Selasa, 02 Jun 2026 12:04 WIB

Strategi Jutawan Indonesia Amankan Kekayaan Lewat Properti Sydney

Founder dan Group CEO One Global Capital, Iwan Sunito. INPhoto/Pool
Founder dan Group CEO One Global Capital, Iwan Sunito. INPhoto/Pool

JAKARTA, iNFONews.ID - Ketidakpastian ekonomi global dan volatilitas nilai tukar mata uang asing memaksa kelas menengah atas serta pengusaha Indonesia memutar otak. Langkah mengamankan kekayaan kini bergeser ke luar negeri, salah satunya melalui investasi properti Australia.

Strategi pemindahan sebagian aset ke negara sekunder ini dinilai efektif menjaga nilai kapital dari gerusan inflasi dan ketidakstabilan pasar domestik.

Merespons kebutuhan tersebut, One Global Capital menggelar "One Global Capital 2026 World Roadshow" di berbagai kota besar tanah air sepanjang Juni 2026. Rangkaian acara ini dirancang sebagai ruang edukasi, perluasan jaringan bisnis, serta konsultasi migrasi lintas negara.

Selepas dari Indonesia, ekspansi edukasi pasar modal ini bakal berlanjut ke Singapura, China, Hong Kong, Vietnam, hingga Amerika Serikat.

Dampak dari pergeseran portofolio ini tidak sekadar urusan memarkir dana di sektor properti. Bagi keluarga dan pelaku usaha di dalam negeri, langkah ini menjadi jembatan mobilitas global, termasuk akses pendidikan tinggi berkualitas bagi anak-anak mereka dan izin tinggal (residensi) jangka panjang di Australia.

Founder dan Group CEO One Global Capital, Iwan Sunito mengungkapkan bahwa perubahan peta ekonomi dunia justru melahirkan celah baru bagi individu yang berani berekspansi melampaui batas geografis.

"Saat situasi dinamis, banyak keluarga maupun pelaku usaha menginginkan stabilitas, jaringan global, dan kenyamanan iklim bisnis. Australia menyediakan perpaduan itu, yang saat ini kian relevan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia," kata Iwan dalam keterangan resminya, Selasa (2/6/2026).

Iwan, yang berpengalaman mengarsiteki proyek senilai total AUD9 miliar, kini memimpin One Global Capital mengelola pipa proyek (development pipeline) sekitar Rp50 triliun (AUD3,6 miliar).

Perusahaan menargetkan angka ini melonjak jadi Rp85 triliun (AUD6 miliar) dengan total dana kelolaan (Asset Under Management/AUM) menembus Rp14 triliun (AUD1 miliar) sebelum pergantian tahun 2026.

Beberapa portofolio di Sydney yang menjadi bukti eksekusi bisnis mereka meliputi transformasi The Grand Eastlakes yang berhasil mendongkrak pendapatan operasional bersih hingga lebih dari AUD1,9 juta.

Selain itu, tingkat hunian (occupancy rate) One Global Resorts di Green Square dan Parramatta sukses menyentuh angka 99�ngan omzet tahunan mencapai AUD15 juta.

Dua proyek masa depan lainnya yang siap berjalan adalah One Macquarie Park, kawasan terpadu berbasis konstruksi modular senilai Rp1 triliun, serta Five Dock Precinct yang diproyeksikan memiliki nilai pengembangan melampaui Rp21 triliun (AUD1,5 miliar).

Dalam agenda tatap muka ini, Iwan menggandeng putranya, Samuel Sunito selaku Director of Capital One Global Capital, untuk mengulas strategi pertumbuhan dan relasi investor. Sementara untuk urusan teknis di tanah air, koordinasi dipegang oleh Bambang Irawan, Philip Yang, dan Herman Suwito selaku perwakilan manajemen Indonesia.

Menariknya, para peserta roadshow juga bisa berkonsultasi langsung mengenai regulasi keimigrasian dengan Philip Au, seorang agen migrasi resmi terdaftar di Sydney yang memiliki rekam jejak lebih dari 20 tahun.

Kendati menawarkan potensi imbal hasil yang menggiurkan, Iwan tetap mengingatkan pentingnya kalkulasi yang matang sebelum menempatkan kapital pada instrumen luar negeri.

"Forum ini murni untuk edukasi dan berjejaring. Kami menyarankan setiap calon investor tetap mencari nasihat profesional yang independen dari sisi hukum, pajak, maupun aturan migrasi sebelum mengambil keputusan final," urai Iwan.

Baginya, inisiatif ini bukan sekadar berjualan unit hunian atau komersial, melainkan membuka ruang bagi pelaku usaha lokal agar bisa tumbuh lebih kuat dalam ekosistem global yang kian terintegrasi.

Editor : Alim Kusuma