Menko Marves, Luhut Binsar Pandjaitan

Bandar Udara Internasional Juanda Dibuka untuk PPLN

infonews.id
Menko Marves, Luhut Binsar Pandjaitan didampingi Gubernur Khofifah (Foto: IN/tudji)

INFOnews.id | Surabaya - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves), Luhut Binsar Pandjaitan, menyatakan penerbangan keluar dan masuk Bandara Internasional Juanda Sidoarjo mulai dibuka, per hari ini Sabtu (12/3/2022).

"Ya, kalau ditanya efektifnya, bisa dua hari kedepan," kata Luhut Binsar usai pertemuan tertutup dengan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, Jumat (11/3/2022), malam di Hotel Marriot, Surabaya.

Baca juga: Pergerakan Wisatawan Tembus 19,8 Juta Lebih di Libur Nataru 2026, Gubernur Khofifah: Jatim Magnet Wisatawan

Dipastikan Bandar Udara Internasional Juanda, bisa dibuka untuk Pelaku Perjalanan Luar Negeri (PPLN), termasuk untuk ibadah Umrah dan Haji. Disebutkan, sama dengan Bandara di Bali.

"Tapi tentu akan efektif dalam satu-dua hari lagi, tunggu persiapan," sambungnya. 

Semua ketentuan yangberlaku bagi PPLN seperti di Bandara Soekarno-Hatta, Banten, dan Bandara Ngurah Rai, Denspasar, Bali, juga akan sama berlaku di Bandara Juanda.

Baca juga: Gubernur Khofifah Pastikan Mitigasi Bencana Hidrometeorologi Berjalan Optimal

"Kalau dia negatif (setelah tes antigen), bisa langsung pulang, kalau positif, ke hotel atau Asrama Haji (untuk karantina). Soal paspor, bisa on arrival, apa yang terjadi di Jakarta, sama dengan di Surabaya, sama dengan di Bali," ucapnya.

Dan, tidak menutup kemungkinan pembukaan PPLN akan disusul bandara lainnya di Indonesia, dengan tetap memperhatikan perkembangan.

"Kita lihat beberapa hari, kalau bagus, baru kita lihat yang lain. Umroh kan yang sudah terdaftar sekitar 8 ribuan yang belum," ujarnya.

Baca juga: Gubernur Khofifah Terima Kunjungan Menteri Besar Negeri Sembilan Malaysia, Ini yang Dibahas 

Sementara, soal pertanyaan status pandemi menjadi endemi, Luhut menyebut, Pemerintah Indonesia tidak ingin ikut-ikutan negara lain untuk merubah status pandemi Covid-19, menjadi endemi, harus dilakukan melalui perkembangan yang matang.

"Pakar-pakar kita juga sedang menghitung, kita tidak boleh gegabah, kehati-hatian kami tetap tinggi. Tidak usah ikut orang, karena tiap negara berbeda, kita negara kepulauan," paparnya.(inf/tji/red)

Editor : Redaksi

Photo
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru