Gus Ipang Ingatkan NU: Jangan Hanya Besar, SDM Harus Berkualitas

Reporter : Tuji Martuji
Gus Ipang Wahid mendorong Muktamar ke-35 NU melahirkan blueprint SDM unggul berbasis pesantren untuk menghadapi era AI dan perubahan global. INPhoto/FJN

JOMBANG, INFONEWS - Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Tambakberas, Jombang, diharapkan tidak berhenti pada agenda pergantian kepemimpinan dan keputusan organisasi. Forum tersebut dinilai perlu menghasilkan arah baru pembangunan sumber daya manusia (SDM) NU untuk menghadapi tantangan abad kedua.

Pakar komunikasi dan konsultan branding Gus Ipang Wahid mendorong agar transformasi pesantren menjadi salah satu agenda utama Muktamar. Ia bahkan mengusulkan penyusunan blueprint nasional pengembangan SDM unggul berbasis pesantren.

Baca juga: AI Tak Gantikan Dosen, Mantan Rektor Unitomo Tawarkan Model Baru

Menurut Gus Ipang, pesantren memiliki posisi strategis karena menjadi salah satu fondasi utama NU. Penguatan pesantren, kata dia, akan menentukan kemampuan NU dalam menyiapkan generasi yang tidak hanya kuat dalam ilmu agama, tetapi juga kompetitif di tingkat global.

“Pesantren adalah DNA-nya NU. Kalau pesantrennya layu, NU ikut layu. Tetapi kalau pesantrennya bertransformasi, NU punya peluang besar untuk memimpin peradaban,” ujar Gus Ipang dalam Workshop Pengasuh Pesantren Nasional seluruh kawasan Indonesia Tengah dan Timur di Joglo Agung Pondok Pesantren Bina Insan Cendekia, Cirebon, Jumat (7/8/2026).

Tantangan Abad Kedua NU

Gus Ipang menilai tantangan yang dihadapi NU saat memasuki abad kedua berbeda jauh dengan situasi ketika organisasi itu didirikan.

Perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), perubahan ekonomi global, kapitalisme, hingga pergeseran sumber otoritas keagamaan ke ruang digital telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi dan pengetahuan.

“Musuhnya sekarang tidak selalu terlihat. Ada di dalam kantong setiap orang: algoritma digital, kecerdasan buatan, kapitalisme global, dan pergeseran otoritas keagamaan ke layar gawai,” katanya.

Kondisi tersebut, menurut dia, membuat NU perlu mengubah cara dalam menyiapkan generasi mudanya. Pendekatan yang efektif pada masa lalu belum tentu memadai untuk menjawab persoalan masa kini.

Di tengah perubahan itu, penguasaan ilmu agama tetap menjadi fondasi. Namun, santri juga perlu memiliki kemampuan yang relevan dengan kebutuhan dunia modern.

“Santri harus tetap mutqin dalam ilmu agama. Tetapi itu baru modal dasar. Fardhu kifayah peradaban kita adalah bagaimana santri menguasai sains, teknologi, ekonomi global, bahasa internasional, dan berbagai kompetensi yang dibutuhkan dunia,” ujar Gus Ipang.

Pesantren Harus Berani Berubah

Bagi Gus Ipang, transformasi pondok pesantren tidak berarti menghilangkan tradisi. Justru, tradisi perlu diperkuat sembari membuka ruang bagi ilmu pengetahuan dan keterampilan baru.

Pesantren, menurut dia, tidak cukup hanya menjadi tempat mempertahankan pengetahuan yang sudah ada. Lembaga pendidikan Islam itu harus mampu menjadi ruang eksperimen bagi lahirnya gagasan dan inovasi.

“Pesantren harus menjadi laboratorium kemajuan, bukan museum masa lalu. Kita tidak bisa menghadapi masa depan dengan metodologi masa lalu yang statis,” tegasnya.

Ia mencontohkan Pesantren Bina Insan Mulia di Cirebon yang diasuh Kiai Imam Jazuli. Menurut Gus Ipang, pola pendidikan di pesantren tersebut memperlihatkan upaya menggabungkan tradisi keilmuan Islam dengan orientasi pendidikan global.

Pengajaran ilmu keislaman tetap dipertahankan. Namun, para santri juga diarahkan menguasai bahasa asing, teknologi, dan memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke universitas terbaik, termasuk di kawasan Timur Tengah dan Eropa.

“Di Bina Insan Mulia, nahwu-sharaf tetap diajarkan. Tetapi santri juga disiapkan untuk menembus universitas-universitas terbaik di dunia, baik di Timur Tengah maupun Eropa. Kurikulumnya fleksibel, berwawasan global, dan adaptif,” tuturnya.

Ia menekankan bahwa modernisasi pesantren tidak boleh dimaknai sebatas pembangunan gedung atau penambahan fasilitas.

“Ini bukan sekadar modernisasi fisik, misalnya mengganti gedung bambu menjadi beton. Yang lebih penting adalah transformasi epistemologis dan mentalitas,” katanya.

Dorong Blueprint SDM NU

Gus Ipang berharap Muktamar ke-35 NU menghasilkan arah kebijakan yang lebih konkret dalam pengembangan pendidikan pesantren. Salah satunya melalui penyusunan blueprint nasional yang dapat menjadi acuan pengembangan SDM berbasis pesantren.

Menurut dia, langkah tersebut diperlukan agar pengembangan pesantren tidak berjalan secara sporadis dan tanpa sasaran jangka panjang.

