Menepis Stigma Aktivis Kampus, Ketua GMNI Surabaya Raya Tetap Unggul Akademik

Reporter : Alim Kusuma
Ni Kadek Ayu Wardani, mahasiswa Teknik Industri Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, saat wisuda akhir pekan kemarin. INPhoto/Dok Pribadi

SURABAYA, iNFONews.ID - Anggapan bahwa mahasiswa yang aktif dalam organisasi pergerakan akan tertinggal secara akademik kembali dipatahkan. Pengalaman Ni Kadek Ayu Wardani, mahasiswa Teknik Industri Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, menunjukkan bahwa prestasi akademik dan aktivisme kampus dapat berjalan beriringan.

Sejak awal menempuh pendidikan tinggi pada 2021, ia memilih tidak membatasi diri hanya pada ruang kelas. 

Baca juga: Untag Surabaya Lepas 1.470 Wisudawan, Dorong Inovasi Solusi Global

Ia aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan dan pergerakan, sembari tetap menjaga komitmen menyelesaikan kewajiban akademik tepat waktu.

“Banyak yang mengira aktivis kampus pasti kesulitan mengatur prioritas. Saya justru belajar disiplin dari situasi yang padat tanggung jawab,” ujarnya.

Perjalanan organisasinya dimulai pada 2022 sebagai Sekretaris Unit Kegiatan Kerohanian Hindu. 

Setahun berselang, tantangan meningkat ketika ia dipercaya mengemban sejumlah posisi strategis sekaligus, mulai dari Bendahara Himpunan Mahasiswa Teknik Industri, Wakil Ketua Unit Kerohanian Hindu, hingga Sekretaris Unit Kegiatan Mahasiswa Kebangsaan.

“Momentum itu mengajarkan saya menentukan mana yang mendesak dan mana yang penting. Tanpa manajemen waktu yang ketat, semua akan berantakan,” katanya.

Pada 2024, aktivis yang akrab disapa Kadek itu menjalani program magang di PT Bogari Flour Mills dan PT Kerta Rajasa Raya.

Pengalaman tersebut mempertemukannya dengan realitas dunia industri sekaligus menguji konsistensi antara tanggung jawab akademik dan organisasi.

Tahun berikutnya menjadi fase penting dalam kiprahnya. Ia dipercaya sebagai Sekretaris Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) kampus Untag Surabaya, sekaligus terpilih sebagai Ketua Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Surabaya Raya periode 2025–2027.

Baca juga: Utang Meroket Tapi Kemiskinan Lambat Turun, Ini Temuan Mahasiswa Untag Surabaya

“Jabatan ini bukan soal prestise, melainkan tanggung jawab ideologis dan sosial. Kepemimpinan harus berpihak pada rakyat dan dijalankan secara kolektif,” tegasnya.

Menurut Kadek, organisasi kemahasiswaan bukan sekadar arena diskusi, tetapi ruang pembentukan karakter.

Di sanalah mahasiswa belajar berkomunikasi, menyelesaikan konflik, hingga membangun kepekaan sosial yang tidak selalu diperoleh di bangku kuliah.

Ia juga menanggapi kekhawatiran keluarga yang kerap muncul terhadap mahasiswa aktif organisasi. 

“Kekhawatiran orang tua itu wajar. Tapi masa kuliah adalah fase yang tidak terulang. Banyak bekal hidup yang justru lahir dari pengalaman berorganisasi,” terangnya.

Baca juga: Lawan Hoaks, Kader GMNI Surabaya Digembleng Jurnalistik Digital

Ke depan, Kadek bertekad melanjutkan studi ke jenjang magister. Bagi dirinya, pendidikan pascasarjana bukan sekadar ambisi pribadi, melainkan bagian dari tanggung jawab sebagai kader GMNI.

“Saya ingin berkontribusi lewat jalur akademik. Ideologi Marhaenisme harus terus hidup dan relevan menjawab persoalan rakyat,” katanya.

Ketua GMNI Surabaya Raya menegaskan, pengalaman pribadinya menjadi bukti bahwa aktivisme tidak identik dengan kegagalan akademik. Keduanya justru saling melengkapi bila dijalani dengan komitmen dan disiplin.

“Mahasiswa adalah agen perubahan. Jangan takut berproses,” tutupnya.

Editor : Alim Kusuma

Photo
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru