vital. Hadi melihat bahwa fokus utama STEM yang murni teknis seringkali menghasilkan produk yang fungsional namun cenderung kaku, kurang estetis, dan sulit dipahami masyarakat karena kurangnya sisi human-centric.
"Seni dalam STEAM hadir untuk memanusiakan teknologi (Humanizing Technology). Tanpa sentuhan seni, teknologi hanyalah mesin yang dingin," terang Hadi Wardoyo di Surabaya.
Ia mengibaratkan pepatah Latin, Ars longa, vita brevis—seni itu abadi, hidup itu singkat. Kalimat ini bermakna bahwa keahlian ilmu pengetahuan dan karya seni yang diciptakan manusia akan bertahan lama, jauh melampaui umur pembuatnya yang terbatas.
QR Art (Codeisme): Saat Logika Bertemu Estetika
Salah satu bukti paling nyata dari penerapan STEAM di Kawoong Innovation adalah lahirnya QR Art, sebuah temuan revolusioner karya anak bangsa dari tangan dingin Doddy Hernanto, atau yang akrab disapa Mr D, salah satu pendiri Kawoong Innovation.
Sebelum sentuhan STEAM hadir, QR Code hanyalah kotak-kotak hitam-putih yang membosankan—sebuah produk murni Engineering dan Mathematics yang fungsional namun "bisu" secara visual.
"Melalui pendekatan STEAM, Mr D melahirkan Codeisme, sebuah kolaborasi apik antara seni dan teknologi," ujarnya.
STEAM membuktikan bahwa algoritma (Math/Tech) bisa berdampingan mesra dengan lukisan, foto, dan estetika tanpa merusak fungsi teknis keterbacaannya. Inilah bukti nyata bahwa engineering dan art harus berjalan beriringan.
"Sains membuktikan apa yang ada, tetapi Seni membayangkan apa yang mungkin ada," jelasnya.
Menuju Indonesia Emas 2045: Menjawab Asta Cita
Gagasan STEAM ini disebut sejalan dengan visi besar Presiden Prabowo Subianto dalam Asta Cita, khususnya penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) dan kedaulatan sains-teknologi.
Presiden sering menekankan bahwa Indonesia tidak boleh sekadar menjadi "bangsa pesuruh" atau pasar bagi teknologi asing.
"Kita harus menguasai teknologi untuk mencapai swasembada pangan, energi, dan air dengan karakter bangsa," ucap Hadi.
Langkah ini, lanjutnya, semakin diperkuat oleh perspektif pakar ilmu kognitif, Prof. Stella Christie, Ph.D. (Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi), yang menekankan bahwa teknologi harus selaras dengan cara kerja otak manusia.
"Inovasi yang berkelanjutan lahir dari kolaborasi interdisipliner, di mana seni menjadi jembatan antara mesin dan rasa," kata Hadi Wardoyo.
Begitu pula, sambung Hadi, hal ini sejalan dengan visi Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si. yang disampaikan dalam Sosialisasi Program Riset Strategis BRIN 2026–2030 di Gedung B.J. Habibie baru-baru ini mengenai ekosistem riset yang agile.
"STEAM menciptakan talenta yang fleksibel—individu yang mampu melihat peluang di luar batasan teknis tradisional," ujar Hadi.
Membangun Peradaban
Hadi sebagai pemimpin di Kawoong Innovation meyakini bahwa STEAM adalah kunci masa depan.
"Sains dan teknologi adalah alatnya, engineering dan matematika adalah metodenya, namun Art (seni) adalah bahasanya," ucapnya.
"Tanpa "A", kita hanya akan menjadi robot yang memprogram robot lain. Namun dengan "A", kita sedang membangun peradaban," sambung Hadi.
Ia berharap kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan praktisi seperti para pemikir di Kawoong Innovation dapat terus solid.
Menjadikan STEAM sebagai fondasi untuk mencetak generasi Indonesia Emas 2045 yang tidak hanya mahir mengoperasikan algoritma, tetapi juga piawai merajut estetika.
"Inilah jalan kita menuju kedaulatan teknologi yang bermartabat dan manusiawi," pungkasnya. (*)
Editor : Tudji Martudji