Sabtu, 31 Jan 2026 01:56 WIB

Jaga Pesisir, Anak-Anak Bawean Kumpulkan Hampir 1 Ton Sampah

  • Siswa SDIT Al Huda Bawean bersama warga Desa Lebak, Sangkapura, Gresik, turun ke pantai dalam aksi nyata bertajuk Children Environmental Action. INPhoto/Ecoton

    Siswa SDIT Al Huda Bawean bersama warga Desa Lebak, Sangkapura, Gresik, turun ke pantai dalam aksi nyata bertajuk Children Environmental Action. INPhoto/Ecoton

  • Aksi ini bukan sekadar membersihkan, tetapi menanamkan kepedulian lingkungan sejak dini pada generasi muda Bawean.

    Aksi ini bukan sekadar membersihkan, tetapi menanamkan kepedulian lingkungan sejak dini pada generasi muda Bawean.

  • Hanya dalam satu kegiatan, mereka berhasil mengumpulkan hampir 1 ton sampah (945 kg), didominasi oleh plastik sekali pakai.

    Hanya dalam satu kegiatan, mereka berhasil mengumpulkan hampir 1 ton sampah (945 kg), didominasi oleh plastik sekali pakai.

  • Temuan ini mengejutkan: sampah saset makanan yang diperkirakan berasal dari tahun 1989 dan sisa obat-obatan berbahaya ikut terangkat.

    Temuan ini mengejutkan: sampah saset makanan yang diperkirakan berasal dari tahun 1989 dan sisa obat-obatan berbahaya ikut terangkat.

  • Anak-anak Bawean kini menjadi agen perubahan, melindungi ekosistem pesisir mereka sendiri.

    Anak-anak Bawean kini menjadi agen perubahan, melindungi ekosistem pesisir mereka sendiri.

GRESIK, iNFONews.ID - Puluhan siswa SDIT Al Huda Bawean bersama warga Desa Lebak, Sangkapura, Gresik, turun ke pantai dalam aksi nyata bertajuk Children Environmental Action. Aksi ini bukan sekadar membersihkan, tetapi menanamkan kepedulian lingkungan sejak dini pada generasi muda Bawean.

Hanya dalam satu kegiatan, mereka berhasil mengumpulkan hampir 1 ton sampah (945 kg), didominasi oleh plastik sekali pakai. Temuan ini mengejutkan: sampah saset makanan yang diperkirakan berasal dari tahun 1989 dan sisa obat-obatan berbahaya ikut terangkat. Ini menunjukkan betapa lamanya sampah plastik bertahan, mengancam kesehatan anak-anak yang bermain di pantai.

Kepala Sekolah SDIT Al Huda Bawean, Rissky Wahyu Saputra, menyebut 60-70% sampah berasal dari aktivitas warga, sementara sisanya sampah kiriman. "Pantai ini adalah tempat bermain anak-anak. Jika tidak dipantau, kami khawatir zat berbahaya terus mengenai mereka," ujarnya, menekankan urgensi pengelolaan yang lebih baik.

Manajer Ecoton, Alaika Rahmatullah, menyoroti kegagalan sistemik ini dan mendesak produsen menerapkan Extended Producer Responsibility (EPR) agar tidak melimpahkan beban sampah kepada masyarakat dan pemerintah desa.

Aksi ini menjadi pengingat keras bagi semua pihak: menjaga keindahan Bawean bukan hanya tanggung jawab desa, tetapi juga produsen dan seluruh warga. Anak-anak Bawean kini menjadi agen perubahan, melindungi ekosistem pesisir mereka sendiri.

Editor : Alim Kusuma