Sabtu, 31 Jan 2026 06:44 WIB

Indah Kurnia Ungkap Bahaya Inflasi Jika Tidak di Tekan

Anggota DPR RI Komisi XI, Indah Kurnia bersama Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Budi Hanoto, saat Focus Group Discussion (FGD) di Hotel Papilio, Surabaya, Kamis (9/3/2023). INPhoto/Alim
Anggota DPR RI Komisi XI, Indah Kurnia bersama Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Budi Hanoto, saat Focus Group Discussion (FGD) di Hotel Papilio, Surabaya, Kamis (9/3/2023). INPhoto/Alim

INFONews.id I Surabaya - Anggota Komisi XI DPR RI Indah Kurnia menjadi pembicara dalam Focus Group Discussion (FGD) bersama Bank Indonesia (BI) di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (09/3/2023). 

Selain Indah Kurnia, FGD yang diikuti perwakilan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kalurahan (LPMK), hingga RT/RW Surabaya ini juga dihadiri Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Budi Hanoto, dan Pemerhati Ekonomi, Paring Waluyo.

FGD berjalan hangat. Ketiga tokoh itupun memaparkan materi dengan sangat gamblang. Materi fokus pada tema yang disung, yakni "Identifikasi Potensi Ekonomi Daerah Untuk Mengatasi Inflasi".

Dalam kesempatan ini, Indah Kurnia mengungkapkan bahaya Inflasi jika tidak ditekan. Menurutnya, pemahaman terkait inflasi harus dipahami oleh seluruh masyarakat hingga lapisan bawah. "

Inflasi harus dijaga karena jika tidak dijaga maka negara bisa koleps," ungkapnya.

Untuk menekan inflasi, kata Indah, tidak bisa dilakukan oleh pemerintah saja. Namun peran masyarakat, termasuk LPMK dan RT/RW sebagai penggerak arus bawah sangat dibutuhkan.

Untuk itu, Indah Kurnia mengajak perangkat desa mulai dari tingkat Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kalurahan (LPMK), hingga RT/RW supaya gotong royong menjaga stabilitas ekonomi bangsa Indonesia. 

"RT/RW merupakan ujung tombak perekonomian nasional," tegasnya. Legislator Daerah Pemilihan Jawa Timur 1 (Surabaya & Sidoarjo) tersebut menyampaikan, selama ini pemerintah dan Komisi XI DPR RI sudah bekerja keras agar perkonomian negara stabil.

Disisi lain, jika masyarakat dibawah tidak ikut mendukung maka kerja keras DPR dan pemerintah juga tidak akan berdampak maksimal.

Untuk itu, pemahaman tentang bahaya inflasi yang selama ini menjadi momok harus juga dipahami oleh masyarakat.

Untuk membantu negara, lanjut Indah, LPMK dan RT/RW bisa dengan melakukan kerja-kerja nyata, kerja-kerja baik diranah yang kecil. Sehingga terwujud small and beautiful, RT/RW kecil tapi cantik. 

Ia mengungkapkan, program-program RT/RW di kota Surabaya selama ini sudah cukup baik. Salah satunya dengan adanya program kompetisi sehat untuk memperbaiki RT/RW yang dicetuskan Tri Rismaharini saat menjabat sebagai Walikota Surabaya. Saat ini, program tersebut diteruskan oleh Walikota Surabaya Eri Cahyadi.

"Jika RT nya cantik, ekonominya baik, dan inflasinya rendah, maka tidak menyumbang inflasi Surabaya. Jangan sampai kita menjadi penyumbang yang kurang baik. Kita jadi penyumbang yang baik-baik saya untuk bangsa Indonesia," tuturnya.

Dalam kesempatan ini, Indah Kurnia juga mengingatkan supaya berhati-hati maraknya tawaran investasi bodong. Kemudahan-kemudahan dalam mendapatkan uang tersebut bisa saja menjadi jebakan yang menjerumuskan.

