KEDIRI, iNFONews.ID - Ribuan warga tumpah ruah ke Lapangan Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, Selasa malam. Pagelaran wayang kulit dengan lakon legendaris “Semar Mbangun Kahyangan” bukan hanya menjadi hiburan rakyat, tetapi juga media penyampaian nilai luhur, kritik sosial, dan pesan moral bagi para pemimpin negeri.
Acara hasil kolaborasi DPRD Jawa Timur dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur ini dihadiri sejumlah tokoh, termasuk Sekjen DPP Partai Golkar yang juga Anggota Komisi VI DPR RI, M. Sarmuji, Ketua DPD Golkar Kediri M. Hadi Setiawan, jajaran Persaudaraan Kepala Desa (PKD) Kabupaten Kediri, serta perwakilan Disbudpar Jatim Lesli Citra Pertiwi, S.Sos., M.Kp.
Baca juga: Cuaca Ekstrem Mengintai Jawa Timur, Cak Hadi Desak Pemprov Amankan Panen Raya 2026
Dalam sambutan Kadisbudpar Jatim yang dibacakan Lesli Citra Pertiwi, pemerintah menegaskan pentingnya menjaga warisan leluhur. Ia menyebut wayang kulit bukan sekadar tontonan seni, melainkan identitas bangsa.
“Wayang kulit adalah bagian penting dari penguatan jati diri dan karakter bangsa. Ini wujud komitmen kami untuk menjaga, melestarikan, sekaligus mengenalkan budaya kepada masyarakat, khususnya generasi muda,” ujarnya.
Lesli mengingatkan bahwa Jawa Timur memiliki 158 Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). Ia memuji Kabupaten Kediri yang berhasil meraih Juara 1 dan 2 Festival Dalang Muda Jatim bukti bahwa daerah ini memiliki bibit pelestari budaya yang kuat.
Lakon “Semar Mbangun Kahyangan” dikenal sarat kritik sosial. Melalui tokoh Semar, masyarakat menyampaikan suara nurani kepada pemimpin. Lesli menegaskan pesan itu masih relevan hingga kini.
“Penguasa harus ingat tugas dan amanah rakyat. Kritik bukanlah amarah, tetapi bentuk suara masyarakat agar pemerintahan lebih selaras. Sinergi antara pemerintah dan masyarakat harus dijaga agar pembangunan berjalan merata,” tegasnya.
Sekjen DPP Golkar M. Sarmuji menambahkan bahwa wayang kulit adalah media pendidikan karakter paling membumi. Nilai-nilai yang disampaikan tak lekang oleh waktu.
Baca juga: Jatim Rawan Bencana, Sri Untari Desak Mitigasi Masuk Kurikulum Sekolah
“Gedung, jalan, dan jembatan itu penting. Tetapi yang utama adalah membangun kahyangan jiwa. Ketika akhlak dan moral pemimpinnya baik, pembangunan akan berjalan lurus dan berpihak pada rakyat,” ujarnya.
Menurut Sarmuji, nilai kesetiaan, kejujuran, dan keberanian menegakkan kebenaran adalah fondasi bangsa besar.
“Wayang adalah tontonan sekaligus tuntunan. Jika nilai-nilai luhurnya dihayati, Indonesia akan menjadi bangsa besar yang dihormati dunia,” tambahnya.
Selain sarat nilai budaya, pagelaran ini juga mendorong perputaran ekonomi lokal. Ratusan pelaku UMKM memadati area pertunjukan, dari pedagang makanan hingga kerajinan.
Baca juga: Cair! 2.857 Siswa Kediri Terima Beasiswa, Cak Hadi: Jangan Buat Tahun Baruan
Keramaian terlihat dari antusiasme ribuan warga, mulai anak-anak hingga orang tua. Mereka bertahan hingga larut malam, menikmati alunan gamelan dan humor khas punakawan.
Kehadiran masyarakat dalam jumlah besar membuktikan bahwa seni tradisi tetap menjadi perekat sosial yang kuat, bahkan mampu menggerakkan ekonomi daerah.
Laporan: Eric Setyo Pambudi
Editor : Alim Kusuma