Gus Lilur Angkat Bicara Soal Dugaan Politik Uang Muktamar NU

Reporter : Edy
Proses pelunasan tahap akhir diduga kuat dieksekusi di Hotel Fatma, Jombang, Jawa Timur. INPhoto/Pool

JAKARTA - Isu dugaan transaksi suara dalam pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) kembali memantik perhatian publik. Tokoh warga Nahdliyin, Haji Raden Mas Khalilur Rahman Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur, menyuarakan tudingan serius terkait dugaan keterlibatan Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul sebagai tokoh kunci di balik praktik tersebut.

Pernyataan itu mengemuka usai Gus Lilur menggelar pertemuan intensif selama empat jam bersama sejumlah Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) di Jakarta. Diskusi tersebut mengupas skema alokasi dana hingga lokasi yang disinyalir menjadi titik pelunasan uang muka bagi pemegang hak suara.

Baca juga: Gus Lilur: Saya Siap Hadapi Perang Pidana demi Ungkap Muktamar NU

Menurut penjelasan Gus Lilur, pembagian uang muka disinyalir berlangsung di beberapa lokasi sebelum gelaran muktamar dimulai. Sementara itu, proses pelunasan tahap akhir diduga kuat dieksekusi di Hotel Fatma, Jombang, Jawa Timur.

"Para pengurus daerah heran melihat sikap yang ditampilkan ke publik seolah-olah tidak terjadi transaksi, padahal dugaan peran sebagai perancang alur jual beli suara itu sangat kuat," ujar Gus Lilur merujuk perbincangannya dengan salah satu ketua PWNU asal Sumatra.

Baca juga: NU, Gus Dur dan Bromocorah Politik

Ia menilai narasi publik yang dibangun pihak terkait tak ubahnya panggung sandiwara untuk menutupi riak politik uang yang terlanjur membocorkan rahasia internal. Sikap berpura-pura bersih yang ditampilkan justru dipandang sebagai upaya meredam kekecewaan para pendukung dan penyokong dana.

Gus Lilur menegaskan, langkah menutupi fakta lapangan tidak akan membuahkan hasil karena wacana ini sudah menjadi konsumsi publik secara luas. Menurutnya, kepedulian terhadap integritas organisasi menjadi alasan utama mengapa dugaan penyimpangan ini harus dibuka secara transparan.

Baca juga: Gus Lilur Kembali Serukan “Ber-NU Tanpa Ber-PBNU”

"Masyarakat dan warga Nahdliyin sudah memahami dinamika yang sebenarnya terjadi. Publik sudah jenuh dengan kebohongan serta pencitraan yang dipaksakan," pungkasnya.

Disclaimer: Pernyataan dalam artikel ini merupakan klaim narasumber. Redaksi memberikan ruang klarifikasi dan hak jawab kepada pihak-pihak yang disebut.

Editor : Alim Kusuma

Photo
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru