SURABAYA, iNFONews.ID – Tembok prasangka dan sekat organisasi perlahan runtuh di sebuah sudut Citraland, Surabaya.
Pada Senin malam (29/12), puluhan pemimpin muda dari berbagai latar belakang keyakinan berkumpul di Balai Paroki Santo Yakobus untuk satu misi: memastikan Jawa Timur tetap menjadi rumah yang sejuk bagi keberagaman.
Melalui forum bertajuk “Harmoni Dalam Kebersamaan”, para penggerak dari GP Ansor, Pemuda Muhammadiyah, Pemuda Katolik, hingga Pemuda LDII dan organisasi lainnya ini tak lagi bicara soal perbedaan teologis.
Mereka justru sibuk merancang kolaborasi nyata agar gesekan sosial di tingkat akar rumput bisa diredam lebih dini.
Pertemuan ini merupakan seri kedua setelah perjumpaan perdana mereka di Kantor PW GP Ansor Jatim pada 2024 silam.
Konsistensi ini menunjukkan bahwa upaya merawat kerukunan di Jawa Timur telah bergeser, dari sekadar slogan menjadi sebuah budaya organisasi yang berkelanjutan.
Melawan Ego dengan Perjumpaan Musaffa Safril, Ketua PW GP Ansor Jawa Timur yang memandu jalannya dialog, menekankan bahwa kedamaian tidak muncul secara instan dari atas langit.
Menurutnya, harmoni adalah hasil dari kerja keras orang-orang yang mau meluangkan waktu untuk bertemu secara fisik.
"Ini wujud kesadaran kolektif kami. Harmoni dalam keberagaman tidak cukup hanya diteriakkan lewat pengeras suara, tapi harus kita rawat melalui perjumpaan, dialog, dan kerja sama nyata di lapangan," ujar Safril di hadapan para tokoh lintas iman.
Bagi para pemuda ini, duduk satu meja adalah cara paling efektif untuk mengikis kecurigaan. Hal ini diamini oleh Ketua Pemuda Katolik Jawa Timur yang bertindak sebagai tuan rumah.
Ia menilai bahwa perdamaian dimulai dari kemauan untuk membuka telinga dan hati bagi mereka yang berbeda keyakinan.
"Saat anak muda dari latar belakang berbeda mau duduk melingkar dan saling mendengar, di situlah benih persaudaraan sejati benar-benar tumbuh dan mengakar," tuturnya.
Mengikis Prasangka Sejak Dini Senada dengan visi tersebut, Ketua PW Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur melihat dialog lintas organisasi ini sebagai langkah strategis untuk membersihkan residu prasangka sosial.
Baginya, pemahaman yang tuntas antar-kelompok agama merupakan fondasi utama sebelum melangkah ke arah kemajuan masyarakat yang lebih besar.
"Dialog lintas iman ini membuka ruang bagi kita untuk saling memahami. Ketika prasangka sudah terkikis, kolaborasi pemuda untuk kemajuan Jawa Timur akan berjalan jauh lebih kuat dan berkelanjutan," jelasnya.
Pertemuan yang berlangsung hangat hingga malam usai ini melahirkan komitmen baru: pemuda lintas agama harus menjadi garda terdepan dalam menciptakan suasana inklusif.
Mereka sepakat bahwa kedamaian di Jawa Timur adalah tanggung jawab bersama yang harus dijaga melalui aksi-aksi kecil yang bermakna, memastikan kehidupan sosial yang rukun dan beradab bukan lagi sekadar impian.
Editor : Alim Kusuma