Targetnya bukan sekadar menghasilkan santri yang memahami kitab, tetapi juga generasi yang mampu memasuki berbagai sektor strategis.

“Kita membutuhkan jutaan santri yang fasih membaca kitab, sekaligus lihai coding, memahami geopolitik, menguasai ekonomi makro, memiliki kemampuan bahasa internasional, dan mampu berkompetisi di tingkat global,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan NU agar tidak hanya mengukur kekuatan organisasi berdasarkan jumlah warga dan jamaah. Besarnya basis sosial NU harus diikuti peningkatan kualitas manusianya.

Baca juga: MUI Jatim Gandeng Trimegah dan Danapathi Perkuat Kemandirian Ekonomi Pesantren

“Social capital NU yang sangat besar harus dikonversi menjadi human capital yang kompetitif. Kuantitas tanpa kualitas justru bisa menjadi beban sejarah,” katanya.

Menurut Gus Ipang, keberhasilan Muktamar dalam merumuskan strategi peningkatan mutu pesantren akan memberikan dampak jangka panjang bagi generasi NU.

“Kalau Muktamar Jombang berhasil merumuskan langkah taktis untuk meningkatkan mutu pendidikan pesantren, saya kira itu akan menjadi warisan yang jauh lebih besar daripada sekadar keputusan-keputusan administratif organisasi,” ujarnya.

Jangan Habiskan Energi untuk Politik Internal

Selain mendorong agenda pendidikan, Gus Ipang mengingatkan agar Muktamar NU tidak terseret terlalu jauh dalam persaingan politik internal.

Ia berharap forum di Jombang menjadi tempat untuk mempertemukan gagasan mengenai masa depan NU, bukan sekadar arena perebutan kekuasaan.

“Jombang harus menjadi panggung di mana transaksi gagasan peradaban mengalahkan transaksi kekuasaan jangka pendek,” katanya.

Menurut dia, energi organisasi yang besar semestinya diarahkan untuk menyiapkan generasi muda NU agar mampu mengisi berbagai bidang strategis, seperti teknologi, ekonomi, sains, pendidikan, diplomasi, hingga industri kreatif.

NU, kata Gus Ipang, perlu membangun ekosistem yang memungkinkan santri memiliki akses dan kapasitas untuk masuk ke sektor-sektor tersebut.

Tradisi dan Inovasi Harus Berjalan Bersama

Transformasi pesantren juga tidak boleh dimaknai sebagai upaya meninggalkan identitas ke-NU-an. Gus Ipang justru melihat kemampuan mengambil hal baru sebagai bagian dari upaya mempertahankan tradisi secara relevan.

Ia merujuk prinsip al-muhafazhatu 'alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah sebagai pijakan untuk menggabungkan warisan lama dengan inovasi baru.

“Menjaga tradisi lama yang baik hari ini berarti memperkokoh tauhid, akhlak, dan khazanah keilmuan pesantren. Tetapi pada saat yang sama, kita harus berani mengambil hal baru yang lebih baik melalui penguasaan sains, kecerdasan buatan, teknologi, dan diplomasi internasional,” jelasnya.

Baca juga: KH. Ahmad Zaki Fuad: Figur Pemersatu Disebut Jadi Kunci Menjaga Soliditas NU Menuju Muktamar

Ia membayangkan pesantren pada masa mendatang dapat melahirkan ahli AI, ilmuwan, diplomat, ekonom, inovator teknologi, hingga pemimpin industri global.

Generasi tersebut, kata dia, tetap memiliki akar keislaman yang kuat, tetapi mampu bersaing dan berkontribusi dalam persoalan global.

“Bayangkan jika satu atau dua dekade dari sekarang para ahli AI terkemuka, diplomat ulung di PBB, inovator teknologi dunia, dan pemimpin ekonomi global lahir dari rahim pesantren,” katanya.

Menurut dia, perpaduan antara kedalaman keislaman dan kompetensi global juga dapat menjadi bentuk nyata penerapan Islam rahmatan lil 'alamin.

“Di situlah Islam rahmatan lil 'alamin tidak lagi berhenti sebagai jargon mimbar, tetapi benar-benar hadir dalam aksi nyata,” ujarnya.

Muktamar Jombang Jadi Penentu

Gus Ipang menilai Muktamar ke-35 memiliki posisi penting dalam menentukan arah NU pada abad kedua. Karena itu, momentum tersebut perlu menghasilkan agenda yang dapat dirasakan dalam jangka panjang.

“Lonceng pergantian zaman sudah berbunyi nyaring dari rahim Jombang. Muktamar ke-35 tidak boleh berlalu begitu saja sebagai perayaan seremonial tanpa bekas yang substantif,” tuturnya.

Ia menyebut NU memiliki modal sosial, kultural, spiritual, dan intelektual yang besar. Tantangannya kini adalah mengubah modal tersebut menjadi kekuatan SDM yang mampu bersaing di tingkat dunia.

“NU harus memilih: tetap nyaman menjadi penonton sejarah di abad kedua atau bangkit mengambil peran sebagai sutradara peradaban dunia,” tegas Gus Ipang.

Ia pun berharap Jombang menjadi titik awal bagi lahirnya strategi baru NU dalam menyiapkan generasi masa depan.

“Sudah saatnya Jombang mengirimkan pesan kuat ke seluruh penjuru dunia: NU siap memimpin masa depan dengan iman di dada, sains di kepala, dan dunia di genggaman,” pungkasnya.

Editor : Alim Kusuma

Photo
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru