Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pun berharap HPSN dapat menjadi pengingat bagi semua pihak bahwa masalah sampah harus menjadi perhatian utama, didukung oleh sejumlah upaya penanganan dan pengelolaan sampah. Reporter : Patrick Cahyo Lumintu

SURABAYA, iNFONews.ID – Hari Peduli Sampah Nasional yang jatuh pada tanggal 21 Februari 2024, telah menjadi agenda tahunan di Indonesia. Agenda ini disebut sebagai Bulan Peduli Sampah Nasional 2024.

Mengutip dari situs resmi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), tema yang diusung oleh Hari Peduli Sampah Nasional 2024 adalah "Mengatasi Tantangan Sampah Plastik dengan Pendekatan Produktif."

Dalam kolaborasi dengan kementerian, lembaga, Pemda, produsen, pelaku usaha, organisasi masyarakat sipil, komunitas, asosiasi, perguruan tinggi, mahasiswa, dan pelajar, KLHK bersama mitra melaksanakan beragam kegiatan pendukung sepanjang bulan Februari dan Maret 2024, termasuk puncak acara Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional 2024.

Selain itu, rangkaian kegiatan menarik lainnya seperti pameran, dialog, talk show, Aksi Bersih Negeri di Jakarta, Tanam Pohon di seluruh Indonesia, dan zero waste adventure camp di Taman Nasional Gunung Merbabu juga turut diselenggarakan.

Puncak acara HPSN 2024 akan ditandai dengan pengumuman pemenang dan seremoni penyerahan hadiah untuk Kompetisi Konten Kreatif HPSN 2024, yang dijadwalkan berlangsung pada minggu terakhir bulan Maret 2024 di Gedung Manggala Wanabakti.

Menurut United Nations Environment Programme (UNEP), tanpa adanya tindakan pencegahan terhadap polusi plastik, proyeksi menunjukkan bahwa volume sampah plastik yang masuk ke ekosistem akuatik dapat meningkat hampir tiga kali lipat pada tahun 2040.

Pada tahun 2016, jumlah polusi plastik mencapai 9-14 juta ton dan diprediksi dapat meningkat menjadi 23-27 juta ton pada tahun 2040.

Hari Peduli Sampah Nasional diperkenalkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia sebagai wujud komitmen untuk meningkatkan kesadaran dan keterlibatan aktif dalam pengelolaan sampah di seluruh negeri.

Inisiatif ini muncul sebagai respons terhadap insiden serius pada tanggal 21 Februari 2005, di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat.

Kejadian tersebut melibatkan longsornya tumpukan sampah setinggi 60 meter dan panjang 200 meter akibat ledakan gas metana yang dilepaskan dari tumpukan sampah, menciptakan tragedi dampak besar yang memicu perlunya upaya kolektif untuk mengatasi masalah sampah secara lebih efektif.

Dampaknya, akibat longsor sampah tersebut, dua pemukiman, Kampung Cilimus dan Kampung Pojok, yang terletak sekitar 1 km dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah, mengalami penimbunan sampah yang menyebabkan kematian 157 orang.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pun berharap HPSN dapat menjadi pengingat bagi semua pihak bahwa masalah sampah harus menjadi perhatian utama, didukung oleh sejumlah upaya penanganan dan pengelolaan sampah.

Reporter : Patrick Cahyo Lumintu

Editor : Alim

Berita Terbaru