MALANG, iNFONews.ID - Selama ini, anggaran untuk kelompok rentan sering kali habis menguap dalam ruang-ruang hotel, terjebak dalam seremoni singkat dan sosialisasi yang hanya meninggalkan tumpukan nasi kotak tanpa keberlanjutan nyata.
Namun, angin perubahan mulai berembus dari Kelurahan Penanggungan, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Mereka memilih berhenti berpesta pora di atas kertas dan mulai membangun fondasi layanan melalui Posyandu Disabilitas.
Langkah ini bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan sebuah ikhtiar untuk menghadirkan intervensi kesehatan yang benar-benar menyentuh akar rumput, terutama bagi mereka yang terhimpit keterbatasan fisik sekaligus ekonomi.
Lurah Penanggungan, Amanullah Abror, menyadari bahwa efektivitas anggaran bagi kelompok disabilitas, lansia, dan perempuan harus diukur dari dampak yang dirasakan langsung di depan pintu rumah warga.
"Kami mendorong adanya interaksi yang berlangsung secara berkala. Tahun 2025 menjadi fase pembentukan, sementara 2026 difokuskan pada pelaksanaan program secara lebih luas," ungkap Abror Sabtu (25/4/2026).
Strategi ini tidak dijalankan sendirian; pihak kelurahan menggandeng Malang Autism Center (MAC) untuk memetakan realitas di lapangan melalui pendataan yang presisi.
Hasilnya cukup mengejutkan, tercatat ada 42 penyandang disabilitas di wilayah tersebut, di mana 30 persen di antaranya merupakan disabilitas fisik dan 10 persen berada dalam spektrum autisme.
Angka-angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan potret warga dari keluarga prasejahtera yang selama ini kesulitan mengakses fasilitas kesehatan karena kendala mobilitas dan biaya.
Melalui Posyandu Disabilitas, birokrasi yang panjang dipangkas, membawa meja pemeriksaan dan pendampingan profesional langsung ke jantung pemukiman warga.
"Layanan diharapkan dapat diakses langsung di kelurahan. Program tidak berhenti pada kegiatan sesaat, tetapi dilanjutkan dengan pendataan dan asesmen sebagai dasar intervensi," tegas Abror.
Gayung pun bersambut, Founder MAC, Mohammad Cahyadi, melihat inisiatif ini sebagai langkah krusial karena penguatan mental dan fisik bagi penyandang disabilitas tidak bisa ditunda-tunda.
Cahyadi memaparkan realitas pahit bahwa biaya terapi mandiri yang mencapai Rp150 ribu hingga Rp350 ribu per sesi sering kali menjadi tembok penghalang bagi keluarga kurang mampu.
Melalui kolaborasi ini, skema dukungan donatur dikerahkan agar anak-anak dengan kebutuhan khusus bisa mendapatkan terapi intensif hingga 25 jam per minggu tanpa tercekik biaya.
Manfaatnya nyata; Jaelani, salah satu orang tua warga, mengaku sangat terbantu karena kini anaknya bisa mendapatkan pemeriksaan rutin hanya dengan berjalan kaki ke kantor kelurahan.
Ke depan, Penanggungan bermimpi menjadi wilayah ramah disabilitas yang mandiri, lengkap dengan penyediaan alat terapi serta ruang layanan yang memanfaatkan fasilitas publik yang ada.
Pintu kolaborasi pun dibuka lebar bagi sektor swasta untuk ikut menyumbangkan tangan mereka melalui program tanggung jawab sosial demi memastikan senyum warga rentan tetap terjaga. (*)
Editor : Tudji Martudji