Disini, peran RT/RW sangat dibutuhkan. Ia pun siap mendatangi kampung-kampung di Surabaya dan Sidoarjo untuk melakukan edukasi dan literasi keuangan.

Indah optimis, jika seluruh perangkat desa di kota Surabaya ini ikut turun tangan dalam sektor ekonomi, maka perekonomian stabil. Apalagi saat ini Jawa Timur merupakan penyumbang perekonomian nasional terbesar kedua setelah DKI. 

 

Sementara itu Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Budi Hanoto, mengungkapkan bahwa inflasi merupakan momok terbesar dalam perekonomian setiap bangsa, termasuk Indonesia.

Inflasi adalah sebuah fenomena peningkatan sekelompok barang-barang yang meningkat dari tahun ke tahun. Kalau ada inflasi maka harga pasti naik.

Jawa Timur, kata dia, saat ini tingkat inflasinya 6,47 persen, lebih tinggi dari nasional dan ke 5 tertinggi dari semua provinsi di Indonesia. Dari 6,47 itu, makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang terbesar.

Selain itu biaya Pendidikan juga penyumbang inflasi. Budi mengingatkan, menjelang Ramadan dan Idul Fitri ini masyarakat harus waspada terhadap inflasi di Jawa Timur. Karena daging ayam ras, telor ayam ras, angkutan udara, bawang merah dan cabe merah diprediksi naik. 

"Point ini akan naik menyusul permintaan pasar yang tinggi. Maka belanjalah sesuai kebutuhan, gak berlebihan," kata dia seperti dikutip dari iNewsSurabaya.id

Untuk mengendalikan inflasi, Budi menjelaskan bahwa ada beberapa langkah yang bisa dilakukan. Diantaranya mengoptimalkan pekarangan rumah tangga, dukungan pemerintah untuk budidaya pangan mandiri, gerakan mini green house, hingga kampanye belanja bijak.

Bank Indonesia sendiri berperan dalam pengendalian inflasi dengan berfokus pada pencapaian sasaran tunggal, yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai mata uang terhadap barang dan jasa yang tercermin pada perkembangan laju inflasi.

Bank Indonesia bersama dengan Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP & TPID) terus berkomitmen dalam menjaga terkendalinya inflasi nasional.

Hal tersebut diwujudkan melalui gelaran Sinergi Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (Gernas PIP).

Gernas PIP menjadi langkah komitmen bersama untuk mengoptimalkan langkah-langkah pengendalian inflasi dari sisi suplai dan mendorong produksi guna mendukung ketahanan pangan secara integratif, masif, dan berdampak nasional.

Mencakup Perluasan Kerjasama Antar Daerah, Komitmen penyelenggaraan Operasi Pasar daerah rentan gejolak inflasi di wilayah Jawa, serta Implementasi Gerakan urban farming dan digital farming. 

Budi menjelaskan, untuk menekan inflasi, BI punya jurus 4 K. Pertama, keterjangkauan harga.

"Ini dilakukan dengan operasi pasar. Saat harga mulai naik maka dinas pertanian akan turun tangan. Barang-barang apa yang naik jadi harus tepat sasaran," kata Budi.

Kemudian ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi dan komunikasi yang efektif.

Dalam kesempatan yang sama, Pemerhati Ekonomi, Paring Waluyo, mengajak LPKM dan RT/RW kota Surabaya agar melihat potensi dilingkungannya masing-masing dengan mengalang gerakan menanam.

Jika ada lahan sempit bisa dimanfaatkan untuk bertani. Antar RT bisa berkoordinasi tanaman apa yang bisa di budidayakan.

Sehingga produk pertanian tidak sama. Misal, RT satu menanam cabe dan RT lainnya menanam tomat.

"Gerakan menanam ini penting. Wilayah RT/RW bisa dibagi akan menanam apa. Itu nanti bisa dipertukarkan," ucapnya.

Editor : Alim Kusuma