MALANG, INFONews.ID– Anak-anak 'surga' yang membutuhkan perhatian khusus dari orang-orang pilihan (sabar). Malang Autism Center (MAC) dalam membantu anak-anak dengan spektrum autisme terus menunjukkan hasil positif.
Sebut saja Arum (23), salah satu terapis MAC ini menceritakan pengalamannya selama mendampingi Ageng (10), bukan nama sebenarnya. Terus menunjukan perkembangan yang membaik dengan memberikan terapi secara rutin.
Baca juga: Ina Cookies: Peluang Bisnis Rumahan yang Menguntungkan bagi Ibu Rumah Tangga di Jawa Timur
“Ini anak saya yang saya tangani, namanya Ageng. Umurnya 10 tahun. Dia mengalami ADHD atau gangguan kurang fokus,” kata Arum saat ditemui di serambi MAC, Malang, Jumat (17/10).
Menurutnya, terapi yang dilakukan bertujuan membantu menguatkan motorik kasar, otot, dan saraf anak.
“Tadi itu latihan fisioterapi, penting untuk membantu mereka agar lebih stabil dalam gerak dan konsentrasi,” ujarnya.
Arum terapis yang aktif di MAC sejak 2022 lalu ini mengatakan, bahwa lamanya waktu terapi sangat bergantung pada komitmen orang tua.
“Biasanya tergantung keinginan orang tuanya. Ada yang ingin anaknya bisa bicara, ada juga yang ingin anaknya lepas dari gadget. Jadi kami sesuaikan dengan tujuan itu,” tambahnya.
Ia juga mencontohkan anak lain sebut saja Bim, yang menjalani terapi untuk mengurangi kecanduan bermain game. “Game sebenarnya bisa membantu menstimulus motorik anak, tapi kalau screen timenya terlalu tinggi, malah bisa mengganggu fokusnya pada hal lain,” jelasnya.
Baca juga: Peresmian Klinik Fisioterapi Patria MAC Malang, Dihadiri Presiden Direktur PT UTPE
Untuk Ageng sendiri, hasil terapi mulai terlihat sejak 2024. “Dulu dia tidak bisa bicara sama sekali. Sekarang Alhamdulillah sudah mulai lancar, sudah banyak bicara dan lebih jelas,” tutur Arum.
Ia menekankan bahwa indikator keberhasilan terapi bukan dari lamanya waktu, tetapi dari konsistensi dan ketepatan metode penanganannya. Namun, tantangan tetap ada. Arum menyebut, tantrum menjadi salah satu kesulitan yang sering dihadapi para terapis.
“Kalau sedang tantrum, dia kadang memukul kepala sendiri atau menggigit. Tapi itu hal yang wajar, karena mereka mengekspresikan emosi dengan cara berbeda,” katanya.
Meski begitu, untuk Ageng sendiri menunjukkan perilaku unik yang membuatnya istimewa. “Dia tidak tahu hari atau tanggal, tapi selalu tahu kapan waktunya pulang. Biasanya dijemput eyangnya sebulan sekali, dan dia bisa tahu waktunya sendiri,” ujarnya sambil tersenyum.
Baca juga: Malang Autism Colors 2025, Wahyu: Kami Sangat Mengapresiasi
CEO Malang Autism Center (MAC), Mohammad Cahyadi, membenarkan bahwa setiap anak di sini mendapatkan pendampingan menyeluruh yang fokus pada pembenahan perilaku dan keterampilan dasar hidup (basic life skill). “Semua anak yang kami terima umumnya bermasalah di basic life skill,” jelas Cahyadi.
Dia mengatakan, Biasanya tiga bulan sebelum anak keluar dari MAC, orang tua harus memberitahukannya terlebih dahulu. “Rentang tiga bulan itu kita pakai untuk mempersiapkan atau melatih terapis yang akan mendampingi Alumni MAC di rumah,” jelasnya.
Hal itu dilakukan agar hasil terapi di MAC bisa diterapkan juga di rumah, agar anak yang mengalami autism setelah keluar dari MAC tidak kembali lagi. “Autisme itu sangat rentan terhadap gangguan eksternal, sehingga kesinambungan terapi sangat penting,” tutup Cahyadi.
Editor : Widodo