Senin, 16 Feb 2026 12:27 WIB

Peringati Hari Lahan Basah Dunia, Tim Lembaga Manajemen Infaq Tanam Magrove

Memperingati Hari Lahan Basah se-Dunia, Lembaga Manajemen Infaq, tanam Magrove, di Surabaya (IN/PHOTO: CAK JI LMI)
Memperingati Hari Lahan Basah se-Dunia, Lembaga Manajemen Infaq, tanam Magrove, di Surabaya (IN/PHOTO: CAK JI LMI)

SURABAYA, iNFONews.ID - Hari Lahan Basah Dunia yang diperingati setiap tanggal 2 Pebruari, diharapkan untuk meningkatkan kesadaran global terkait pentingnya ekosistem lahan basah (seperti rawa, gambut, mangrove, danau) bagi manusia dan planet. 

"Peringatan ini menandai diadopsinya Konvensi Ramsar pada 2 Februari 1971 di Iran, yang berfokus pada konservasi dan penggunaan bijak lahan basah sebagai penyaring air alami dan penyerap karbon," ujar Lembaga Manajemen Infaq (LMI) Ariska M. Fauzia, Senin (16/2/2026).

Manajer Pendidikan dan Lingkungan itu mengajak beraksi nyata dalam penanaman mangrove di Kebun Raya Mangrove Gunung Anyar yang berlokasi di Jalan Medokan Sawah Timur Segoro Tambak Sedati, Medokan Ayu, Kecamatan Rungkut, Surabaya, Jawa Timur. 

Kegiatan ini di ikuti 54 peserta baik dari Komunitas Banyu Bening, R-KomPAS (Rumah Komunitas Pecinta Alam Senusantara), Lorong Edukasi, dan organisasi, lembaga atau perorangan dalam sinergi giat yang bukan penanaman saja tapi juga edukasi mengenalkan jenis-jenis mangrove dan manfaatnya yang membuat peserta antusias mengikuti dan di ajak keliling ke sekitaran area Mangrove.

"Mereka yang hadir di bagi dua kelompok, masing-masing punya koordinator yang didampingi oleh Tim Kebun Raya Mangrove Gunung Anyar, Wisnu dan Supri. Bibit yang di tanam berjumlah 800 bibit di tanam dengan 1 Lubang 5 batang Mangrove dan tidak lupa Polibag di bawa kembali ke darat agar tetap terjaga kebersihan laut dan area penanamannya," urainya.

Kegiatan ini di pimpin oleh Mustika K di bidang Lingkungan LMI yang sangat ramah dan memberikan pesan kepada kita semua terkait pentingnya menjaga lingkungan dan alam.

"Alam telah memberikan segalanya buat kita, tapi kontribusi apa kita kepada alam selama ini, Yuk refleksi diri dan saatnya kita empati untuk menjaga dan merawatnya agar kelak anak keturunan ikut merasakan dan menikmatinya untuk ikut melestarikan," kata Mustika.

Diharapkan, kegiatan tersebut semakin masif dan di informasikan lebih luas di media sosial bahkan sampai di lingkungan sekitar tempat tinggal agar keseimbangan alam menjadikan persahabatan saling memberi dan menerima (simbiosis mutualisme) dan menjadi program di lingkungan pendidikan agar lebih banyak yang sadar dan tau manfaat Konservasi Alam sebagai bentuk Mitigasi dan PRB (Pengurangan Resiko Bencana).

"Bumi cuma Satu, Manusia adalah Tamu," slogan yang terus digaungkan untuk menjaga dan merawat lingkungan. (AJ Pur/red)

Editor : Tudji Martudji