JAKARTA, iNFONews.ID – Pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) mendatang memicu gelombang kegelisahan di kalangan nahdliyin.
HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy, yang akrab disapa Gus Lilur, secara terbuka menggugat arah organisasi yang ia nilai kian terseret ke dalam pusaran kekuasaan.
Baginya, muktamar bukan sekadar seremoni rutin, melainkan medan tarung untuk mengembalikan mandat NU ke jalur keulamaan yang murni.
Gus Lilur melihat ada pergeseran orientasi yang mengkhawatirkan. Fondasi ilmu dan akhlak yang diletakkan para pendiri kini seolah tertutup oleh ambisi politik praktis.
Ia menyebut keterlibatan aktif figur seperti Nusron Wahid hingga Saifullah Yusuf dalam dinamika internal organisasi mengaburkan batas antara entitas keagamaan dan kepentingan elektoral.
Bahkan, kepemimpinan Yahya Cholil Staquf tak luput dari bidikan evaluasi demi menjaga marwah jam’iyah.
“Ini menyangkut martabat organisasi. NU harus kita jaga agar tidak sekadar menjadi panggung bagi para politisi. Jika pembiaran terus terjadi, kepercayaan umat perlahan akan sirna,” ujar Gus Lilur saat memberikan keterangan, Rabu (15/4).
Kritik tajam juga ia sampaikan terkait fenomena "gus-gus nanggung". Kelompok ini dinilai sering memanfaatkan nama besar NU demi legitimasi pribadi dan jejaring kekuasaan, ketimbang membesarkan basis kaderisasi serta keilmuan.
Kondisi tersebut menciptakan anomali di mana sosok yang muncul ke permukaan bukan mereka yang paling alim, melainkan yang paling lihai mendekati penguasa.
Padahal, menurut Gus Lilur, stok intelektual dan figur kredibel di rahim NU sangat melimpah. Nama-nama seperti KH Bahauddin Nursalim (Gus Baha), KH Said Aqil Siradj, Nasaruddin Umar, hingga Yusuf Chudlory dianggap memiliki kapasitas keulamaan yang jauh lebih autentik untuk memimpin arah masa depan organisasi.
“Kita punya tradisi besar seperti pesantren dan bahtsul masail. Sangat disayangkan jika yang tampil hanya wajah-wajah lama karena faktor kepentingan politik, padahal NU kaya akan tokoh intelektual,” tambahnya.
Muktamar NU kali ini diharapkan menjadi ajang "cuci gudang" terhadap pengurus yang menjadikan organisasi sebagai batu loncatan jabatan.
Gus Lilur mendesak para peserta muktamar memiliki keberanian moral untuk memutus rantai ketergantungan pada kekuasaan.
Baginya, independensi adalah harga mati agar NU tetap bisa menjalankan peran sebagai pemandu moral bangsa.
Jika organisasi kian menjauh dari ekosistem intelektual dan lebih sibuk mengurus negosiasi politik, fungsi NU sebagai penyejuk umat dipastikan tergerus.
“Sudah saatnya berhenti membawa-bawa NU untuk urusan partai. Kalau ingin berpolitik, tempatnya di partai, bukan di sini. Kekuatan NU terletak pada kedalaman ilmunya. Begitu kita sibuk berpolitik, organisasi ini hanya akan berakhir menjadi alat,” pungkas Gus Lilur.
Editor : Alim Kusuma