TUAL, iNFONews.ID – Di tengah gempuran isu krisis iklim global, sebuah kearifan lokal dari Timur Indonesia kembali membuktikan kekuatannya. Pada Sabtu (13/12/2025), perairan Desa Taar, Pulau Dullah Selatan, menjadi panggung bagi Festival Tutup Sasi Teluk Un, sebuah tradisi kuno yang memerintahkan manusia untuk "berhenti sejenak" mengambil hasil laut demi keberlanjutan alam.
Festival ini bukan sekadar perayaan tahunan. Ini adalah hasil kolaborasi strategis antara Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XX Maluku, Pemerintah Kota Tual, dan Pemerintah Desa Taar untuk mematenkan posisi laut sebagai warisan hidup.
Baca juga: Ini Dia 6 Subtema World Water Forum ke-10 di Bali
Puncak kekhusyukan acara terasa saat prosesi pemasangan Hawear (janur kuning) dilakukan di titik-titik tertentu di tengah laut. Bagi masyarakat Suku Kei, Hawear adalah simbol hukum adat yang tidak bisa ditawar. Begitu janur dipasang, maka Teluk Un dinyatakan tertutup bagi segala aktivitas penangkapan ikan.
"Ketika Hawear dipasang, semua warga tahu laut harus dijaga. Pelanggaran sasi bukan hanya soal melanggar aturan sosial, tapi ini urusan langsung dengan adat dan leluhur," tegas Kepala Desa Taar dengan nada penuh wibawa di sela-sela acara.
Masa Sasi ini memberikan ruang bagi biota laut untuk bereproduksi dan tumbuh besar tanpa gangguan manusia. BPK Maluku memandang praktik ini sebagai solusi organik atas kerusakan lingkungan yang sulit dicapai hanya dengan regulasi modern.
Hadir dalam festival tersebut, Wakil Wali Kota Tual, Amir Rumra, mengungkapkan kekagumannya terhadap keteguhan masyarakat Desa Taar. Menurutnya, Sasi adalah bukti nyata bahwa masyarakat adat adalah penjaga garda terdepan konservasi laut.
“Di Teluk Un kita menyaksikan bagaimana aturan adat sasi berjalan seiring kebijakan pemerintah. Masyarakat menjaga laut dengan kearifan lokal, sementara kami dari pemerintah mendukung lewat regulasi dan promosi wisata,” ungkap Amir Rumra.
Ia menambahkan bahwa model pengelolaan ruang laut berbasis komunitas seperti ini adalah kunci agar Kota Tual tetap menjadi permata maritim di Maluku.
Selain sisi religius-adat, festival ini turut memacu adrenalin melalui Lomba Dayung Perahu Belang. Empat desa di sekitar Teluk Un mengirimkan putra-putra terbaik mereka untuk membelah ombak dengan perahu tradisional yang menjadi simbol kejayaan bahari Suku Kei.
Riuh rendah penonton yang memadati pesisir pantai menunjukkan bahwa festival ini memiliki daya pikat wisata yang luar biasa. Teluk Un kini tak lagi sekadar wilayah tangkap tradisional, melainkan telah bertransformasi menjadi destinasi wisata budaya yang berkelanjutan.
Melalui penutupan Sasi ini, masyarakat Kei mengirimkan pesan kuat kepada dunia: bahwa alam punya batas, dan menghormati batas tersebut adalah cara terbaik untuk mencintai masa depan.
Editor : Alim Kusuma