KEDIRI, iNFONews.ID - Di balik rimbunnya perkebunan tebu lereng Gunung Kelud, 14 kepala keluarga di Kampung Onggoboyo, Desa Babadan, Kecamatan Ngancar, masih bergelut dengan kegelapan jalanan dan akses yang rusak.
Kondisi kontras ini ditemukan Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, M. Hadi Setiawan, saat menggelar Safari Ramadan di Musala An Nuur, Senin (16/3/2026).
Meski listrik rumahan mulai masuk pada 2023, akses utama sepanjang satu kilometer menuju pemukiman ini masih menyerupai lorong gelap tanpa lampu jalan.
Kondisi diperparah dengan permukaan jalan setapak yang licin dan berlumpur setiap kali hujan mengguyur kawasan perkebunan tersebut.
Legislator yang akrab disapa Cak Hadi ini menyaksikan langsung bagaimana warga menghuni bangunan tua bergaya Indis peninggalan kolonial dalam kesunyian. Ia menegaskan, status administratif lahan tidak boleh menjadi penghalang pemenuhan hak dasar warga negara.
"Sangat memprihatinkan melihat warga hidup bermasyarakat namun urusan penerangan jalan saja masih menjadi kendala besar. Aksesibilitas dan cahaya saat malam hari adalah hak dasar yang harus terpenuhi," ujar Cak Hadi di lokasi.
Persoalan utama di Onggoboyo berakar pada status lahan yang berada di bawah Hak Guna Usaha (HGU) perusahaan perkebunan.
Hal ini seringkali membuat pemerintah daerah ragu untuk menyentuh infrastruktur di sana. Namun, Cak Hadi menilai sisi kemanusiaan harus melampaui sekat birokrasi.
"Memang ini lahan HGU. Namun, jika pemangku hak tanah sudah memberikan izin pemukiman, seharusnya fasilitas penunjang bagi hajat hidup orang banyak juga dilengkapi," tambahnya.
Keluhan warga memang cukup mendalam. Panji (53), warga setempat, menceritakan perjuangannya bertahan selama 25 tahun dengan fasilitas minim.
Air bersih bahkan baru mengalir konsisten pada 2025 lalu. Kini, kegelapan jalanan menjadi ancaman keamanan bagi anak-anak sekolah.
Winarti, warga lainnya, mengaku selalu waswas jika anaknya terlambat pulang. "Jalannya rusak dan gelap gulita kalau malam. Kami hanya ingin kampung ini terang supaya anak-anak aman saat pulang," tuturnya.
Merespons keresahan itu, Cak Hadi berkomitmen segera berkoordinasi dengan pemerintah desa dan pihak terkait.
Ia melihat Onggoboyo bukan sekadar beban infrastruktur, melainkan aset yang terpendam. Bangunan kolonial yang ada di sana dinilai punya daya tarik kuat sebagai destinasi wisata sejarah.
"Kalau akses diperbaiki dan lampu jalan terpasang, kampung ini bisa menjadi desa wisata sejarah yang mandiri secara ekonomi. Ini solusi agar Onggoboyo tidak lagi terlupakan di tengah hutan tebu," pungkas politisi asal Surabaya tersebut.
Kunjungan ditutup dengan penyaluran bantuan pangan bagi warga yang tetap antusias menyambut tamu meski di tengah kondisi listrik yang kerap padam saat hujan.
Bagi warga di kaki Kelud ini, janji pengawalan regulasi dari Cak Hadi menjadi tumpuan harapan baru untuk mengusir sunyi dan gelap yang sudah puluhan tahun mereka huni.
Editor : Alim Kusuma